
🍁🍁🍁
Andrian dengan perlahan-lahan membuka aksesoris di kepala Nayra agar tak keberatan. Kemudian ia juga membukakan gaun yang dikenakan Nayra dan digantikan dengan baju tidur. Andrian berpikir ini tak akan jadi masalah untuk menggantikan baju Nayra, sebab dia sudah sah menjadi istrinya.
Andrian membaringkan tubuhnya di sebelah Nayra, ia memandangi wajah Nayra yang sangat cantik itu, lelahnya dari kemarin terbayarkan dengan hal ini.
"Semoga kamu cepat bangun Sayang! Aku merindukanmu," ujar Andrian sambil mencium dahi Nayra. Tak lama kemudian Andrian pun tertidur lelap di samping Nayra dengan posisi memeluk pinggang Nayra.
Nyonya Kumala dan nyonya Diana masuk ke dalam kamar hotel tempat Nayra istirahat. Ketika masuk mereka melihat pemandangan yang begitu indah melihat anak-anak mereka sedang tertidur pulas.
"Maaf Nyonya Diana, mereka masih tertidur jadi saya tak tega membangunkan Andrian, nanti Nyonya Diana bisa menjenguk Nayra setelah dia bangun," ujar nyonya Kumala yang tak enak dengan nyonya Diana. Sebab dari tadi nyonya Diana ingin sekali melihat kondisi Nayra.
"Tidak papa nyonya Kumala, saya hanya ingin mengetahui keadaan Nayra saja, saya begitu lega melihatnya baik-baik saja," ujar nyonya Diana dengan senyum yang tipis.
"Kalau boleh tau, kenapa nyonya Diana begitu sangat mengkhawatirkan kondisi menantu saya? Padahal Anda baru mengenal Nayra," tanya nyonya Kumala karena merasa heran dengan sikap nyonya Diana kepada menantunya itu.
"Sebenarnya Nayra itu adalah anak kandung saya yang hilang itu," ujar nyonya Diana menjelaskan, sontak membuat nyonya Kumala membelakan matanya.
"Apa?" terlihat dari mata nyonya Kumala ingin dijelaskan apa maksud nyonya Diana dengan omongannya tadi.
Pada akhirnya nyonya Diana menjelaskan semuanya kepada nyonya Kumala, ia tak mau menutup-nutupi semuanya dari keluarga Ghratama karena memang dari awal nyonya Kumala dan tuan Wijaya sudah mengetahui tentang anaknya yang hilang tapi baru sekarang dia mengetahui bahwa Nayra adalah anak kandungnya.
"Saya tidak menyangka bahwa kita akan besanan seperti ini, tapi saya begitu senang ternyata Nayra menantu saya adalah anak kandung kalian," ujar nyonya Kumala begitu terlihat bahagia.
"Saya juga tak menyangka akan hal ini terjadi, ini kehendak Tuhan yang mempertemukan semua ini dengan begitu kebetulan," ujar nyonya Diana ikut bahagia juga.
"Tapi ada satu hal yang Nyonya Diana harus ketahui, dan saya harap Nyonya tak akan marah pada Andrian," ujar nyonya Kumala ingin menceritakan bagaimana bisa mereka menikah saat ini.
"Memangnya apa yang sudah terjadi sampai saya akan marah?" tanya nyonya Diana yang memang belum mengetahui kejadian sebenarnya.
Tak lama kemudian nyonya Kumala menjelaskan apa yang sudah terjadi, dari Nayra mempunyai anak sebelum menikah sampai saat ini. Terlihat nyonya Diana terdiam, matanya berkaca-kaca mendengar cerita yang dilontarkan oleh nyonya Kumala.
Kedua tangannya terlihat mengepal. Matanya terlihat merah seperti orang yang lagi emosi.
"Maafkan Andrian untuk semua ini, tapi saya janji tak akan membuat Nayra seperti dulu lagi," ujar nyonya Kumala untuk meyakinkan.
"Mendengar cerita itu hati saya terasa dicabik-cabik, darah daging saya begitu sulit menjalankan semua ini. Ingin rasanya saya marah kepada Andrian, tapi saya lebih kejam pada anak saya sendiri telah membuangnya begitu saja," ucap nyonya Diana.
"Anda berhak marah pada Andrian, tapi Anda tak boleh menyalahkan diri sendiri karena itu bukan kesalahan Anda Nyonya," ujar nyonya Kumala.
"Tapi dengan yang dilakukan Andrian saat ini, saya harap dia tak akan kembali menyakitkan anak saya. Saya minta tolong kepada Anda agar menjaga anak saya dengan baik-baik."
"Tenang saja nyonya Diana, saya sudah mengganggap Nayra sebagai anak saya sendiri jadi saya tak akan membiarkan dia kembali disakiti oleh Andrian, kalau pun Andrian kembali menyakitkan Nayra saya tak akan membela Andrian walaupun dia anak kandung saya," ujar nyonya Kumala untuk meyakinkan.
Mendengar itu ada rasa sedikit lega karena Nayra mendapatkan mertua sebaik nyonya Kumala dan tuan Wijaya. Karena mereka tau bagaimana sifat keluarga Ghratama selama ini.
Di sisi lain, Nayra terbangun dari pingsannya. Kepalanya masih terasa berat dan pusing. Ketika melirik ke arah samping ia melihat Andrian tertidur pulas dengan tangan yang melingkar di perutnya itu.
"Apa yang sudah terjadi?" gumam Nayra masih memegang kepalanya. Ia sedikit lupa dengan kejadian tadi, terakhir ia mengingat ketika berbicara dengan para tamu dan tiba-tiba saja dunia ini terasa berputar selepas itu ia tak ingat lagi kejadian seterusnya.
"Kamu sudah sadar Sayang?" tanya Andrian dengan nada khas bangun tidur.
Nayra hanya memanggutkan kepalanya perlahan untuk menjawab pertanyaan Andrian. Lalu ia memposisikan dirinya bersandar di tepi kasur.
"Apa yang sudah terjadi padaku Mas?" tanya Nayra.
"Kamu tadi pingsan, dan kata dokter kamu hanya kecapean saja. Jadi kamu hanya perlu istirahat saja."
"Lalu dengan pestanya bagaimana? Dan Alden, aku tak pernah melihatnya seharian ini?" banyak pertanyaan yang lain ingin Nayra tanyakan untuk kejadian hari ini.
"Pestanya berjalan dengan baik, dan masalah Alden kamu tak usah khawatir! Dia bersama Mama sekarang. Lebih baik kamu istirahat untuk memulihkan kondisi tubuhmu, besok pagi kita akan balik ke rumah," seru Andrian menjelaskan.
Nayra melihat sekeliling mereka, ia rasa begitu asing melihat tempat ini, memang ternyata mereka ada di hotel. Dan tak sengaja Nayra melihat bajunya yang sudah diganti sontak membuat Nayra membelakan matanya dengan bulat.
"Mas! Siapa yang menggantikan pakaianku?" tanya Nayra.
"Akulah!" ujar Andrian dengan begitu entengnya.
Nayra langsung sedikit menjauh dari Andrian dan menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, walaupun ia sedang menggunakan baju saat itu.
"Kenapa Mas yang menggantikan baju Nayra? Kenapa Mas tak izin dulu," ujar Nayra sedikit memanyunkan bibirnya.
"Bagiamana aku izin dulu kepada mu Sayang, sedangkan kamu saja sedang pingsan. Aku tak mau ada orang lain yang melihat tubuhmu," ujar Andrian membuat Nayra merasa malu.
"Memangnya kenapa harus bertanya seperti itu?" tanya lagi Andrian.
"Aku malu," ucap Nayra dengan nada agak kecil tapi tetap didengar oleh telinga Andrian.
"Kenapa harus malu? Aku suamimu jadi kamu tak usah malu-malu seperti itu."
Sontak pipi Nayra langsung memerah mendengarkan ucapan Andrian tadi, ia sempat lupa bahwa sekarang mereka sah menjadi pasangan suami-istri, jadi Andrian berhak atas tubuhnya ini.
"Lebih baik kamu kembali istirahat lagi, biar pagi-pagi kita pulang ke rumah. Alden mungkin mencari mu karena tak pernah bertemu seharian ini," seru Andrian yang sedang mengelus-ngelus rambut panjang Nayra yang terasa begitu wangi.
Kruk... kruk... kruk...
Terdengar suara bunyi yang berasal dari perut Nayra, bahkan sampai Andrian mendengar bunyinya itu.
"Apakah kamu lapar?" tanya Andrian yang memang mengingat bahwa Nayra seharian ini belum makan.
Nayra hanya cengengesan sambil memanggutkan kepalanya karena memang dia begitu sangat lapar saat ini.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^