
🍁🍁🍁
Setiap malam begitu terasa sepi di kamar yang selalu tempat Andrian dan Nayra tiduri, hampir Andrian tak pernah tidur di sana selama Nayra koma. Dia tidur di kamar anaknya sambil menjaga bayinya yang masih balita.
Tapi entah kenapa Andrian ingin sekali masuk ke kamar itu, begitu banyak kenangan di dalam kamar membuatnya tertarik masuk ke sana malam ini. Dia membuka pintunya, terlihat sedikit berdebu karena dia tak pernah masuk ke dalam sana.
Karena sudah menidurkan anak-anaknya Andrian ada waktu sendiri malam ini. Dia membaringkan tubuhnya di kasur yang sering ia tiduri bersama istirnya.
"Sangat nyaman sekali berada di sini," seru Andrian sambil memejamkan matanya. Bayangan Nayra melekat di pikirannya ketika memejamkan matanya. Dia merasakan Nayra sedang berada disampingnya.
"Kapan kamu kembali? Kamar ini begitu berdebu setelah kamu tak lagi berada di sini? Aku rindu dengan pelukan mu setiap malam ketika kita tertidur. Aku merindukan semuanya."
Bahkan karena begitu lelah dan begitu mengantuk di sana, Andrian jadi kelolosan tertidur di sana. Dia merasakan Nayra berada di sampingnya membuatnya begitu nyaman dan nyenyak tidur, mungkin itu memang Nayra yang datang menemui suaminya.
Pagi-pagi Andrian sudah bersiap-siap ke kantor. Tidak seperti kemarin, sekarang mamanya yang akan menjaga anak-anaknya di rumah. Jadi ia bisa kerja dengan tenang.
Di penjelasan suara ponselnya berdering. Dia pun mengangkat telponnya sambil tetap mengendarai mobilnya.
Telpon.
"Hallo! Apa benar ini Tuan Andrian?" tanya seseorang wanita yang berada di sebrang sana.
"Iya, Saya sendiri. Ada apa?"
"Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa istri Anda sudah siuman dari komanya."
Seketika Andrian langsung menghentikan mobilnya secara mendadak. Kabar itu membuatnya begitu senang, ada gejolak bahagia dan tak sabar akan menemui istrinya.
"Ini serius?" Andrian bertanya sekali lagi.
"Benar Tuan! Pasien baru siuman, sekarang dia sedang di periksa secara intensif."
"Baik-baik saya segera ke sana, terima kasih informasinya."
Cepat-cepat Andrian melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Dia begitu tak sabar menemui istrinya setelah begitu lama koma.
Setibanya di rumah sakit, Andrian langsung masuk ke dalam ruangan Nayra. Terlihat Nayra sedang duduk di tempat tidurnya sambil sedang mengobrol dengan dokter.
Setelah dokternya pergi dari sana. Andrian langsung menuju ke arah Nayra. Dia langsung memeluknya tetapi ketika ingin memeluk Nayra malah menghindar darinya.
"Kamu siapa?" tanya Nayra seperti tak mengenali Andrian.
"Maksud kamu apa? Aku suamimu, Andrian."
"Aku tidak ingat itu, aku lupa dengan semuanya, aku juga lupa dengan nama ku sendiri."
"Apa yang sudah terjadi sampai kamu melupakan aku dan nama mu sendiri?"
"Apa kamu ingat Alden? anak kita. Mama dan Papa?" tanya lagi Andrian, siapa tau Nayra mengingat hal itu.
"Aku juga tak ingat itu."
Nayra memegang kepalanya karena merasa begitu pusing, dia berusaha untuk mengingat semuanya tapi tetap saja tak ada satupun ingatannya kembali, malah dia pusing dan mual bila memaksakan otaknya mengingat sesuatu."
"Arghhhh~ kepala ku sakit, aku tak mengingatnya!!" Nayra menangis kesakitan, dia begitu benar-benar tak ingat semuanya.
Andrian langsung memeluk istrinya untuk menenangi nya. Ada rasa begitu tenang dan nyaman ketika mendapat pelukan dari pria yang ada di depannya. Ingin dirinya menolak pelukannya tapi pelukannya memberi keamanan untuk dirinya.
"Kamu jangan memaksa untuk mengingat semuanya, yang terpenting sekarang kamu sudah siuman dan itu cukup buatku bahagia."
Andrian mengelus-ngelus rambut istirnya, lalu mencium puncak kepalanya membuat Nayra refleks melepaskan pelukan Andrian.
"Maaf! Aku tak nyaman bila kamu memelukku seperti tadi."
Dia berbohong karena tak merasa enak, dia tak mengingat semuanya jadi dia ragu untuk mempercayai pria ini.
"Baik aku tak akan seperti itu lagi, aku akan sabar menunggu mu sampai kau ingat semuanya."
Andrian meninggalkan Nayra sendirian di ruangan itu, dia menuju ke ruang dokter untuk menanyakan kenapa istrinya bisa seperti itu.
"Dok! Kenapa istri saya tak mengingat semuanya? Bahkan namanya saja dia tak ingat."
"Istri Anda mengalami lupa ingatan sementara, sebab terjadi benturan yang sangat kuat di kepalanya hingga tak mengingat semua kejadian yang pernah dia alami, bahkan dia tak akan mengingat namanya sendiri."
"Apa bisa sembuh?"
"Tenang saja Tuan, ini hanya sementara saja, bila sering dilatih untuk mengingat masa lalunya maka cepat akan kembali sembuh tapi jangan terlalu memaksakan pasien, karena dia akan mengalami pusing yang berat bila memaksakan sesuatu yang belum bisa dia ingat sama sekali."
"Apa butuh waktu lama?"
"Seperti yang saya katakan barusan, tergantung pasien melatih dirinya untuk mengingat masa lalunya maka proses sembuhnya akan cepat tapi kalau tidak maka butuh waktu lama untuk kembali pulih seperti biasa."
Jelas dokter itu secara ditail. Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, Andrian kembali menemui istrinya.
"Bagaimana keadaan mu sekarang? Apa ada yang terasa sakit?"
"Kenapa ada jahitan di perutku?"
"Kamu baru saja selesai melahirkan."
"Melahirkan?" Nayra begitu kaget.
"Iya, dia sudah berumur satu bulan semenjak kamu koma, dia begitu merindukan mu. Semenjak lahir dia tak mendapatkan asi maupun kasih sayang dari Mamanya."
"Apa aku koma selama itu?" tanya lagi Nayra, karena tak mungkin dia bisa mengingat berapa lama dia koma.
"Hm! Selama itu kamu tidur, sampai aku hampir menyerah dengan keadaan mu."
"Maafkan aku!" ada rasa menyesal karena tak mengingat apa-apa.
"Maaf untuk apa?"
"Aku begitu merepotkan mu. Bahkan sampai saat ini aku tak bisa mengingat semuanya," tampak wajah penyesalan dari raut wajahnya.
"Kamu kembali sadar saja aku sudah sangat bersyukur dan berterima kasih. Itu sudah lebih dari cukup untuk ku saat ini. Tentang kamu tak mengingat apa-apa, aku akan membantu mu agar secepatnya mengingat semuanya.
Terlihat ada tuan Wijaya dengan istrinya serta Alden dan bayi kecilnya Nayaka datang ke sana. terlihat wajah yang tak asing Nayra rasakan, tapi dia begitu tak mengingat semuanya.
"Mama___" Alden memeluk mamanya membuat Nayra begitu terkejut karena anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan "Mama".
"Kenapa Nayra seperti terlihat bingung An?" tanya tuan Wijaya yang memperhatikan raut wajah menantunya itu.
"Nayra mengalami lupa ingatan, jadi dia tak mengenal kita semua bahkan namanya saja dia lupa."
"Apa? Nayra lupa ingatan?" nyonya Kumala terkejut mendengar itu.
"Malang sekali menantuku satu ini, setelah mendapatkan cobaan dari maut dia sekarang lupa ingatan, pasti sangat berat untuk menghadapinya."
Nayra yang bingung siapa anak kecil itu, langsung melirik Andrian untuk menyakan siapa anak kecil ini. Dengan isyarat Andrian mengatakan bahwa itu Alden anak mereka.
"Akhirnya Mama bangun, Alden sangat rindu sama Mama."
"Mama juga rindu dengan kamu!"
Entah naluri dari mana Nayra mengatakan itu, dia begitu sangat merasakan kenyamanan di dalam pelukan anak ini.
"Mama janji tak akan tidur terlalu lama?"
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^