
🍁🍁🍁
"Apakah kamu lapar?" tanya Andrian yang memang mengingat bahwa Nayra seharian ini belum makan.
Nayra hanya cengengesan sambil memanggutkan kepalanya karena memang dia begitu sangat lapar saat ini.
"Baiklah! Aku akan memasakan kamu makanan, kamu ingin makan apa?" tanya Andrian sudah berdiri dari tempat tidurnya.
"Memangnya Mas bisa masak?" tanya Nayra yang memang belum pernah melihat Andrian selama ini memasak, bahkan kedapur pun dia jarang melihatnya ke sana.
"Apakah kamu meragukan kemampuan suami mu ini? Seorang Andrian Ghratama bisa melakukan apapun, apalagi untuk istri tercintanya ini," ujar Andrian menyombongkan diri.
"Baiklah! Nayra ingin makan sup ayam, apakah Mas bisa membuatkannya?" tanya Nayra yang merasa masih ragu dengan kemampuan suaminya itu.
"Baiklah aku akan membuatkannya untuk istri tercinta ku ini."
Andrian pun pergi ke arah dapur untuk membuat sup ayam, untung saja semua bahan yang dibutuhkan ada di dapur hotel itu jadi Andrian tidak kesusahan untuk memasak.
Sebelum memulai memasak Andrian menggenakan celemek agar baju nya tak kotor, serta lengan bajunya ia lipat setelah agar mudah ketika memasak. Terlihat kharisma Andrian bertambah seperti itu membuat Nayra yang memandangnya dari meja makan tak henti-hentinya kagum.
Terlihat Andrian begitu cekatan dalam memasak, seperti sudah ahli dalam dunia perdapuran. Tak lama kemudian sup ayam nya sudah jadi dan langsung disajikan di atas meja makan.
"Mas begitu sangat cepat memasak? Apakah ini enak? Tapi kelihatannya begitu enak," ujar Nayra yang tak sabar mencicipi masakan suaminya ini.
"Cobalah, kamu yang akan menilai rasa masakan ku."
Tanpa lama-lama Nayra langsung mencicipi masakan Andrian, dan Nayra begitu kaget karena sup ayam nya begitu enak, bahkan dia tak bisa membuat sup ayam seenak ini.
"Apakah enak?" tanya Andrian yang sedari tadi memandangi Nayra yang makan.
Nayra hanya memanggutkan kepalanya lalu kembali memakan sup ayam itu dengan begitu lahapnya.
"Bagaimana Mas bisa membuat masakan seenak ini? Nayra kira Mas hanya bisa bekerja dan memerintah," tanya Nayra dengan nada sedikit bercanda.
"Kamu sangat beruntung mempunyai suami seperti aku, bisa melakukan hal apapun," ucap Andrian membanggakan dirinya.
"Baiklah, Nayra begitu sangat beruntung mendapatkan suami seperti Tuan Andrian, semoga saja setiap hari dimasakan seperti ini."
"Kalau kamu mau, aku akan masak setiap hari demi kamu. Ini pertama kalinya aku memasak untuk orang, selain itu aku hanya memasak untuk diri sendiri," ujar Andrian sambil menopang kepalanya dengan tangan dengan mata yang tertuju ke arah Nayra.
Nayra mendengar itu langsung memandang wajah suaminya itu, Nayra merasa Andrian adalah suami yang didambakan oleh semua wanita, bahkan dia tak sangka akan mendapatkan suami seperhatian ini walaupun pertama mengenalnya tak sebaik saat ini.
"Mas!"
"Hm..." jawab Andrian dengan deheman tanpa berkedip melihat Nayra.
"Jangan memandang Nayra seperti itu, Nayra terlihat jelek ketika makan."
"Kamu terlihat begitu cantik, bahkan saat ini aku melihat bidadari sedang makan didepan ku," ucapan itu berhasil membuat Nayra kembali malu dengan pipi yang memerah.
Ini pertama kalinya Andrian begitu bucin kepada seorang wanita, bahkan dia begitu berbeda sifatnya di depan orang lain dan di depan Nayra. Padahal wanita yang sering bersamanya dulu tak kalah dengan cantik Nayra, tapi Andrian begitu sangat berbeda melihat Nayra, dia melihat Nayra seperti bidadari yang kecantikannya tiada tara.
Pagi-pagi mereka sudah membereskan baju-baju mereka lalu pulang ke rumah kediaman Ghratama, sesampainya di rumah terlihat meraka sudah di sambut dengan hangat oleh nyonya Kumala dan tuan Wijaya. Dan terlihat juga ada seseorang yang datang bertamu di kediaman keluarga Ghratama.
"Eh Om Tante__" ujar Andrian yang melihat nyonya Diana dan tuan Wisnu datang bertamu sepagi ini.
"Andrian, Nayra, ada yang ingin kita sampaikan ke kalian jadi bisa minta waktunya sebentar?" ucap tuan Wisnu membuka suara.
"Memangnya apa yang ingin Om sampaikan kepada kami berdua?" tanya Andrian sedangkan Nayra hanya diam saja.
"Lebih baik kita duduk saja untuk membicarakan hal ini biar lebih enak," ujar tuan Wijaya.
Mereka semua pun duduk di sofa dengan wajah yang terlihat begitu serius.
"Kedatangan Tuan Wisnu dan Nyonya Diana ingin menyampaikan sesuatu pada kalian berdua, terlebih kepada Nayra," ujar tuan Wijaya membuka pembicaraan.
"S-saya? Memangnya saya kenapa?" tanya Nayra yang masih bingung dengan maksud mereka, begitu juga dengan Andrian yang memang belum mengetahui tentang ini.
"Nayra, apakah kamu ingat dengan orang tua kandung mu Sayang?" tanya nyonya Kumala.
Nayra hanya menggelengkan kepalanya, dia tambah bingung mengapa mertuanya menanyakan hal itu. "Saya tidak pernah melihat orang tau kandung saya Mah, bahkan Ibu panti bilang bahwa Ibu Nayra sudah meninggal dunia."
"Kalau mereka sekarang ada di sini apa yang kamu akan lakukan?" tanya lagi nyonya Kumala. Sedangkan nyonya Diana tak kuasa menahan air matanya melihat anaknya di depan nya saat ini.
Nayra dan Andrian saling tatap-tatapan karena belum mengerti maksud mamanya itu, bagaimana mungkin orang tuanya ada di sini.
"Nayra tak tau harus bagaimana saat ini," ujar Nayra yang tak tau harus menjawab apa pada mama mertuanya itu.
"Nay!" panggil nyonya Diana sontak membuat Nayra menengok ke arah nyonya Diana.
"Ini Mama mu Sayang, Ini orang tau mu yang selama ini kamu kira sudah meninggal," ujar nyonya Diana langsung berhamburan memeluk Nayra dengan tangisan haru.
Nayra hanya diam saja, dia tak tau harus bereaksi apa saat ini, ini seperti mimpi dan masih belum tau maksud mereka mengaku bahwa dia adalah orang tuanya. Begitu juga dengan Andrian yang masih bingung.
"Maksud Tante apa? Nayra masih belum paham dengan ucapan kalian?" ujar Nayra.
"Sayang! Nyonya Diana dan tuan Wisnu adalah orang tua kandung kamu, dia telah lama mencarimu dan akhirnya dia menemukan mu saat ini," jelas nyonya Kumala.
"Maksudnya?" Nayra masih belum mengerti bagaimana kronologi sampai ia mengakui bahwa dia adalah anaknya yang telah telah hilang selama ini.
Pak Wijaya pun menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir, karena mereka berdua tidak sanggup menceritakan itu pada anaknya. Mereka merasa malu karena telah membuang anaknya begitu saja. Mereka akan menduga bahwa Nayra tak akan memaafkan mereka berdua.
Mendengar penjelasan itu air mata Nayra tumpah ke pipi nya, tubuhnya tak bisa ia topang saat ini sampai hampir ia terjatuh ke lantai, untung saja dengan sigap Andrian memegang tubuh Nayra agar tak terjatuh ke lantai.
"Maafkan kami Sayang! Maafkan Kami yang telah menyia-nyiakan kamu selama ini," ucap nyonya Diana memegang kedua tangan Nayra.
"Ini semua salah Papa Sayang, andaikan Papa tak memberikan mu kepada bidan itu, mungkin ini tak akan terjadi," ujar tuan Wisnu begitu merasa bersalah.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^