
🍁🍁🍁
"Sekarang kamu makan, tiga suap saja biar kamu bisa meminum obatnya."
Akhirnya Amanda mau membuka mulutnya, dia menghargai usaha Nathan membuatkannya bubur. Walaupun buburnya terasa pahit dan hambar di lidah Amanda saat ini dia tetap menelannya dengan paksa. Mungkin faktor tenggorokannya yang kurang sehat.
"Sudah! Ini sudah ke tiga suapan!" Amanda menutup mulutnya agar Nathan tak memaksanya untuk kembali memakan buburnya.
Karena Amanda sudah tak mau memakannya, iapun meletakkan sisa buburnya tadi di nakas samping tempat tidurnya. Lalu kembali mengambilkan sebuah obat yang berbentuk tablet.
"Minum dulu obatnya!"
Nathan menyodorkan satu butir obat ke Amanda, lalu Amanda meminum obatnya. Tapi karena Amanda tak bisa menelan obat diapun memuntahkan obat yang sempat masuk ke dalam mulutnya.
"Hoek!!"
Amanda memuntahkan obatnya tepat di bajunya.
Dengan segera Nathan mengambil tissue untuk membersihkan bekas muntahan obatnya.
"Biar aku saja!" Amanda ingin mengambil tissue nya untuk membersihkan bekas obatnya sendiri, tapi Nathan tak membiarkan Amanda melakukannya.
"Kenapa kau begitu perhatian kepada ku?" tiba-tiba saja Amanda bertanya hal seperti itu.
"Maksud kamu apa? ini hal wajar aku peduli padamu."
"Sudah aku katakan, pernikahan ini hanya kecelakaan jadi tolong jangan buat pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya."
"Maksud kamu apa? Pernikahan ini memang benar dan tak ada kebohongan di dalamnya."
"Aku mohon jangan terlalu perhatian kepada ku, jika kamu memberi perhatian terlalu lebih takutnya aku akan jatuh cinta padamu. Dan aku takut hal itu," lriih Amanda sambil menatap wajah Nathan dengan nanar.
"Aku tak mau sakit kedua kalinya kepada orang yang berbeda, jangan buat aku berharap nantinya!!" lanjutnya lagi.
Diam! Nathan tak bisa berkata apa-apa, memang benar bahwa sekarang ini dia belum ada rasa pada Amanda, tapi dia akan berusaha untuk jatuh cinta kepada istrinya.
"Apa kamu mau memulainya dari awal bersama ku?"
"Makanya?"
"Aku tau pernikahan ini begitu sangat mendadak, dan kita tau perasaan masing-masing bagai mana, jadi aku mau memulainya bersama mu dalam pernikahan ini. Cukup satu kali seumur hidup ku menikah, dan itu bersama dengan mu."
Amanda menangis, dia begitu terharu mendengar itu.
"Mungkin aku belum ada rasa pada mu, tapi aku akan berusaha untuk mencintai mu, sekarang apa kamu mau hidup bersama ku?"
Amanda dengan pelan-pelan menganggukkan kepalanya. Dia juga mau menikah satu kali dalam seumur hidupnya.
"Sekarang berhentilah menangis! Kamu terlihat seperti anak kecil menangis seperti itu," ledek Nathan untuk mencairkan suasana di dalam kamar itu.
"Biarkan! Kalau kamu tidak suka, pergilah dari sini!!" ujar Amanda sambil menghapus air matanya yang sempat tumpah.
"Ini kan kamarku? Jadi kamu tak bisa mengusirku dari sini."
"Baiklah, kalau gitu aku yang pergi dari sini."
Amanda pun ingin beranjak dari tempat tidur itu, tapi tangannya di tarik oleh Nathan. Mereka berdua sekarang duduk di atas tempat tidur dengan begitu dekat.
Sejenak mereka saling menatap satu sama lain. Mereka pertama kali saling tatap-tatapan sedekat ini, hingga Amanda memalingkan wajahnya membuat pandangan Nathan jadi terbuyarkan.
"A-aku aku harus pergi ke kantor pagi ini, jadi kamu jaga diri baik-baik dan jangan mengerjakan apapun sebelum kamu sembuh."
Nathan salah tingkah setelah menatap Amanda. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan agar dia tak terlihat gugup setelah melakukan tatap-tatapan.
***
"Bagaimana?" terlihat wajah panik seorang Andrian yang sedang menunggu hasilnya.
Nayra menunjukkan sebuah testpack yang hanya bergaris satu. Andrian pun menghela nafasnya dengan lega.
Dia kira Nayra akan hamil lagi, dia begitu khawatir jika itu terjadi. Bukannya tak mau mempunyai anak lagi, tapi dia masih takut kejadian itu terulang lagi. Lebih baik tak mempunyai anak lagi dibandingkan nyawa istrinya akan dipertaruhkan.
"Mungkin aku masuk angin saja."
"Kalau gitu kamu istirahat saja, biar anak-anak aku yang jaga."
"Mas!" panggil Nayra.
"Hm?"
"Kenapa Mas begitu takut sekali melihat aku akan hamil lagi? Bukannya itu bagus jika kita memiliki anak lagi? Nayra ingin mempunyai anak perempuan."
"Cukup dua saja, aku tak mau jika kamu kenapa-napa lagi ketika hamil. Cukup itu jadi pelajaran buat kita."
"Tapi kan aku ingin merasakan punya anak perempuan, aku ingin menyisirkan rambut panjang nya, meriasnya dan membelikan baju yang lucu-lucu. Kalau Alden tak mau bila ku dandani."
Andrian tertawa mendengar perkataan istirnya itu, tak mungkin Alden mau didandani seperti seorang perempuan.
"Tuh kan Mas ketawa!" Nayra memanyunkan bibirnya.
"Kamu bagaimana sih? Anak laki-laki mana mau diajak main dandan-dandanan."
"Makanya aku mau punya anak perempuan, tapi Mas nggak mau punya anak lagi. Aku juga kesal kenapa wajah mereka berdua begitu mirip dengan Mas, bahkan aku tak ada di dalam bentuk wajah mereka. Padahal aku yang mengandung dan melahirkan mereka."
"Mereka tau papanya tampan jadi mereka memilih untuk mirip dengan ku."
"Iya-iya suamiku memang tampan, jadi boleh kan aku hamil lagi?"
"Jika kamu hamil lagi, kasihan Baby Nayaka yang masih kecil akan kekurangan asi, dia belum genap setahun."
Nayra pun merenungkan itu, jika dia hamil maka anak keduanya tak bisa memberikan asi lagi. Padahal dulu Nayra kira baby Nayaka adalah permenpan.
Nayra sudah beberapa Minggu lalu membujuk suaminya agar kembali hamil lagi. Tapi bukannya dituruti malah Andrian tak mau mendengar omongan istrinya. Dan dia juga sadar bila hamil terlalu cepat akan berdampak kepada anaknya.
"Mas pergi kerja dulu, jika kamu masih merasa pusing biar anak-anak ku bawa ke kantor."
"Tidak usah, Nayaka biar bersamaku. Dia masih terlalu kecil dibawa ke kantor. Lebih baik Mas antar saja Alden ke sekolah."
Kemudian Andrian pun melambaikan tangan pada istri dan anaknya yang berada di depan pintu, begitu juga dengan Nayra melambaikan tangan anaknya ke arah papanya yang akan pergi bekerja.
Nayra pun masuk ke dalam setelah kepergian Andrian. Dia begitu bosan bila suaminya sudah pergi kerja, dia tak tau harus mengerjakan apa lagi. Dia juga tak bisa berkutik dengan anaknya yang masih kecil.
Ketika sedang bermain bersama anaknya, terdengar suara bel rumahnya berbunyi. Dengan cepat bik Lastri membukakan pintu untuk tamu tersebut.
"Siapa Bik?" tanya Nayra.
"Tuan besar dan nyonya besar Non!" seru bik Lastri dari arah pintu.
Mendengar itu Nayra begitu panik, dia terlihat begitu kucel hanya menggenakan daster serta rumah masih berantakan. Dia tak mau bila dicap sebagai istri malas oleh mertuanya.
"Duh kenapa Mama dan Papa tak menggambarkan bila mau datang?" gumam Nayra terlihat begitu panik. Tapi mau tak mau dia harus menghampiri mertuanya di luar sambil menggendong anaknya.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^