
🍁🍁🍁
“Aw... Lepaskan!” teriak Nayra yang masih belum mengetahui siapa yang menariknya. Sebab Nayra hanya melihat postur tubuh yang menariknya itu dari belakang jadi ia tak tau wajah orang yang menariknya ini.
“Lepaskan saya! Siapa kamu?” teriak Nayra sambil berusaha melepaskan tarikan dari pria tersebut. Sedangkan Andrian hanya diam saja sambil menarik Nayra entah ke mana.
Tak lama kemudian Andrian pun melepaskan tarikan tangan Nayra. Mereka berada di sebuah lorong yang agak sepi. Ketika Andrian membalikan tubuhnya, Nayra langsung kaget.
“Bapak kenapa menarik saya ke sini?”
“Kamu katakan sebelumnya atau aku yang mengatakan semuanya?” ujar Andrian dengan to the poin.
“Maksud Bapak apa?” Nayra tidak mengerti maksud Andrian. Ia tak kepikiran bahwa Andrian sudah mengetahui rahasia besar yang dia sembunyikan selama ini.
“Apa kamu pura-pura tidak tau atau tidak ingat?” Andrian terlihat begitu memojokkan Nayra saat ini.
“Maksud Bapak apa? Saya sama sekali tidak mengerti maksud Bapak. Apalagi Bapak tiba-tiba menarik saya ke sini.”
“Baiklah kalau kamu tidak mau mengatakannya, biar aku saja yang mengatakan semuanya agar kamu kembali ingat.”
Nayra sudah deg-degan apa yang akan diucapkan Andrian sekarang. Firasatnya mengatakan akan terjadi masalah kedepannya dengan kejadian ini.
“Katakan Sebenarnya apakah aku adalah Ayah Alden? Apakah aku yang sudah menghamili mu? Dan apakah kamu wanita malam ketika hujan lebat itu?” tanya Andrian dengan bertubi-tubi.
Nayra langsung melototkan matanya mendengarkan pertanyaannya dari Andrian. Jadi Andrian sudah mengetahui semuanya sekarang.
“Apa maksud Bapak? Saya tidak mengerti maksud Bapak? Bapak bukan Ayahnya Alden. Saya sudah katakan bahwa Ayahnya Alden sudah meninggalkan kami sebelum Alden lahir.”
Nayra masih berusaha untuk menutupi semua ini, walaupun ini sudah terlambat. Karena ia masih belum ikhlas bila nanti Andrian akan mengambil Alden darinya.
“Iya, memang benar bahwa Alden ditinggal oleh Ayahnya sebelum ia lahir. Dan Ayahnya itu adalah aku, aku yang telah menghilang dan hanya menaruh bening di rahimmu. Selepas itu aku tinggalkan kami di gubuk kecil itu dengan benih-benih yang sudah aku tanam di rahimmu.”
Nayra langsung terdiam dengan ucapan Andrian. Dia tak tau harus berkata apa sekarang. Semuanya sudah terbongkar dan tak bisa disembunyikan lagi.
"Ayok jawab Nayra! Apakah benar perkataan ku tadi? Ayok jawab!" Andrian agak sedikit berteriak sambil menggoyangkan tubuh Nayra yang dari tadi hanya diam saja.
"Kenapa kamu diam? Apa perkataan ku tadi benar?" tanya lagi Andrian. Tapi Nayra bukannya menjawab ia malah menitikkan air matanya yang sedari tadi ia tahan.
"Kenapa kamu menangis? Apakah kamu menangis karena rahasia mu terbongkar hah?"
"Iya! Itu memang benar, kaulah Ayah dari anakku Alden. dan Aku wanita malam itu, sekarang kau puas mendengar semuanya?!" Nayra tak kalah kerasnya dari Andrian.
"Tapi kenapa kau baru mengungkapkan kebenarannya selama ini setelah aku mengetahuinya sendiri? Kau telah menyembunyikan hal yang paling besar dihudup ku dan kau juga membohongi Alden demi keegoisan mu selama ini."
"Kapan aku egois? Kapan aku membohongi Alden?" tanya Nayra sambil menatap mata Andrian.
"Aku mendengar bahwa Alden sering di caci maki oleh teman-teman karena tidak mempunyai Ayah. Tapi kamu hanya diam saja dan terus membohonginya bahwa Ayahnya pergi jauh. Padahal aku Ayahnya, aku ada di sini selalu menemani anak ku. Apa itu tidak egois namanya?"
"Aku memang egois kepada Anakku, tapi ini lebih baik dibandingkan ia mengetahui bahwa Ayahnya lebih egois dibandingkan Mamanya," ujar lagi Nayra sambil menahan air matanya.
"Maksud kamu apa?"
"Kamu laki-laki biadab, kamu laki-laki tak berperi kemanusiaan. Cobak di malam itu kau tak menggambil semuanya dariku, mungkin aku tak akan egois kepada Anakku. Mungkin aku juga tak akan mengalami kehidupan yang begitu berat selama ini. Dan kamu datang setelah sekian lama aku menjalani kehidupan berat ini, dan lalu kamu mengatakan aku "egois" maka itu salah besar. Sakit hatiku selama ini belum bisa terobati oleh apapun."
Nayra mengeluarkan semua yang ingin ia keluarkan selama ini. Hatinya begitu lega setelah semuanya ia keluarkan walaupun hatinya begitu sakit kembali diingatkan dengan masa lalunya yang kelam.
Sedangkan Andrian hanya diam saja mematung mendengarkan keluh kesah Nayra selama ini. Ia tak menyangka gara-gara dirinya ia sudah menghancurkan kehidupan seorang wanita."
"Maaf!" satu kata yang bisa keluar dari mulut Andrian sekarang.
"Maaf? Setelah apa yang kau lakukan padaku, kamu hanya bisa mengatakan "maaf" dengan semudah itu. sedangkan aku mati-matian hidup selama ini untuk menghindari omongan orang-orang serta melindungi benih yang sudah kau tanamkan di rahimku. Bahkan sekolah serta cita-cita ku harus aku kubur dalam-dalam karena satu kesalahan besar yang telah kau lakukan saat itu," ujar Nayra dengan volume yang begitu tinggi. Untung saja tempat mereka saat ini sepi membuat Nayra bebas berteriak sepuasnya.
"Maaf!" hanya itu yang kembali Andrian katakan untuk penyesalannya selama ini.
"Maaf mu tak bisa mengubah semuanya dari awal."
"Lalu aku harus seperti apa? Aku juga tersiksa selama ini karena tidak tau bagaimana kejadian malam itu. Aku sudah mencari-cari wanita pada kejadian malam itu, tapi aku tak bisa menemuinya. Jadi bukan kamu saja yang tersiksa selama ini, bahkan akau begitu tersiksa karena masih ada beban di dalam pikiran ku," sekarang Andrian mulai berbicara banyak dan sedikit meninggalkan volumenya.
"Kau tersiksa? Aku yang lebih tersiksa selama ini," ujar Nayra dengan nada lebih tinggi.
Melihat Nayra kembali menajawab pertanyaan dengan nada tinggi, Andrian memegang kedua lengan Nayra agar tak kembali emosi seperti tadi.
"Bapak mau ngapain memegang lengan saya? Tolong lepaskan!"
"Tolong dengarkan penjelasan ku! Kamu jangan terlalu emosi seperti ini!"
"Apa yang harus saya dengarkan dari Bapak? Saya sudah sabar selama ini menahan emosi saya agar Bapak tidak malu di depan orang-orang karena perbuatan keji mu."
"Tolong dengarkan aku dulu! Setelah kamu mendengarkan penjelasan ku, terserah kamu mau melakukan apa padaku."
Nayra pun langsung terdiam mendengarkan apa yang Andrian katakan sekarang, dengan tangan Andrian masib memegang erat lengan Nayra.
"Sekarang apa yang kau mau dariku untuk menebus semua kesalahanku? Kau ingin pertanggungjawaban dariku? Baiklah aku akan menikahimu secepatnya."
Deg!
Spontan hati Nayra langsung berbeda ketika Andrian mengajaknya menikah. Tapi Nayra hanya diam saja tanpa memberiku jawaban dari Andrian.
"Kenapa kamu diam? Ayok jawab! Aku sengaja selama ini belum menikah karena aku tau ada wanita yang pantas aku nikahi, yang telah mengandung dan membesarkan anakku. Yaitu kau! Kau wanita yang aku tunggu-tunggu selama ini.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^