My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 37



🍁🍁🍁


"Ibu... Ibu!" guru itu menggoyang-goyangkan tubuh Nayra yang sedari tadi diam saja.


"Eh, ya Buk! Maaf tadi saya agak sedikit berpikir tadi."


"Saya mohon ke Ibu untuk mengatakan ke Alden agar tak lagi menganggu temanya."


"Iya Buk! Saya akan memberitahu anak saya nanti, bila ada orang tua wali murid datang karena anaknya diganggu Alden, maka sampaikan maaf saya ke orang tua wali murid itu."


"Iya Buk, saya akan mengatakan permaafan Ibu ke orang tua wali murid. Tapi kalau Alden anak Ibu kembali buat masalah mungkin kami akan mengeluarkan anak Ibu dari sekolah ini." ucap gurunya Alden dengan agak sedikit mengancam.


"Baik Buk saya akan berusaha bicara dengan anak saya agar tak lagi buat masalah."


Sedangkan orang yang dibicarakan itu terlihat santai saja karena Alden belum terlalu mengerti apa yang mama dan gurunya itu katakan.


Karena begitu lama menunggu mamanya untuk membelikan ia gula kapas, dengan tak tau sabarnya Alden sendiri pergi untuk membelikan dirinya gula kapas.


Ketika ingin menyebrang jalan Alden tak melihat ke kiri ke kanan mobil atau motor yang berlalu lalang di jalanan, apalagi jalanan itu begitu rame membuat seseorang berbahaya untuk menyebrang jalan, apalagi Alden masih kecil yang belum tau apa-apa tentang menyebrang serta tanpa pengawasan dari Nayra.


Saat tiba di tengah jalan ketika menyebrang, Alden tak melihat ada sebuah mobil dari arah kiri melaju kencang membuat Alden tak bisa menghindarinya, apalagi yang mengendarai mobil itu seperti ugal-ugalan. Sehingga terjadilah kecelakaan di jalan raya itu.


Brak!!


Seketika mobil itu langsung berhenti mendadak ketika sudah menabrak Alden. Sedangkan Alden sudah terkapar lemas tak berdaya dengan baju sekolahnya yang berlumuran darah.


Semua orang yang melihat itu teriak ketika melihat anak kecil ditabrak oleh mobil. Nayra yang menyadari bahwa itu adalah Alden langsung berteriak histeris sambil menagis. Nayra berlari menuju TKP untuk menghampiri anaknya yang sudah pingsan tersebut.


"Aldennnnnnn...." teriak Nayra sambil berlari menuju ke sana.


Nayra memangku kepala Alden ke pahanya. Tubuh Nayra menjadi ikutan kotor dengan darah segar Alden tapi ia tak menghiraukan itu yang lebih terpenting keadaan anaknya saat ini harus selamat.


"Alden Sayang bangun! Hiks... Aldennnnnnn bangun sayang!" Nayra mengoyang-goyangkan tubuh anaknya untuk menyadarinya tapi sama sekali Alden tak membuka mata sama sekali.


Sedangkan yang menabrak Alden tadi langsung pergi dari sana membawa mobilnya agar tak kena masalah.


Di sisi lain gara-gara kecelakaan tadi membuat jalan raya tadi menjadi macat. Di salah satu kemacetan itu ada mobil Andrian ditengah-tengah kemacetan yang terjadi.


"Ada apa ini kenapa jalannya jadi macat?" gumam Andrian begitu kesal. Sekarang ini ia harus bertemu dengan klien 15 menit lagi tapi dengan kemacetan ini membuat ia akan terlambat untuk bertemu.


Melihat ada orang lewat di depan mobilnya, Andrian pun bertanya kepada orang yang lewat tadi.


"Pak! Pak..." seru Andrian memanggil Bapak-bapak yang lewat di depan mobilnya.


"Ada apa Pak?" tanya orang itu.


"Apa yang terjadi di depan sana sehingga membuat jalan jadi macat?"


"Oh itu, tadi ada anak kecil tabrak lari."


"Astaga! Lalu bagaimana keadaan anak kecil itu sekarang?"


"Sekarang apakah anak kecil itu udah di bawah ke rumah sakit?"


"Saya lihat tadi belum di bawa."


"Kenapa? Seharusnya bila ditabrak harus cepat-cepat dapat penanganan dari dokter."


"Mobil ambulance nya belum datang jadi anak kecil itu masih berada di tempat kejadian tadi, kalau tidak ada yang ditanyakan lagi saya permisi dulu Pak."


"Oh ya, terima kasih infonya."


Karena penasaran dengan kondisi anak itu. Andrian pun langsung turun dari mobil itu untuk melihat kejadian itu. Semakin mendekat Andrian kaget melihat Nayra berada di situ dengan tubuh berlumuran darah serta pipinya penuh dengan air mata.


Hati Andrian menjadi khawatir dan begitu panik. Ia harap apa yang ketabrak itu bukan Alden. Dengan cepat-cepat Andrian melangkahkan kakinya ke tempat kejadian. Ia menerobos kerumunan orang-orang itu untuk melihat siapa yang ditabrak.


Setelah ia melihat siapa yang ditabrak, Andrian langsung lemas. Kakinya merasa lemas untuk menopang tubuhnya. Dugaannya tadi memang benar bahwa Alden lah yang kecelakaan.


"Alden..." seru Andrian yang tak didengar oleh Nayra. Nayra juga belum menyadari kedatangan Andrian di sana karena sangking khawatir melihat keadaan anaknya.


Memang Alden bukan siapa-siapa nya tapi entah mengapa ada rasa khawatir melihat Alden kecelakaan seperti ini.


"Tolong bawa anak saya ke rumah sakit! hiks..." ujar Nayra dengan diiringi tangisan yang begitu pecat. Terlihat juga Nayra begitu syok akan kejadian ini.


"Sabar Buk! Ambulance nya baru dihubungi, sebentar lagi ambulance nya akan sampai."


"Bagaimana saya sabar? Sedangkan anak saya sudah begitu memperihatinkan seperti ini. Tubuhnya terlihat lemas hiks..." Nayra tak bisa mengontrol emosinya ketika ia harus disuruh sabar dengan keadaan genting saat ini.


"Biar Alden dibawa ke mobil saya, mobil saya ada di sana."


Mendegar itu Nayra langsung melihat orang yang menawarkan tumpangan kepada anaknya. Dan ternyata itu adalah Andrian.


"Pak tolong selamatkan anak saya!" sekarang ini Nayra tak ada gengsi-gengian untuk meminta tolong ke Andrian.


Tanpa pikir panjang Andrian langsung membopong tubuh mungil Alden ke dalam mobilnya. Sedangkan Nayra di bantu berjalan oleh gurunya Alden untuk masuk ke dalam mobil karena tubuh Nayra sudah lemas sedari tadi.


Di dalam mobil ada Alden, Nayra, Andrian serta guru Alden yang ikut. Nayra dan Alden berada di belakang sedangkan guru Alden ada di samping Andrian yang sedang menyetir.


Tak butuh waktu lama Andrian langsung menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat gurunya Alden jadi takut melihat Andrian begitu ngebut membawa mobil. Sedangkan Nayra tak merasakan apa-apa di bawa ngebut karena dipikirannya saat ini adalah anak nya bisa cepat sampai di rumah sakit agar dapat ditahani oleh dokter.


"Pak tolong pelan-pelan bawa mobilnya!" seru guru itu dengan nada ketakutan.


"Ini keadaan darurat, jadi kita harus cepat-cepat sampai ke rumah sakit," bentak Andrian sambil melirik ke arah guru itu. Seketika guru itu langsung terdiam dengan bentakan Andrian.


Sedangkan Nayra tak memperdulikan pembicaraan di depannya itu. Ia hanya fokus kepada anaknya yang belum sadar juga sambil meneteskan air matanya begitu deras.


See you again...


LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^