
🍁🍁🍁
"Kamu bisa duduk di sampingku, jangan berdiri seperti itu," ucap Nayra yang melihat Amanda hanya berdiri di depannya saja.
"Tidak usah Nona, saya berdiri saja."
"Ohya saya mau tanya sama kamu," ujar Nayra membuka obrolan.
"Nona mau bertanya apa kepada saya?"
"Dari kapan kamu bekerja di sini?"
"Tidak lama ini Nona, saya masih baru bekerja di sini."
"Apa kamu sudah punya suami atau pacar?" Nayra lagi-lagi bertanya kepada Amanda karena dia begitu penasaran dengan asisten pribadi suaminya ini. Mungkin pertanyaan Nayra terkesan ke arah pribadi tapi dia begitu penasaran.
"Maaf Nona, itu urusan pribadi jadi saya tak bisa menjawab pertanyaan dari Nona. Kalau ada yang ditanyakan tentang perusahaan, saya bisa jelaskan."
"Maaf membuat dirimu tidak nyaman dengan pertanyaan saya."
"Tidak papa Nona!"
"Kapan kamu ke sini sayang?" tiba-tiba seseorang pria dengan tubuh tinggi masuk ke sana. Dia sedikit terkejut melihat Nayra datang ke perusahaannya untuk pertamakali setelah menikah.
"Ah i-itu Nayra mau membawakan Mas sarapan karena tadi Mas lupa untuk sarapan," ujar Nayra.
Amanda sedikit cemburu melihat keromantisan mereka, tapi dia harus menyadarkan dirinya bahwa mencintai laki-laki beristri itu salah tapi hati ini tak bisa memungkiri bahwa Amanda iri dengan itu.
Nayra melirik sedikit ke arah Amanda yang raut wajahnya berbeda seketika. Tangannya sedikit mengepal ketika Andrian memanggil Nayra dengan sebutan sayang.
"Aku curiga kalau Amanda ini suka sama Mas Andrian, aku harus hati-hati dengannya," gumam Nayra sedikit melamun melirik Amanda yang ada di sampingnya.
"Hey! Kenapa kamu melamun?" tanya Andrian yang melihat Nayra melamun sedari tadi.
"Ah itu Nayra sangat merindukan Mas sejak pagi tadi, makanya Nayra ke sini dengan beralasan membawakan Mas sarapan," ujar Nayra langsung memeluk lengan suaminya.
Nayra sengaja melakukan itu di depan Amanda agar dia membuktikan bahwa Amanda emang benar menyukai suaminya. Dan reaksi Amanda langsung berpaling ke arah lain untuk menghindari keromantisan yang ia lihat.
Sedangkan Andrian merasa bingung dengan perlakuan Nayra padanya yang begitu manja, tak biasanya dia seperti ini apalagi ada orang yang melihatnya saat ini.
"Kamu kesambet apaan Sayang? Kenapa kamu jadi manja seperti ini?" tanya Andrian yang melihat Nayra masih bergelantungan di lengannya.
"Tidak papa Sayang! Aku hanya rindu dengan mu saja, lagipula bukanya kamu suka aku seperti ini?" Nayra tambah memanas-manasi suasana agar Amanda asisten pribadi suaminya itu sadar bahwa bosnya itu sudah mempunyai istri dan begitu sayang padanya.
Andrian agak sedikit heran dengan sikap Nayra yang tak biasa tapi dia suka dengan Nayra saat ini. Tapi Andrian agak tidak enak karena ada Amanda di dalam sana.
"Amanda!" panggil Andrian.
"Iya Tuan ada apa?"
"Kamu bisa keluar dulu."
"Baik Tuan."
"Kamu malu kan dilihat sama asisten mu dengan keromantisan yang kita buat?" ujar Nayra dengan suaranya yang lumayan besar agar Amanda bisa mendengarnya.
Dan memang benar Amanda mendengar itu ketika dia ingin keluar dari ruangan itu. Dan setelah Amanda keluar, Nayra langsung melepaskan pelukannya dari Andrian.
"Kenapa kamu lepas pelukannya?" tanya Andrian yang kembali aneh dengan tingkah istrinya.
"Tidak papa! Nayra sudah puas menemui Mas," ucap Nayra dengan mata yang melirik ke arah luar melihat Amanda.
Andrian pun mengikuti arah pandangan istrinya, lalu ia menyadari tentang apa yang dilakukan istrinya tadi. Dia menatap Nayra tajam dengan memicingkan matanya.
"Kamu berpura-pura romantis di depan asisten ku karena kamu cemburu?" tanya Andrian mengintimidasi.
"T-tidak! Nayra memang benar rindu sama Mas, dan Nayra membawakan bekal buat sarapan Mas. Pasti Mas belum sarapan kan?" Nayra gugup lalu mengalihkan pembicaraannya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu belum menjawab pertanyaan ku."
"Baiklah kalau gitu, sekarang tidak ada dia di sini, jadi kita bisa sepuasnya melakukan apapun di sini."
Andrian melangkah lebih dekat di hadapan Nayra, sedangkan Nayra memundurkan langkahnya. Dia tau apa yang dimaksud suaminya itu.
"Mas! Nayra merasa mual," ucap Nayra.
"Aku tau kamu hanya alasan saja untuk menghindar."
Andrian pun memajukan tubuhnya lebih dekat lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nayra. Sedikit lagi Andrian mendekati bibirnya lebih dekat dengan Nayra.
Tetapi tiba-tiba Nayra merasakan mual sampai ingin memuntahkan semua isi perutnya.
"Huek___" Nayra berlari menuju wastafel di kamar mandi yang ada di dalam ruangan Andrian. Dia memuntahkan semuanya di dalam sana.
"Huekk___" lagi-lagi Nayra muntah hingga beberapa kali membuat Andrian begitu khawatir.
"Apakah kita ke dokter saja? Dari tadi malam kamu muntah-muntah terus," ucap Andrian yang panik melihat kondisi Nayra.
"Tidak papa Mas! Nayra baik-baik saja."
"Bagaimana kamu baik-baik saja ketika dirimu tak henti-hentinya muntah?"
"Tenang Mas! Nayra baik-baik saja, Nayra juga sudah ke dokter dan kata dokter Nayra tak apa-apa."
"Kenapa kamu tak menyuruhku untuk membawa mu ke dokter? Biar aku yang mengantarkan mu. Lalu apa kata dokter?"
"Tidak usah, Nayra tak mau merepotkan Mas. Nayra tau Mas saat ini begitu sangat sibuk."
Nayra pun mengeluarkan sebuah kertas putih dari tas yang dia bawa. Dia memberikan kertasnya pada Andrian.
"Apa ini?"
"Baca saja! Tadi kata Mas ingin mengetahui bagaimana keadaan Nayra."
Andrian pun membaca kertas itu dengan cara seksama. Berbagai raut wajah yang diekspresikan oleh Andrian ketika membacanya, ketika diakhir dia tersenyum lebar melihat hasil dari surat itu.
"Ini benar?" tanya sekali lagi Andrian memastikan.
"Iya," ucap Nayra menganggukkan kepalanya.
"Ahh! Aku tak menyangka ini berita yang sangat paling bahagia yang pernah aku baca, terima kasih sayang," Andrian memeluk Nayra dengan begitu erat karena begitu bahagia dengan kabar kehamilan istrinya itu.
Di sisi lain terlihat Amanda sedikit mengintip ke dalam pintu yang memang ada celah melihat ke dalam. Awalnya dia ingin masuk untuk membawakan bosnya dan istrinya minuman tapi dia terhenti ketika melihat mereka berdua berpelukan.
"Seharusnya aku tak usah masuk, nanti mengganggu mereka," ucap Amanda kembali balik untuk menaruh minumannya.
"Mas lepaskan! Nayra tak bisa nafas," ucap Nayra dengan suara terengah-engah karena pelukan Andrian yang begitu kuat.
"Maafkan aku Sayang, aku terlalu bahagia sampai lupa ada janin di dalam perutmu sekarang."
"Apakah Mama dan Papa sudah tau tentang ini?"
"Iya, Mama yang menyuruh Nayra untuk ke sini."
"Seharusnya aku yang tau pertama, tapi tidak papa! Aku begitu bahagia saat ini. Kira-kira anak kita jenis kelamin apa ya?"
"Mas-mas! Ini masih baru umur 2 Minggu tidak mungkin bisa tau jenis kelaminnya secepat itu."
"Mas begitu tak sabar menunggu hal itu tiba."
"Ohya! Nayra membawakan Mas makanan, Mas makan saja dulu biar tak sakit."
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^