
🍁🍁🍁
Nayra diam sejenak. Apa benar perkataan Andrian bahwa dia menunggu-nunggunya selama ini?.
"Aku hanya minta satu hal ke Bapak, tolong jangan ganggu saya lagi. Saya sudah berusaha untuk melawan takdir ini selama lebih 5 tahun, jadi jangan rusak kebahagiaan saya lagi," ujar Nayra dengan lirih.
"Maksud kamu apa?" tanya Andrian.
"Saya minta tolong ke Bapak agar tak menganggu saya lagi dan Alden. Cukup sudah Bapak berikan saya penderitaan kurang lebih 5 tahun itu."
"Aku tak bisa meninggalkan begitu saja kamu dan Alden. Aku sudah lama mencari tahu siapa wanita malam itu, dan aku sudah menemukan nya jadi aku tak akan melepaskannya."
"Bapak jangan egois seperti itu."
"Aku bukan tipe laki-laki yang begitu saja meninggalkan tanggung jawabku. Kamu dan Alden anak kita, itu adalah tanggung jawabku. Jadi tolong jangan menghalangi ku untuk membahagiakan kalian."
Nayra langsung menatap dalam mata Andrian. Ia sedang mencari kebenaran dalam ucapan Andrian dari matanya, dan memang terlihat jelas mata Andrian berkaca-kaca mengatakan itu.
"Berikan aku satu kesempatan untuk membuktikannya kepadamu. Aku mohon beri aku kesempatan untuk menjadi Ayah yang baik untuk Alden, jangan lagi pisahkan aku dengan darah daging ku sendiri," Andrian terlihat memelas meminta tolong kepada Nayra.
Ketika di tengah pembicaraan mereka. Terlihat seorang suster menghampiri mereka berdua.
"Apakah benar Ibu adalah Mamanya Alden?" tanya suster itu.
"Iya, saya Mamanya Alden," jawab Nayra.
"Alden mencari Ibu dari tadi. Dia tidak mau meminum obatnya bila bukan Anda sendiri yang meminumkannya."
"Baiklah! Saya akan segera ke sana, terima kasih Suster atas informasinya."
"Sama-sama Buk! Kalau gitu saya permisi dulu," suster itu pun pergi dari sana setelah memberitahu Nayra.
Sedangkan Nayra langsung saja meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan pada Andrian. Bahkan pembicaraan mereka belum selesai.
Sedangkan Andrian juga pergi dari sana mengikuti Nayra, ia juga ingin melihat anaknya setelah sekian lama.
"Mama..." teriak Alden ketika melihat Mamanya masuk ke dalam ruangannya. Alden juga begitu senang ketika melihat Andrian juga masuk ke dalam sana.
"Om tampan..." ujar Alden ketika melihat Andrian masuk ke dalam sana.
Spontan Nayra menengok ke arah belakang melihat siapa yang dimaksud anaknya tadi. Dan Nayra baru sadar bahwa Andrian dari mengikutinya dari belakang.
"Hai... Jagoan! Bagaimana kabarnya, apakah sudah membaik?" sapa Andrian.
"Alden tidak suka di sini Om, Alden mau pulang," rengek Alden begitu manja kepada Andrian. Padahal Alden tidak terlalu kenal dan dekat dengan Andrian tapi dia seperti begitu dekat dengan Andrian dan tak malu-malu bicara dengannya. Mungkin Alden sudah merasakan bahwa Andrian Ayah kandungnya.
"Alden mau pulang?" tanya Andrian.
Sedangkan Alden menganggukkan kepalanya begitu semangat. Ia tak betah berada di rumah sakit seperti ini, apalagi dengan tangannya di infus membuatnya tambah risih.
"Kalau Alden mau cepat pulang, Alden harus minum obatnya setiap hari. Kata suster tadi Alden tidak mau minum obat."
"Alden tak suka obat. Rasanya begitu pahit," ujar Alden.
Sedangkan Nayra hanya diam saja di sedari tadi yang mendengar anak dan ayah itu berbicara. Nayra menjadi merasa bersalah selama ini telah menyembunyikan kebenarannya. Tapi untuk menikah dengan Andrian, mungkin ia belum sanggup setelah apa yang laki-laki itu perbuat padanya.
"Alden mau Om tampan yang memberikan Alden obat," ujar Alden.
Sedangkan Andrian dengan senang hati memberikan anaknya obat. Ia malah bahagia karena ini pertama kalinya merasakan menjadi seorang ayah.
Nayra pun memberikan obatnya ke Andrian. Ketika Andrian mengambil obatnya tak sengaja Andrian memegang tangan Nayra membuat Nayra spontan menjatuhkan obatnya. Ia begitu grogi berpegangan tangan dengan Andrian.
"Maaf! maaf! Aku ambilkan obatnya," Nayra memungut botol yang berisikan obat itu ke lantai, dan langsung memberikannya kepada Andrian.
Setelah selesai drama meminum obat tadi, tak lama kemudian Alden kembali tertidur pulas karena pengaruh obat tersebut yang mengandung dosis obat tidur.
Di ruangan itu ada kecanggungan di antara mereka berdua. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Mereka hanya saling diam dan menjaga jarak satu sama lain. Tepatnya Nayra yang selalu menghindar dari Andrian, sedangkan Andrian ingin sekali memulai pembicaraan di antar mereka.
Dan pada akhirnya Andrian pun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan di dalam ruangan itu.
"Bagaimana dengan permintaan ku tadi? Apakah kamu setuju?" tanya Andrian memulai pembicaraan.
"Maksud Bapak apa? Saya tidak mengerti."
Andrian mendekati Nayra ke arah sofa, ia sengaja lebih dekat dengan Nayra agar obrolan mereka semakin nyaman.
"Apa kamu mau menikah dengan ku?"
"Hah!" Nayra masih tak percaya Andrian langsung terang-terangan mengajaknya menikah seperti ini. Sedangkan ia saja belum mengenal Andrian terlalu dalam begitu juga sebaliknya.
"Will you Merry me?" Sekali lagi Andrian mengatakan itu tapi lebih romantis dari sebelumnya.
Nayra hanya bisa menelan salivnya ketika kedua kalinya Andrian mengajaknya menikah.
"Kita belum saling mengenal sama lain. Saya juga tak mau menikah tanpa dilandasi rasa saling cinta."
"Aku sudah dari dulu menyimpan perasaan padamu, tapi aku tak tau apakah kamu mencintai ku juga atau tidak."
Nayra kaget mendengar perkataan Andrian. Jadi selama ini Andrian sudah punya perasaan lebih padanya.
"Mungkin bila aku tak mencintai mu juga, aku tetap akan menikahimu. Sebagai orang tua aku mau melihat anak kita tak kekurangan kasih sayang. Urusan cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu."
Ucapan Andrian begitu terkesan bijaksana. Memang benar selama ini ia memikirkan perasaannya saja tanpa memikirkan anaknya yang kekurangan kasih sayang dari seorang ayah. Walaupun ia bisa menjadi ibu sekaligus ayah tapi tetap saja Alden akan membutuhkan seorang ayah yang nyata dalam hidupnya.
"Jadi bagaimana? Apakah kamu menerima lamaran ku tadi?" tanya sekali lagi Andrian.
Tapi Nayra hanya diam saja tanpa ingin menjawab pertanyaan dari Andrian.
"Aku tau kamu masih begitu dendam padaku. Kamu bebas menghukum ku bagaimanapun? Apapun itu aku akan terima tapi pikirkan masa depan Alden. Aku sebagai seorang Ayah tak mau melihat darah daging ku kekurangan kasih sayang orang tua."
"Kamu bisa mencari yang lebih baik dariku, aku hanya seorang wanita miskin dan tak berpendidikan. Jadi kamu cari saja wanita yang setara derajatnya dengan keluargamu. Soal Alden, Bapak bisa bertemu dengannya kapan pun. Saya tak akan melarangnya bahkan Bapak bisa menjadi Ayah yang baik tanpa harus menikah dengan saya."
"Apa kamu tak mau menikah dengan ku?" tanya Andrian menatap mata Nayra.
"Bukan begitu Pak, saya merasa tak pantas menjadi bagian keluarga Bapak," itulah yang membuat Nayra berat menerima Andrian.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^