My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 54



🍁🍁🍁


Sesampai di ruang kerjanya, Andrian sudah di sambut oleh sekretaris nya yaitu Tiara. Selain Sekretaris Tiara juga menjabat sebagai asisten Andrian untuk sementara waktu ini.


Mau bagaimana lagi setelah Nayra keluar dari kantor ini Tiara lah yang melakukan segala sesuatu untuk Andrian. Dan sampai saat ini ia belum menemukan asisten pribadi untuk Andrian yang cocok.


"Selamat pagi Pak Andrian..." sapa Tiara Begu ramah tak lupa sedikit membungkukkan kepalanya untuk menghormati bosnya itu.


"Hm..." jawab Andrian dengan singkat padat dan jelas.


"Bagaimana keadaan kantor selama saya jarang ada di perusahaan?" tanya Andrian sambil membolak-balikan dokumen yang harus ia tanda tangani.


"Perusahaan berjalan dengan lancar, tapi ada sedikit kendala kemarin tapi saya sudah atasi semuanya," jawab Tiara.


"Apakah kamu sudah menemukan asisten pribadi untuk saya?"


"B-belum Tuan! Kriteria yang Anda inginkan sangat sulit untuk ditemukan. Apalagi yang bisa lebih baik daripada Nayra, itu sangat sulit untuk ditemukan."


"Tidak pa-pa! Sebelum kamu mendapatkan asisten pribadi untuk saya, kamu yang akan menjadi asisten saya sekaligus sekretaris saya."


Tiara hanya terlihat lesu mendengarkan perkataan bosnya itu. Sampai kapan dia berhenti tertekan bekerja di sini. Sebagai sekretaris saja dia ingin menyerah apalagi sekarang menjadi asisten pribadi bosnya ini, pasti sangat melelahkan.


"Apa jadwal saya hari ini?" tanya Andrian.


"Pagi ini Anda ada rapat dengan karyawan perusahaan, setelah itu siang nanti ada ada janjian dengan Tuan Alvin di perusahaannya mengenai kerja sama kemarin. Sore dan Malam Bapak tidak ada pertemuan lagi," Tiara menjelaskan secara rinci jadwal Andrian.


"Nanti siang aku tak bisa menemui Alvin karena aku ada urusan penting di luar, jadi kamu yang menggantikan diriku untuk menemui Tuan Alvin di perusahaannya."


"Saya Pak?" tanya Tiara menujuk dirinya.


"Iya, siapa lagi yang ada di sini kalau bukan kamu."


"Tapi Pak_"


"Tak ada tapi-tapian, kalau kamu membantah siap-siap gajimu akan dipotong dua puluh persen," ancam Andrian membuat Tiara tak bisa berkutik apa-apa.


"Baiklah Tuan! Kalau gitu saya permisi dulu Pak," Tiara pun keluar dari ruangan Andrian.


Di dalam Andrian masih mengerjakan pekerjaannya agar cepat selesai sebelum siang nanti, bahkan sampai Andrian lupa memberitahu Nayra kalau ia akan ke sana menjemputnya mencari gaun serta cincin pernikahan.


Andrian merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan ke Nayra untuk mengetahuinya.


Pesan untuk Nayra :


"Nay, nanti siang aku akan ke apartemen untuk menjemput mu. Mama menyuruhku untuk mengajak mu mencari gaun pernikahan dan cincin pernikahan."


Pesan pun terkirim ke Nayra. Nayra yang memang sedang memainkan ponselnya langsung melihat pesan dari Andrian. Setelah membaca pesannya Nayra pun membalas pesan dari Andrian.


Pesan untuk Andrian :


"Bukannya ini terlalu cepat?"


Setelah mengirim pesannya, Andrian pun menerima pesan dari Nayra lalu membacanya. Setelah itu ia kembali membalas pesan dari Nayra.


Pesan untuk Nayra :


"Sebenarnya ini keinginan Mama, jadi aku tak bisa menolak keinginan Mama. Tapi kalau kamu tak mau, yasudah tidak pa-pa! Nanti aku yang akan bicara dengan Mama."


Pesan untuk Andrian :


Mendapatkan balasan dari Nayra, Andrian pun sumringah senang. Ternyata Nayra mau menuruti keinginan mamanya walaupun ia tau bahwa Nayra pasti masih berat dengan penarikan ini.


Tak lama-lama Andrian selesai mengerjakan pekerjaan kantornya, lalu bersiap-siap untuk menjemput Nayra di apartemennya karena ini sudah menjelang siang.


Kurang empat puluh menit Andrian sudah sampai di apartemennya. Ketika memasuki apartemennya ia mendapati anaknya sedang menonton tv dengan bik Lastri.


"Hallo jagoan! Apa kabar?" sapa Andrian sambil menuju anaknya itu.


"Papa..." teriak Alden sambil berlari menuju Andrian. Ketika sudah sampai depan Andrian, Alden pun langsung memeluk papanya itu.


Sontak Andrian begitu kaget mendengarkan Alden menyebutnya papa. Padahal ia belum sama sekali memberitahu Alden bahwa ialah ayah kandungnya.


"Akhirnya Alden mempunyai Papa," ujar Alden yang masih memeluk erat kali papanya karena tubuhnya tak bisa mungilnya tak bisa menjangkau badan tinggi Andrian.


Andrian pun menjongkok kan badannya untuk menyepadankan tingginya dengan tinggi badan anaknya.


"Cobak katakan lagi Sayang?" seru Andrian begitu terharu. Soalnya ini pertama kalinya ia mendengarkan dirinya dipanggil "papa" oleh anaknya sendiri.


"Papa..." ujar Alden dengan polosnya.


Spontan Andrian langsung memeluk erat anaknya itu dan mengusap-usap rambut anaknya itu.


Bik Lastri yang melihat Andrian begitu bahagia, menjadi ikutan bahagia dan terharu. Begitu juga dengan Nayra yang baru saja keluar dari kamar untuk siap-siap, ia juga melihat pertemuan ayah dan anak itu dengan penuh kasih sayang. Sampai tak sadar bahwa air matanya terjatuh ke pipi mulusnya itu.


Tapi air mata kali ini tak untuk kesedihan melainkan air mata kebahagiaan ketika melihat anaknya sudah mendapatkan papanya yang selama ini ia cari-cari.


"Nak! Sekarang jawabanmu selama ini sudah terjawab kan, sekarang Papa mu sudah kembali membawakan mu permainan yang sering Mama ceritakan ke kamu," lirih Nayra.


Setelah saling memeluk sama lain, akhirnya mereka melepaskan pelukannya. Andrian masih berpikir siapa yang memberitahu Alden bahwa dia adalah papanya, apakah itu adalah Nayra tapi mana mungkin Nayra secepat itu memberi tahu Alden tentang masalah ini.


"Kenapa Papa tak pernah bilang kalau Om tampan adalah Papanya Alden?" tanya Alden dengan polosnya.


"Maafkan Papa sayang, Papa tak bermaksud seperti itu tapi Papa janji apapun yang anak Papa ini mau Papa akan berikan," ujar Andrian.


"Janji?"


"Iya, Papa janji apapun yang Alden mau Papa berusaha untuk turuti semua kemauan anak Papa satu-satunya ini."


"Kalau gitu Papa belikan Alden mobil-mobilan yang Alden inginkan," ucap Alden yang langsung meminta permainan ke papanya.


"Tapi Papa harus pergi dulu sekarang dengan Mama, nanti ketika Papa pulang akan Papa bawaan mobil-mobilan yang Alden mau, bagaimana?" tanya Andrian.


"Alden mau ikut!!!" ujar Alden yang juga ingin ikut.


"Untuk kali ini Alden nggak bisa ikut, Alden kan masih sakit jadi nggak bisa pergi ke mana-mana untuk sementara waktu ini," tiba-tiba saja Nayra muncul di belakang Andrian untuk melarang Alden untuk ikut.


"Tapi Alden juga mau ikut," ujar Alden yang ingin sekali ikut.


"Apa Alden mau masuk rumah sakit lagi?" tanya Nayra dan Alden menggeleng-geleng kan kepalanya.


"Nggak mau kan masuk rumah sakit? Jadi Alden jangan ikut biar tidak tambah sakit lagi."


Bukannya Nayra tak mau mengajak Alden untuk ikut tapi ia takut Alden akan sakit bila ikut bersama mereka mutar mencari gaun dan cincin pernikahan. Sedangkan kondisi anaknya masih lemas seperti ini.


See you again...


LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^