
🍁🍁🍁
Dret... dret... dret...
Ponsel Andrian sedari tadi berdering tak henti-hentinya. Tapi karena dia sedang meeting jadi dia tak enak mengangkat telponnya. Bahkan sampai Andrian ingin mematikan ponselnya untuk tak mengganggu rapatnya kali ini.
"Kalau memang telponnya sedari tadi berdering sebaiknya Tuan mengangkatnya saja, siapa tau itu penting," bisik Tiara yang sedari tadi mendengar ponsel bosnya berdering.
"Kalau gitu saya permisi untuk mengangkat telpon, kamu yang menggantikan saya untuk presentasi," bisik lagi Andrian.
Tiara pun menggantikan bosnya untuk persentasi sementara bosnya balik setelah mengangkat telpon.
Ketika sudah ada di luar Andrian melihat panggilan dari mamanya sudah hampir 20 kali tak terjawab. Andrian pun balik menelpon mamanya mungkin ada yang penting sehingga mamanya menelpon sampai puluhan kali.
Tut... Tut... Tut...
Tak lama Andrian menghubungi mamanya, mamanya pun mengangkat telpon darinya.
"Hello Mah ada apa menelpon Andrian sampai puluhan kali?" tanya Andrian lewat telpon.
"N-nayra___ Nayra hiks... Andrian Nayra___" terdengar suara mamanya sedang menangis membuat dia tak jelas mengatakan apa pada Andrian.
"Nayra kenapa Mah?" Andrian sudah panik mendengarkan mamanya menangis menyebut nama istrinya.
"Nayra kenapa Mah? Jawab Andrian?" lagi-lagi Andrian bertanya pada mamanya di sebrang sana karena tak ada sahutan sama sekali. Hanya ada isak tangis yang Andrian dengarkan dari balik ponselnya.
"Nayra kecelakaan Sayang! Sekarang dia ada di rumah sakit XX," seru mamanya membuat Andrian terkejut.
"Mama jangan bercanda seperti ini, Andrian tak suka bercanda kayak gini," Andrian masih tak terima bila memang Nayra saat ini kecelakaan.
"Mama tak bohong Sayang! Nayra saat ini sedang kritis, Mama minta kamu secepatnya datang ke sini. Nayra membutuhkan mu sayang."
Brak!
Ponsel Andrian terjatuh ke lantai sampai pecah. Tangannya lemas mendengar bahwa wanita yang ia cintai sekarang dalam kondisi kritis. Mata Andrian terlihat sedikit memerah ingin menangis.
Sedangkan di sisi lain nyonya Kumala melihat panggilnya terputus dengan Andrian.
Tanpa pikir panjang Andrian langsung berlari keluar dari perusahaannya meninggalkan meeting nya dengan para investor tersebut. Semua para karyawan yang melihat Andrian berlari keluar langsung tercengang, karena seorang Andrian tak pernah berlarian seperti ini di dalam perusahaan.
Sedangkan Tiara yang menunggu Andrian tak kunjung-kunjung datang. Tiara pun meminta izin kepada para investor itu untuk mencari tuannya itu.
"Di mana Tuan Andrian? Kenapa dia sampai saat ini belum kembali?" dengus Tiara begitu kesal karena dia begitu grogi menghadapi investor itu sendirian.
"Eh apa kamu melihat Tuan Andrian tadi?" tanya Tiara kepada karyawan yang lewat di depannya.
"Tuan Andrian tadi keluar dari kantor dengan berlari, saya tidak tahu kenapa Taun berlari seperti itu. Sepertinya Tuan sedang buru-buru," jelas karyawan itu.
"Kalau gitu saya pamit dulu Mbak!" ujar lagi karyawan itu berlalu pergi melewati Tiara.
"Apa yang sudah terjadi sehingga Tuan pergi tanpa izin dulu?" Tiara berpikir keras dan gelisah dengan tingkat bosnya seperti itu. Dan dia sekarang tak tau harus menghadapi investornya sendirian.
Di sisi lain Andrian dengan kecepatan tinggi mengendarai mobil nya hingga tak lama kemudian dia sampai di rumah sakit tempat Nayra di bawa.
Ketika sampai di sana dia langsung menuju resepsionis untuk bertanya di mana ruangan Nayra saat ini.
"Nona Nayra saat ini sedang menuju ruang operasi Tuan."
Setelah tau di mana posisi istirnya Andrian langsung bergegas ke sana tanpa mengeluarkan sepatah katapun kepada resepsionisnya. Ketika sampai di depan ruang operasi tersebut dia melihat Nayra sedang di masukin ke dalam sana.
"Apa boleh saya masuk menemani istri saya?" tanya Andrian kepada dokter dan para perawat itu.
"Maaf Tuan, tidak boleh ada yang masuk kecuali tenaga medis. Ini bisa mempengaruhi jalannya operasi," seru dokternya.
"Sudah An! Biarkan dokter melakukan yang terbaik untuk istrimu," nyonya Kumala menangkan anaknya.
Para medis pun membawa Nayra masuk ke dalam. Andrian memandang lekat wajah istrinya yang berlumuran darah, sakit? Andrian begitu sakit dan kacau melihat istrinya dengan kondisi seperti itu.
Selama operasi berjalan Andrian tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan istrinya, dia mondar-mandir tak jelas di sana seperti orang kehilangan arah.
Di sana terlihat ada tuan Wijaya, nyonya Kumala, tuan Wisnu, dan nyonya Diana berada di sana menunggu Nayra. Dan nampak ada Nathan juga yang berada di sana, tapi Andrian tak menghiraukan keberadaannya di sana.
Nathan lah yang membawa Nayra ke rumah sakit, karena dia tak sengaja di tempat kejadian itu. Karena dia dokter jadi tau bagaimana penolongan pertama bagi orang kecelakaan, tapi Nathan sudah tak lagi menjadi dokter karena saat ini dia sedang mengurus perusahaan dan usaha-usaha keluarganya yang begitu banyak sehingga dia tak lagi kerja di rumah sakit.
"Ini semua salahmu Andrian! Kau laki-laki berengsek! Kau sudah berjanji akan menjaga dai tapi kenapa dia bisa seperti ini gara-gara dirimu," Andrian menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan Nayra. Bahkan ingin ia memukuli dirinya yang bodoh ini.
"Sudah Andrian! Jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini sudah jadi takdir jadi kamu tak perlu menyalahkan diri sendiri atas semua kejadian ini," ujar nyonya Diana mamanya Nayra.
Nyonya Diana begitu sedih dan terpukul atas yang menimpa putrinya itu tapi bagaimana pun dia harus tabah dan ikhlas menerima ini semua, dan pasti Andrian lebih terpukul karena dia adalah suaminya Nayra.
"Maafkan Andrian Mah! Andrian gagal menjadi suami yang baik dan gagal untuk menjaga Nayra," lirih Andrian berlutut dihadapan mama mertuanya itu.
"Kamu tidak salah Sayang! Ini semua sudah takdir, hiks..." tangis pecah dikeluarkan nyonya Diana melihat Andrian terpukul seperti itu. Di ruang tunggu operasi itu terdengar suara tangisan pecah gara-gara tangisan nyonya Diana dan nyonya Kumala, sedangkan Andrian masih menahan tangisannya tapi terlihat matanya sudah memerah.
Sedangkan tuan Wijaya dan tuan Wisnu menahan kesedihannya agar para istirnya tak tambah gelisah. Nathan yang melihat kejadian itu juga merasakan sedih dia berharap semuanya akan baik-baik saja.
Dret... dret... dret...
Suara ponsel Nathan berdering dan langsung mengangkatnya. Ia menerima telpon dari bengkel tempat Nathan membawa mobil Nayra.
Telpon.
"Bagiamana keadaan mobilnya? Apakah ada hal yang menjanggal?"
"Ada kebocoran pada sil meter membuat ketika di rem tak berfungsi. Ini seperti disengaja agar yang mengendarai kenapa-napa di jalan," tukang bengkel itu menjelaskan secara rinci permasalahan mobilnya.
"Terima kasih Pak infonya," Nathan pun mematikan ponselnya.
Nathan sudah menduga ada hal yang janggal terjadi, tak mungkin Nayra bisa menabrak pohon besar didepannya bila tak terjadi apa-apa pada mobilnya.
Dengan cepat Nathan menghampiri Andrian untuk memberitahu masalah ini. Ketika Andrian mendengarkan penjelasan Nathan atas apa penyebab kecelakaan ini membuatnya mengeraskan rahangnya.
"Suruh kerahkan semua orang-orang kita untuk mencari tahu siapa dibalik semua ini. Setelah mereka menemukan pelakunya, kasih tau aku karena aku sendiri yang akan memberikannya hadiah atas apa yang mereka lakukan pada istri dan calon anakku."
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^