
🍁🍁🍁
"Apa kamu mau mendengarkan bagaimana isi hati ku? Sekarang aku katakan bahwa aku sangat mencintai mu, aku sangat menyayangimu. Dan aku begitu cemburu jika ada pria lain yang lebih akrab dengan mu dari pada aku. Aku tak mau jika kamu terlalu dekat dengan pria siapapun selain aku, mengerti?"
Mendengar itu mata Amanda berkaca-kaca. Dia terharu mendengar itu, dia merasa lega karena tau bagaimana perasaan suaminya pada dirinya.
"Sekarang apa kamu puas mendengar jawaban ku atau apa aku harus membuktikannya?" tanya Nathan sekali lagi.
"Tidak perlu, aku sudah percaya dengan omongan mu. Terima kasih telah mencintai wanita seperti diriku."
Sekarang Amanda lebih dulu memeluk Nathan. Dia sudah tak takut lagi jika duluan memeluk suaminya itu.
***
Satu bulan kemudian
Pagi siang dan malam terus bergantian. Rumah tangga Nathan sudah mulai berkembang dan mereka sudah saling mencintai satu sama lain.
Begitu juga dengan rumah tangga Andrian yang selalu didatangkan kebahagiaan belakangan ini. Dengan keluarga kecilnya membuatnya setiap hari harmonis.
Tapi satu membuat ceritanya masih tetap berlanjut, ketika nyonya Wiliam masih tak merestui hubungan antara Nathan dengan Amanda. Satu bulan ini mereka tak pernah berkomunikasi sejak kejadian itu.
Nathan juga tak pernah lagi pulang ke rumah utama, dia tetap bersama istirnya di apartemen yang selama ini mereka tinggali.
"Apa positif?" tanya Nathan terlihat harap-harap cemas.
Amanda tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan testpack yang bergaris dua itu.
Melihat hasilnya sontak Nathan langsung memeluk istrinya dengan begitu bahagianya. Sangking erat pelukan Nathan membuat Amanda jadi sesak nafas.
"Lepaskan! Aku terasa sesak nafas!" seru Amanda sambil memukul-mukul dada bidang Nathan agar mau melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku Sayang! Maafkan Papa ya Baby!" ujar Nathan sambil mengelus perut rata Amanda.
"Nggak dimaafin!" seru Amanda dengan menurunkan suara anak kecil.
"Kalau nggak dimaafin, Papa ngambek nih," ucap lagi Nathan dengan memanyunkan bibirnya.
"Kamu kalau ngambek kayak anak kecil saja."
"Kan aku bayi besarnya kamu," seru Nathan.
"Untuk merayakan kehamilan mu, aku akan membuat pesta besar-besaran buat mu dan calon bayi kita. Semenjak kita menikah tak ada resepsi nya jadi ini sekaligus akan menjadi pesta pernikahan kita. Apa kamu mau?" lanjut Nathan dengan topik yang berbeda.
"Aku terserah kamu saja, tapi kurang jika kamu dan orang tuamu masih berseteru. Aku seperti perusak hubungan mu dengan orang tuamu terlebih dengan Mama mu yang sudah melahirkan mu."
"Sebenarnya aku juga merasa bersalah kepada Mama, tapi bagaimana lagi dia juga begitu keras kepala ingin memisahkan kita."
"Cobalah kamu pergi ke rumahnya, minta maaf padanya. Mungkin dia mau menerima ku sebagai menantunya."
"Akan ku coba, tapi untuk saat ini aku masih ragu ke rumahnya."
"Akan ku tunggu di mana kamu meminta maaf pada mereka, jikapun beliau masih belum merestui hubungan kita aku ikhlas tak dianggap di keluarga besar mu."
Amanda tau dia penyebab dari renggangnya hubungan suaminya dan mama mertuanya. Dia harus tanggung jawab atas itu semua.
"Aku tak akan membiarkan mu sendirian, jika mereka tak menganggap mu menantu, maka aku yang akan keluar dari keluarga itu. Paham?"
Amanda tersenyum tipis. Begitu besar cinta suaminya itu padanya.
"Biar aku yang bukakan pintunya."
Amanda membuka pintunya, lalu ia begitu kaget melihat siapa yang datang. Dia diam tak tau harus mengatakan apa pada tamu yang datang ke apartemen mereka.
"Siapa yang datang Sayang?" tanya Nathan dari dalam. Tapi sama sekali tak ada sahutan dari Amanda.
"Tante___" ujar Amanda terasa gugup.
Tiba-tiba saja nyonya Wiliam memeluk Amanda, sontak membuat Amanda jadi kaget dan mematung dipeluk oleh mertuanya itu.
Setelah beberapa detik memeluk Amanda, nyonya Wiliam pun melepas pelukannya lalu memandang lekat wajah menantunya itu. Sedangkan Nathan hanya diam di samping istirnya melihat apa yang akan dilakukan mamanya kepada istirnya tersebut.
"Maafkan saya! Saya sudah tau kebenarannya tetang pernikahan kalian. Saya sungguh meminta maaf pada Amanda telah menunduk kamu wanita macam-macam," lirih nyonya Wiliam sambil ingin berlutut meminta maaf pada menantunya itu.
Tapi dengan cepat Amanda langsung menghentikan aksi nyonya Wiliam.
"Nyonya jangan lakukan itu, saya sudah memaafkan semuanya, saya tak enak jika anda ingin berlutut meminta maaf pada saya."
"Terima kasih Nak! Saya ke sini juga ingin meminta maaf kepada Nathan agar mau memaafkan kesalahan Mama nya ini," lirih nyonya Wiliam sambil memandang ke arah Nathan.
"Nathan juga minta maaf telat membentak Mama dan membuat Mama menangis, maafkan Nathan yang sempat durhaka pada Mama," Nathan pun memeluk sang mama untuk menyalurkan kerinduan selama beberapa bulan tak bertemu.
Amanda yang melihat itu merasa bahagia dan terharu, apa yang diinginkan selama ini sudah terwujud. Matanya berkaca-kaca kembali mengingat almarhumah ibunya.
"Sekarang Mama minta kepada kalian untuk datang ke rumah utama, Mama ingin mengenalkan ke semua orang bahwa keluarga Wiliam mempunyai seseorang menantu yang cantik seperti ini."
Amanda menjadi tersipu malu dengan pujian dari mama mertuanya itu.
"Jangan lupa untuk memberi tahu bahwa keluarga Wiliam akan segera mempunyai cucu," celetuk Nathan membuat nyonya Wiliam tambah bahagia.
Nyonya Wiliam mengelus-elus perut yang masih rata itu, dia tak sabar akan melihat cucu pertama dari keluarganya akan lahir.
"Nenek akan menunggu kedatangan mu di dunia ini," sambil mengelus perut Amanda.
***
Terlihat acara malam ini begitu meriah, semua orang berbahagia. Terutama pemilik acara tersebut Amanda dan Nathan.
"Selamat bro! Sebentar lagi kamu akan menjadi Papa," ucap Kelvin memberikan selamat pada sahabatnya itu.
"Selamat ya Nat! Sekarang kamu puas-puasin diri untuk berduaan bersama istri, karena nantinya kamu akan repot berbagi dengan anakmu," bisik Andrian ke telinga Nathan.
"Kalian membisikkan apa sih?" tanya Kelvin begitu kepo.
"Jomblo nggak usah ikut campur, ini masalah orang dewasa," ejek Nathan membuat Kelvin berdengus kesal.
Mereka yang mendengar celotehan itu tertawa mendengarnya. Tak terlebih Nayra yang terlihat begitu repot sedang mengendong anaknya yang ikut serta dalam acara malam itu.
"Selamat ya Amanda atas pernikahan dan kehamilannya, aku harap kamu terus berbahagia sampai ajal menjemput," ucap Nayra memberi selamat pada Amanda.
"Terima kasih Mbak! Terima kasih juga atas pelajaran yang Mbak kasih kepada saya, sekarang saya sadar bahwa skenario Tuhan begitu bagus, asalkan kita sabar dan ikhlas menjalaninya."
Di sana mereka berbahagia menikmati musik dan makanan yang sudah di saji. Tak ada lagi lika-liku di kehidupan mereka, ya walaupun pasti ada krikil yang menghantam keluarganya tapi bisa mereka atasi dengan baik.
TAMAT __