
🍁🍁🍁
"Hahaha..." Melihat tawa Andrian membuat perasaan Nayra langsung bergejolak. Ini pertama kalinya melihat Andrian tertawa tanpa beban sedikit pun. Bahkan tawanya memancarkan ketampanannya.
"Yang pasti kamu jangan menyentuh minuman wine yang ada di sana."
"Memangnya kenapa?" tanya Nayra yang memang tidak tau apa itu "wine".
"Wine itu adalah minuman keras bahkan bisa memabukkan mu bila tak terbiasa meminumnya."
"Apakah Mas sering meminum minuman itu?" tanya lagi Nayra.
"Tentu saja, bahwa setiap acara seperti itu minuman itu pasti ada. Tapi aku sudah agak jarang meminum minuman itu."
Nayra hanya manggut-manggut mendegar penjelasan dari Andrian. Setelah beberapa menit kemudian mereka pun sampai di acara tersebut. Seperti biasa Andrian membukan pintu untuk Nayra. Ketika mereka masuk ke dalam, Andrian menjadi sorot pusat perhatian orang-orang karena Andrian begitu cukup terkenal dalam kalangan pengusaha.
"Hallo Andrian, apa kabar Nak?" Seseorang pasangan suami-istri yang terlihat sudah berumur menghampiri Andrian.
"Hallo Om-tante, Andrian baik-baik saja seperti yang kalian lihat sekarang," ujar Andrian begitu ramah kepada orang tua itu.
"Ngomong-ngomong siapa wanita yang ada di samping mu saat ini? Apakah pacarmu?" tanya Nyonya Wiliyam istrinya Tuan Wiliyam yang tadi menyapa Andrian.
"Perkenalkan ini calon istrinya Andrian, namanya Nayra. Dan Nayra perkenalkan ini Om Wiliyam dan Tante Wiliyam," ujar Andrian mengenal kan mereka satu sama lain.
Ketika berjabat tangan dengan Nayra. Nyonya Wilayah terlihat begitu teduh melihat Nayra, mungkin ia takjub melihat kecantikan calon istrinya Andrian.
"Kenapa kamu tak mengatakan bahwa sebentar lagi kamu akan menikah?" tanya tuan Wiliyam.
"Andrian kira Om dan Tante sudah dikasih tau oleh Mama ternyata belum. Nathan saja Andrian belum memberitahunya."
"Wah ternyata anak kita kalah dengan Andrian Mah," ujar tuan Wiliyam bercanda.
"Bagaimana Nathan cepat menikah, wanita saja dia tak punya," ledek nyonya Wiliyam meledek anaknya yang jomblo akut sampai umur segitu.
"Mungkin jodoh Nathan belum datang, Oh ya Om-Tante kalau gitu saya dan Nayra permisi dulu," ujar Andrian berpamitan kepada mereka berdua.
Setelah kepergian Andrian dan Nayra terlihat nyonya Wiliyam memperhatikan Nayra sedari tadi sampai suaminya heran melihat istrinya tak mengalihkan pandangannya pada calon istri Andrian.
"Mama kenapa dari tadi memerhatikan calon istrinya Andrian terus? Apakah Mama juga ingin mempunyai menantu seperti itu?" tanya taun Wiliyam.
"Tidak Pah! Mama tak tau mengapa kalau perempuan itu begitu dekat dengan Mama. Matanya juga terlihat begitu teduh membuat Mama tentang melihatnya."
"Jangan bilang Mama sedang merindukan sosok anak kita yang sudah mati itu?" tanya tuan Wiliyam. Karena ia tau bahwa setiap melihat perempuan sebaya dengan anaknya yang sudah mati itu pasti istrinya akan bersikap itu.
"Mama juga tidak tau Pah! Seketika Mama merindukan sosok anak perempuan kita itu."
Sudahlah Mah jangan terus memikirkan itu lagi, kejadian itu sudah begitu lama, mungkin anak kita sekarang sudah berbahagia di surga," ujar tuan Wiliyam untuk menghibur istrinya.
Sedangkan di sisi lain terlihat seseorang wanita menghampiri Andrian dan Nayra yang sedang duduk sambil menikmati hidangan yang sudah disajikan.
"Hallo Andrian, apa kabar?" ucap wanita itu begitu centil menyapa Andrian.
"Bolehkah aku duduk di sini?" tanya lagi wanita itu.
"Iya, silahkan Mbak," ujar Nayra begitu sopan sambil memberikan tempat duduk kepada wanita itu.
Sedangkan wanita itu yang bernama Nadia terlihat begitu mengacuhkan kebaikan Nayra, malah ia begitu sinis melihat Nayra begitu dekat dengan Andrian.
"Kamu ke sini bersama wanita ini?" Nadia seolah-olah mengolok Nayra dengan menunjukkannya. Nadia rasa seorang Andrian tak pantas membawa wanita seperti Nayra ke acara seperti ini.
"Memangnya kenapa? Apakah ada masalah dengan mu?" sekarang Andrian membuka suaranya dan terdengar suara Andrian begitu tak suka dengan pertanyaan dari Nadia.
"Bukan seperti itu, tapi kamu tau lah wanita seperti ini tak pantas kau ajak ke acara mewah seperti ini."
Dengan ceplas-ceplosnya Nadia mengatakan itu langsung di depan Nayra. Nayra yang awalannya menampilkan senyumannya langsung murung mendengarkan ejekan dari wanita tersebut. Bukan Nayra namanya bila tak bersabar oleh cacian orang-orang.
"Kalau kau hanya ke sini untuk mengejek saja, lebih baik kamu pergi dari sini!" ujar Andrian begitu tegasnya.
Tanpa lama-lama Nadia pun bangkit dari duduknya lalu pergi dari sana. Ia sakit hati mendengarkan perkataan Andrian yang mengusirnya. Padahal ia mengatakan faktanya bahwa wanita itu tak pantas bersanding dengan Andrian.
"Mas, saya mau izin ke toilet dulu," ujar Nayra dan Andrian hanya manggut-manggut menangapi perkataan Nayra.
Ketika Nayra sampai di toilet, ia malah dicegah oleh wanita tadi. Nadia menarik tangan dan membenturkan tubuh Nayra ke arah tembok.
"Aw..." jerit Nayra karena tubuhnya sakit karena Nadia menariknya dengan kuat.
"Hey! Jangan dekat-dekat dengan Andrian, karena Andrian hanya milikku jadi kamu tak boleh mendekatinya," ujar Nadia sambil menarik rambut panjang Nayra.
"Aw... lepaskan!" seru Nayra menjerit untuk dilepaskan. Tapi Nadia malah kuat menarik rambut Nayra.
"Ingat! Kamu tak pantas bersanding dengan Andrian, karena hanya aku yang pantas bersanding dengan Andrian. Kamu ingat itu! Gara-gara kamu aku batal dijodohkan dengan Andrian," Nadia melampiaskan semua emosi dan amarahnya kepada Nayra yang jelas-jelas Nayra tak tau apa-apa.
"Tolong lepaskan Mbak! Saya tak pernah merebut Andrian dari Mbak," ujar Nayra sambil berusaha melepas tangan Nadia di rambutnya.
"Dasar wanita murahan, bisa-bisanya Andrian menyukai wanita yang sudah mempunyai anak dan tak tau siapa Bapak dari anak itu," Nadia memang belum tau bahwa Andrian lah ayah dari anak Nayra. Ia hanya tau bahwa Nayra mempunyai anak tanpa suami.
Sedangkan Nayra yang mendengar itu langsung begitu marah. Ia tahan bila dirinya yang dihina atau disiksa tapi bila sudah menyangkut tentang anaknya ia tak akan tinggal diam.
Dengan sekuat tenaga Nayra melepaskan tangan Nadia dari rambutnya. Tak butuh waktu lama akhirnya tangan Nadia berhasil lepas dari rambutnya.
"Ingat Mbak! Saya tak pernah merebut Mas Andrian dari Mbak, tapi Mas Andrian sendiri yang mau dengan saya. Ingat satu hal juga bahwa saya tak seperti yang Mbak pikiran. Anak saya juga mempunyai Ayah," ujar Nayra terdengar begitu tegas.
"Cih! Bila kamu wanita baik-baik tidak mungkin kamu mempunyai anak di luar nikah. Dasar wanita ******!" ucap Nadia tanpa merasa bersalah.
Nayra yang mendengar itu tak tahan lagi. Tanpa sengaja ia mengangkat tangannya lalu tangannya mendarat ke pipi putih Nadia untuk menamparnya.
Plakk!
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^