
🍁🍁🍁
"Sayang, ini Mama... Apakah kamu mendengar suara Mama, Sayang..." ucap Nayra memegang tangan Alden yang terdapat infus.
Nayra masih setia memegangi tangan anaknya yang lemas itu. Nayra tersenyum kecut melihat kondisi anaknya seperti itu.
"Nay..." Baim yang masih ada di situ memegang bahu Nayra membuat Nayra menjadi terkejut.
"Iya..." Nayra menoleh ke arah Baim.
"Sebaiknya kamu lihat dulu keadaan Andrian sana, kasihan dari tadi tak ada yang menemaninya di ruangannya."
"Astaga! Aku lupa kalau Pak Andrian tak ada yang menemaninya," ucap Nayra. "Tapi bagaimana dengan Alden? Kalau nanti dia bangun lalu mencari ku gimana?"
Nayra masih belum tega meninggalkan anaknya walaupun hanya sebentar.
"Kamu tenang saja, aku ada di sini. Kalau Alden bangun dan mencarimu nanti aku akan memberitahumu, lagipula kata dokter Alden mungkin akan bangun besok pagi jadi kamu nggak usah khawatir seperti itu untuk meninggalkan Alden," jelas Baim.
"Baik kalau gitu, aku titip Alden ke kamu ya. Aku mau lihat kondisi Pak Andrian dulu."
Nayra keluar dari ruangan itu lalu menuju ke ruangannya Andrian. Sedangkan Baim yang melihat Nayra pergi dari sana hanya tersenyum kecut. Ia masih belum ikhlas bila Nayra akan didapatkan oleh laki-laki lain tapi mau bagaimana lagi ia tak boleh egois seperti ini.
Ketika Nayra sampai di ruangan Andrian, Nayra tak menemukan Andrian di sana, malah ia hanya menemukan suster yang sedang merapikan ruangan itu.
"Sus! Di mana orang yang ada di kamar ini?" tanya Nayra kepada suster itu.
"Baru saja orang itu pulang dari sini," jawab suster itu.
"Tapi bukannya orang tadi baru selesai mendonorkan darah? Kenapa pihak rumah sakit mengizinkannya untuk pulang?" tanya lagi Nayra.
"Mas tadi begitu kekeh untuk pulang, padahal terlihat wajahnya masih begitu pucat karena bekas darah yang lumayan dia ambil tadi," jelas suster itu.
"Lalu siapa bersamanya pulang?"
"Saya lihat Mas tadi pulang sendirian."
"Astaga! Kenapa pria itu begitu keras kepala? Apa dia tidak memikirkan tentang kondisinya saat ini tapi kenapa dia langsung pulang begitu saja. Padahal ia belum pulih total. Mana lagi dia tak memberitahu ku untuk pulang," gumam Nayra dalam hatinya sambil memijat kepalanya yang merasa pusing.
"Terima kasih Suster atas informasinya."
"Sama-sama Buk, kalau gitu saya permisi dulu," ujar suster itu lalu pergi dari ruangan itu meninggalkan Nayra sendirian.
Nayra yang masih khawatir dengan kondisi Andrian langsung tanpa berpikir panjang menelpon Andrian. Gengsinya selama ini ia buang jauh-jauh untuk hanya sekedar menelpon Andrian.
Tut... tut... tut...
Nayra berulang kali menelpon Andrian tapi Andrian sama sekali tak mengangkat telponnya. Hingga ke tiga kalinya Nayra menelpon dan akhirnya Andrian mengangkat telponnya dari serbang sana.
Telpon.
Nayra :
Hallo...
Andrian :
Hm...
Nayra :
Pak Andrian kenapa tidak memberitahu saya kalau Bapak pulang?
Andrian :
Aku tak tega menganggu mu bersama anak mu, jadi aku langsung pulang saja tanpa mengabarimu.
Nayra :
Tapi kondisi Bapak masih belum sehat total, kenapa Bapak harus pulang malam-malam seperti ini?
Andrian :
Aku tak suka dirawat di rumah sakit, lagian kenapa kalau aku pulang malam-malam? Lagian aku sudah merasa lebih baik.
Nayra :
Di sebrang sana terlihat Andrian tersenyum-senyum dengan perkataan Nayra barusan. Rasa hatinya begitu berbunga-bunga membuat pusingnya tadi langsung hilang gara-gara perkataan Nayra.
Nayra :
Kenapa Bapak diam saja? Apakah Bapak kenapa-napa? (terdengar suara Nayra begitu panik)
Andrian :
Apakah kamu sedang mengkhawatirkan ku hm...?
Jlep!
Jantung Nayra berdetak dengan cepat mendengar pertanyaan Andrian. Ia juga heran kenapa ia mengatakan itu barusan pada laki-laki ini.
Nayra :
I-itu saya hanya khawatir dengan kondisi Bapak saja. Bila bukan Bapak yang mendonorkan darah kepada anak saya, mungkin malam ini anak saya tak bisa diselamatkan. Jadi saya harus membalas budi ke Bapak atas semua yang Bapak korbankan ke anak saya.
Andrian :
Kamu tak perlu merasa berhutang budi kepadaku. Aku sudah anggap Alden anakku jadi kamu tak usah merasa tak enak kan seperti itu.
Di sebrang di rumah sakit Nayra tersenyum kecut mendengarkan perkataan Andrian. Memang benar dia anakmu tapi kamu belum menyadarinya saja.
Nayra :
Kalau gitu saya tutup dulu telponnya. Jangan lupa jaga kesehatan Bapak biar Bapak tak sakit.
Andrian :
Baik, kamu juga jangan lupa jaga kesehatanmu. Selamat malam!
Tut... tut... tut...
Mereka berdua mengakhiri pembicaraannya lewat telpon tadi. Nayra menaruh ponselnya di dada ketika selesai menelpon tadi. Ia senyum-senyum sendiri ketika Andrian mengucapkan selamat malam padanya dengan suara yang begitu romantis.
Sedangkan Andrian yang masih berada di perjalanan pulang hanya senyum-senyum ketika selesai menelpon tadi. Bahkan sampai di rumah senyuman Andrian tak henti-hentinya tersenyum.
"Andrian! Dari mana saja kamu? Kenapa kamu baru pulang?" tiba-tiba saja entah dari mana tuan Wijaya sudah ada di depan Andrian sekarang ini.
"Papa! Kenapa Papa belum tidur sudah jama segini?" Andrian malam kembali bertanya kepada papanya. Sebab jam sudah menunjukkan pukul satu pagi.
"Papa harusnya bertanya kenapa kamu pulang selarut ini? Kata sekretaris mu kalau kamu tak datang ke kantor hari ini."
"I-itu sebenarnya Andrian ada urusan penting di luar."
"Urusan penting apa sehingga kamu tak datang ke kantor dan tak meeting dengan klien mu. Untung saja Papa yang menggantikan mu tadi untuk menemui kliennya."
"Jadi Papa belum tidur karena Papa ingin tau Andrian habis dari mana?" tanya Andrian.
"Papa tak suka bila kamu meninggalkan tanggung jawab mu seperti ini. Bila penting, setidaknya kamu mengabari sekretaris mu kalau kamu tidak bisa dapat ke kantor."
"Maaf Pah! Andrian mengaku salah, tapi ada keadaan mendesak membuat Andrian tidak datang ke kantor dan lupa untuk mengabari orang di kantor bahwa Andrian tidak bisa masuk ke kantor hari ini.
"Memangnya ada apa sehingga hari ini kamu tidak masuk ke kantor?"
Andrian pun menceritakan semua kejadian yang ia lihat hari ini. Dari kecelakaan Alden anaknya Nayra sampai ia mendonorkan darah kepada Alden.
"Lalu bagaimana keadaan anak itu? Apakah dia sekarang lebih baikan?" tanya tuan Wijaya agak sedikit cemas dan prihatin.
Walaupun tuan Wijaya tak pernah menemui anak itu tapi ia merasakan kepedihan ketika anak itu mengalami musibah. Kekesalan tuan Wijaya tadi kepada Andrian langsung memudar ketika mendengar alasan Andrian.
"Sebelum pulang tadi Andrian melihat kondisi Alden masih belum sadarkan diri, mungkin pengaruh bekas operasi membuatnya belum sadar. Tapi keadaannya sudah lebih baik dari sebelum dioperasi tadi."
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^