
🍁🍁🍁
Di hari Minggu pagi ini terlihat seseorang ibu dua anak menyiapkan sarapan untuk keluarganya, walaupun sudah mempunyai dua orang anak tapi wajahnya masih terlihat seperti anak muda.
Sedangkan suaminya sedang menjaga anak-anaknya sambil bermain. Mereka tak bergantung dengan para pelayan, jika bisa mereka urusan sendiri mengapa harus membayar orang lain, itulah prinsip seorang Nayra membuat pola pikir Andrian sadar bahwa tidak semuanya harus dilakukan oleh para pembantu.
Bukan tak mampu untuk membayar pembantu atau baby sitter tapi mereka ingin menjadi keluarga kecil yang sederhana, yang bisa mengandalkan satu sama lain tanpa harus ada orang bercampur tangan di rumah tangga mereka.
Hanya ada Bik Lastri yang masih bertahan menjadi pembantu keluarga kecil Andrian.
"Sayang, ayok sarapan!" panggil Nayra yang sudah selesai menyiapkan sarapan di atas meja.
Sementara mereka sarapan, bik Lastri lah yang mengendong baby Nayaka sementara mereka sarapan, untung saja baby Nayaka tak rewel bila digendong oleh bik Lastri.
"Hari ini kamu rencananya mau ngapain?" setiap hari Andrian pasti menanyakan kegiatan istirnya itu.
"Setiap hari aku mengurus rumah dan anak, tapi karena ada Mas hari ini aku bebas dan Mas yang akan mengurus mereka berdua."
"Memangnya kamu mau ngapain hari ini?"
"Aku mau nonton drakor kesukaan ku, sebenarnya udah lama mau nonton ini tapi tidak ada kesempatan untuk bisa nonton, jadi Mas ya yang jaga anak-anak?"
Nayra memasang wajah imutnya agar suaminya tak menolak keinginannya, dia ingin sekali terbebas sebagai istri dan ibu rumah tangga di hari libur ini.
"Aku juga kerja setiap hari dan aku kerja buat kalian, jadi seharusnya aku yang dapat healing di hari Minggu ini."
"Lho kok gitu? Mas nggak mau ngalah ya sama istirnya sendiri?" Nayra memasang wajah cemberutnya agar suaminya mau mengikuti kemauannya.
"Bukan seperti itu Sayang, tapi___" belum saja Andrian selesai dengan omongannya malam dipotong oleh istrinya itu.
"Mas ya yang bertanggung jawab atas mereka berdua, siapa suruh mau buat anak. Setelah ada nggak mau diurus, pokoknya ini salah Mas!!!"
Seperti biasa perempuan tak mau kalah, jadi jika Andrian tak mau menghadapi masalah lebih serius ke depannya, dia harus mengalah sebelum bom meledak di rumahnya pagi ini.
"Iya Sayang! Hari ini aku yang akan menjaga anak-anak, kamu tonton saja selingkuh mu. Aku ikhlas!"
"Gitu dong! Dan pria di drakor itu bukan selingkuhan ku, tapi Mas lah selingkuhan ku karena dia lebih dulu ku kenal."
"Iya-iya! Aku yang selingkuhan, dia suami mu! puas sekarang?"
"Puas banget! Makasih ya selingkuhan mau mengerti!!"
Karena begitu bahagia mempunyai kesempatan menonton drama kesukaannya, dia pun dengan refleks mencium pipi suaminya di depan anaknya.
Wajah yang masam tadi langsung terlihat sumringah ketika mendapatkan ciuman dari istrinya itu.
Setelah selesai dengan drama pagi itu, mereka pun kembali menghabiskan sarapannya yang belum habis. Setelah itu mereka melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.
Seperti perjanjian, Nayra menonton drama kesukaannya di dalam kamar tanpa ada yang menganggu nya. Sedangkan Andrian mengurus anak-anaknya dengan bermain di ruang keluarga.
Sama halnya di kediaman apartemen Nathan, bedanya dia baru memulai sarapannya.
"Kamu duduk juga, temani aku sarapan!" perintah Nathan.
"Tapi___"
"Kamu duduk saja, aku tak terlalu suka bila sendiri sarapan seperti ini."
Karena ini perintah bosnya Amanda pun duduk buat sarapan di meja makan, dan hanya mereka berdua saja di meja makan tersebut.
Suara hening terpecahkan ketika suara ponsel Amanda berdering. Amanda menaruh ponselnya di dalam saku celananya.
Ketika mengangkat telpon, wajah Amanda langsung berubah. Wajahnya terlihat cemas dan air matanya mulai berjatuhan.
Melihat ekspresi wajah Amanda seperti itu, membuat Nathan jadi khawatir, takut ada apa-apa.
"Ada apa? Kenapa wajahmu berubah seperti itu setelah menerima telpon?" tanya Nathan setelah Amanda selesai mengangkat telponnya.
"I-ibuku di kampung masuk rumah sakit, dia di bawa karena ditemukan jatuh di kamar mandi."
Bibir Amanda bergemetar menceritakan hal itu pada Nathan.
"Pergilah! Aku tak melarang mu."
Mendengar dia diizinkan, Amanda langsung bergegas bersiap-siap untuk pergi ke kampung. Dia hanya membawa tas kecil yang berisikan dompet dan ponselnya, selebihnya dia tak membawa apapun karena begitu buru-buru untuk ke kampung.
Ketika keluar dari kamarnya Amanda mendapatkan Nathan berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada apa Kamu berdiri di sini?"
"Aku yang akan mengantar mu."
"Tidak usah! Aku bisa menggunakan kereta api, aku tak mau merepotkan mu."
"Apa kamu tidak mau cepat-cepat sampai bertemu Ibumu? Bila mengenakan kereta api, memakan waktu lama, prosesnya begitu panjang."
"Tapi___"
Belum mengatakan sesuatu, Nathan sudah menarik Amanda masuk ke dalam mobilnya. Walaupun Amanda menolak tawaran Nathan tapi dia kekeh untuk mengantarkan Amanda ke kampung halamannya.
Nathan tak mau jika Amanda kenapa-napa di perjalanan dengan kondisi cemas memikirkan ibunya, jadi dia berinisiatif untuk mengantarkan Amanda ke kampung.
Setelah perjalanan panjang akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit di sana, Amanda langsung bergegas masuk ke dalam menuju ke ruangan ibunya dengan diikuti Nathan dari belakang.
Setelah menemukan ruangan ibunya, Amanda langsung berhamburan memeluk ibunya ketika melihat kondisi ibunya begitu lemah tak berdaya seperti itu.
"Ibu___" lirih Amanda sambil mengelus-elus rambut ibunya.
"Sayang! Kamu sudah datang? Maafkan Ibu telah merepotkan mu selama ini," ucap ibunya dengan suara yang begitu lemas.
"Tidak Buk! Amanda tak merasa direpotkan selama ini. Lalu bagaimana Ibu bisa seperti ini?" tanya Amanda begitu khawatir dengan ibunya.
"Ibu tak bisa menjaga keseimbangan, jadi Ibu terjatuh di kamar mandi hingga pingsan seperti ini."
Bohong ibunya, padahal dia mempunyai penyakit kangker stadium akhir, dia tak mau memberitahu kondisi kepada Amanda agar anaknya tak kepikiran.
"Makanya Ibu hati-hati, Amanda jadi khawatir seperti ini."
Suara suster memanggil dari luar membuat mereka menghentikan pembicaraan mereka.
"Siapa keluarga pasien?" tanya suster yang datang itu.
"Saya anaknya Sus!"
"Anda bisa mengambilkan obat Ibu Anda di apotik rumah sakit," seru suster itu lalu berpamitan pergi.
"Amanda pergi ambilkan Ibu obat dulu ya!"
Amanda pun pergi dari sana meninggalkan ibunya dengan Nathan yang masih setia berdiri di sana.
"Nak!" panggil ibunya Amanda dengan suara lirih kepada Nathan.
"Saya Buk?" tanya Nathan menunjuk dirinya.
"Iya kamu!"
Nathan pun mendekatkan diri pada ibunya Amanda.
"Apa kamu pacar anakku?"
Pertanyaan itu membuat Nathan tak tau menjawab apa.
"Sebenarnya___" belum saja Nathan menjawabnya malah dipotong oleh ibunya Amanda.
"Sebenarnya Ibu mempunyai penyakit kangker stadium akhir, Ibu ingin sebelu kematian Ibu Amanda sudah menikah, jadi Ibu harap bila kamu serius dengan anak Ibu kamu nikahi dia sekarang juga di depan ku."
"Tapi___" Ingin menyanggah perkataan ibunya Amanda tapi dia begitu tak enak melihat ibu ini begitu berharap pada anaknya agar secepatnya menikah.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^