
🍁🍁🍁
"Sudah-sudah! Lebih baik kita kembali ke topik pertama tentang tes DNA." Nathan kembali merubah topik utama karena malas membahas tentang statusnya yang jomblo.
"Lalu berapa lama hasil tesnya akan keluar?" tanya Andrian.
"Mungkin paling lama satu Minggu."
"Apa tidak ada cara lain agar tesnya cepat keluar. Aku butuh tes itu besok."
"Waduh kalau besok kayaknya nggak mungkin."
"Atau bisa dua hari, aku sangat ingin tau hasilnya."
"Hm... Bagaimana ya?" Nathan berpikir-pikir karena agak sedikit kemungkinan tesnya akan keluar dalam waktu yang begitu singkat.
"Kamu usahakan saja, aku minta tolong banget."
"Oke-oke! Aku usahakan dalam dua hari tesnya akan keluar, tapi aku tidak janji bila tesnya keluar dalam dua hari."
"Baik-baik, tapi kamu harus usahakan bagaimana pun caranya."
Cerita sedikit tentang Nathan.
Nathan Wiliyam adalah nama panjang Nathan. Ia adalah keluarga Wilayah yang mempunyai rumah sakit di mana Nathan sekarang bekerja, tapi selain menjadi dokter dia juga memegang perusahaan ayahnya karena dia saat ini anak tunggal di keluarganya. Keluarga Grahatama dan keluarga Wilayah sama-sama kaya, bahkan kerap kali keluarga Wiliyam bisa mengalahkan kekayaan keluarga Grahatama.
Nathan berumur 28 tahun lebih muda dibandingkan Andrian. Nathan, Andrian serta Kelvin bersahabat sejak kecil karena keluarga besar mereka itu bersahabat baik.
Sempat Nathan mempunyai adik perempuan dan akan mereka jodohi dengan Andrian tapi sayang baru lahir di dunia ini adik Nathan sudah dikabarkan meninggal.
Jadilah Nathan hanya anak tunggal sama seperti Andrian. Dan begitu pula perjodohan itu dibatalkan dikarenakan orang tua Nathan tak lagi mempunyai anak perempuan.
***
Terakhir kali Andrian datang ke rumah sakit hanya ketika hari di mana Alden operasi saja, selebihnya ia tak mau datang ke sana sebelum hasilnya keluar. Bahkan Nayra merasa janggal kenapa Andrian tak pernah lagi datang menjenguk Alden, apa mungkin Andrian lagi sibuk-sibuknya di kantor.
“Ah... Kenapa aku memikirkan itu si? Memangnya apa yang aku harus harapkan dari dia? Dia saja tak tau Alden itu anaknya. Wajar kalau dia tak datang ke sini,” gumam Nayra.
Nayra hanya sendiri merawat anaknya di rumah sakit tanpa ada yang menggantikannya. Baim sesekali ke sana membantu Nayra untuk menjaga Alden, tapi Baim juga mempunyai pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan jadi ketika waktu senggang saja Baim ke rumah sakit.
Selama Alden di rawat di rumah sakit Nayra tak pernah istirahat, bahkan tidurnya saja Nayra seharinya bisa 3 jam paling lama selebihnya Nayra terus menjaga Alden. Karena di tengah malam Alden sering terbangun dan merengek kesakitan di bagian kepalnya. Membuat Nayra tak bisa tenang tidak ketika malam tiba.
“Mah...” panggil Alden dengan suara yang masih lemas.
“Iya Sayang! Ini Mama,” ujar Nayra menyahut panggilan dari Alden.
“Mah, kenapa Papa tidak pernah pulang? Bahkan ketika Alden sakit pun Papa tidak pernah datang menemui Alden. Apakah Papa tidak sayang dengan Alden?” tiba-tiba saja Alden bertanya seperti itu dikeadan seperti ini. Bahkan Nayra saja tak tau harus menjawab apa.
“Papa sayang kok sama Alden, tapi untuk saat ini Papa nggak bisa datang. Kan Mama udah katakan Papa kerja biar bisa beliin Alden permainan sama es cream banyak-banyak,” itulah yang sering Nayra katakan untuk membohongi anaknya.
Tiba-tiba saja Alden mengungkapkan dirinya sering di bully. Bahkan perkataannya begitu sangat dewasa padahal umurnya masih kecil.
“Teman-teman siapa yang sering membully Alden?”
“Teman-teman sekolah. Dia katakan bahwa Alden nggak punya Papa, Alden anak haram dan Alden jyva anak yatim.”
Nayra kembali teringat tentang perkataan guru Alden waktu itu bahwa Alden sering menganggu teman-temannya. Mungkin ini sebabnya Alden menganggu temanya karena sering di bully.
“Jadi sebab itu Alden sering menganggu teman-teman di sekolah.”
“Iya...” Alden menganggukkan kepalanya sambil merasa takut bila mamanya akan marah dengan sikapnya di sekolah.
“Alden Sayang! Bila ada orang yang mengatakan Alden, kita tidak boleh kembali membalaskan sakit hati kita. Cukup diam saja nanti mereka akan bosan sendiri mengejek kita,” nasehat Nayra.
Memang tidak mudah menghadapi bully seperti Alden. Apalagi Alden masih begitu kecil untuk menghadapi bullying seperti ini. Tapi bagaimana lagi, Nayra takut bila anaknya kenapa-napa gara-gara sering membalas dendam atas sikao teman-temannya.
“Tapi Alden diam, mereka semakin mengolok-olok Alden.”
“Kalau gitu, Alden bisa laporkan ke guru Alden atau Alden bisa ceritakan ke Mama biar nanti Mama yang memberitahu teman yang sering membully Alden agar tak lagi melakukan itu.”
“Cobak saja Alden punya Papa yang ada di sini, mungkin Alden nggak akan di bully.”
“Shitttt... Alden nggak boleh ngomong gitu, Papa juga jauh dari kita demi kita juga. Jadi jangan katakan itu lagi.”
“Iya Mau! Maafkan Alden.”
Nayra tak kuasa ingin menitikkan air matanya, tapi karena di depan Alden ia harus kuat untuk menahan air matanya agar tak keluar.
Siapa ibu yang tak seding mendengarkan anaknya di bully seperti itu. Bahkan di sebut anak haram dan anak yatim. Tapi apa boleh buat, ia harus kuat mendengarkannya itu demi anaknya tak merasakan dampak sepertinya.
Di sisi lain, ada Dede pria berdiri di dekat pintu ruangan Alden. Ia mendengarkan semua obrolan Alden dengan Nayra. Ia merasa tak guna sebagai seorang ayah.
Andrian megepalkan tangannya begitu kuat ketika mendengar anaknya di bully di sekolah. Selama ini ia bersenang-senang dengan kehidupan mewahnya sedangkan darah dagingnya sendiri begitu tersiksa setiap hari mendapatkan bullying. Demi permainan dan es cream Alden bersabar menunggu papanya pulang sambil membawakan apa yang Nayra sudah bohongin selama ini.
“Papa sudah datang Nak,” guamam Andrian.
“Sekarang apapun yang kamu inginkan akan Papa penuhi, dan kamu tak lagi merasakan di bully oleh teman-teman mu. Tunggu Papa Nak,” ujar wdalam hati sambil melihat Alden baru ditiduri oleh Nayra.
Sehari setelah tes DNA itu, Nathan mengabari bahwa hasil tes DNA itu sudah keluar dengan waktu pengerjaan satu hari. Tanpa lama-lama Andrian langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat hasilnya dan ternyata memang benar bahwa dugaannya selama ini bahwa Alden adalah anaknya.
Tanpa berpikir panjang Andrian langsung menuju rumah sakit di mana Alden di rawat. Ia akan membongkar semua kebohongan Nayra selama ini, tapi karena ia melihat Nayra sedang berbicara dengan Alden. Ia pun urungkan niatnya untuk masuk ke dalam.
Tapi ketika Nayra keluar dari ruangan kamr Alden. Tanpa aba-aba Andrian langsung menarik tangan Nayra menuju tempat yang agak sepi.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^