
🍁🍁🍁
"N-nayra Pah! Nayra dikatakan masih hidup tapi kita tunggu dulu hasil yang pastinya."
Mendengar itu semua orang bernafas lega, menangis terharu dan cemas bercampur aduk. Mereka berharap ada sebuah keajaiban yang akan didapatkan Nayra.
Kelvin menepuk pundak Andrian untuk menangkan dan memberikannya semangat. "Kamu begitu sangat mencintai Istri mu, aku tak percaya seorang Andrian begitu tak mau kehilangan istrinya," ujar Kelvin.
"Kamu akan merasakannya jika kamu menemukan orang yang tepat, dan aku menemukannya di dalam tubuh istriku," seru Andrian.
"Kamu harus kuat An, aku yakin Nayra masih hidup dan kamu bisa berkumpul lagi dengannya."
"Aku harap seperti itu."
Nathan terlihat baru datang, entah dia kemana sehingga baru nampak sekarang. Dia menuju Andrian untuk membisikkan sesuatu, terlihat rahang Andrian mengeras dan mengepalkan tangannya mendengar berita yang disampaikan Nathan.
"Awas saja, akan ku bunuh dia dengan tangan kosong ku sendiri," seru Andrian terlihat begitu marah dan emosi. Andrian, Nathan dan Kelvin pergi dari sana entah mau ke mana. Sedangkan yang lain merasa heran melihat mereka pergi dengan kondisi seperti itu.
"Kamu mau ke mana An?" teriak mamanya tapi Andrian tak menyahut pertanyaan mamanya.
"Dia mau ke mana anak itu? Di saat istrinya seperti ini dia malah pergi saja tanpa ada kejelasan," kesal nyonya Kumala.
"Mungkin Andrian ada urusan yang begitu penting sehingga dia harus pergi," ucap tuan Wijaya.
"Sepenting apa urusannya sehingga dia pergi begitu saja dalam kondisi istrinya seperti ini? Tadi dia terlihat seperti orang gila kehilangan istrinya, sekarang dia terlihat seperti singa terlihat begitu sangar," ucap nyonya Kumala yang sempat melihat ekspresi Andrian marah sebelum pergi tadi.
Setelah sampai di tujuan mereka langsung turun dan masuk ke dalam gudang yang ada di sana. Terlihat ada seseorang laki-laki yang disekap.
"Bangu!!" Andrian menyiramkan air ke wajah orang itu.
"T-tuannn!!!!" ujar orang itu terlihat gemetar ketika melihat Andrian sudah ada di sana.
"Apa salah istriku padamu hah?" bentak Andrian membuat orang itu tambah ketakutan.
"M-maafkan s-saya Taun! S-saya disuruh untuk mencelakakan Nona Nayra, saya khilaf karena uang yang diberikannya begitu besar," ucap laki-laki itu menangis ketakutan.
"Berengsek kamu!!! Aku akan membunuhmu, gara-gara kau istriku sedang berbaring di rumah sakit dan anakku lahir tak normal, dasar laki-laki berengsek!!!" Andrian memukuli wajah laki-laki yang sudah berumur itu.
"Ampun Tuan," lirih laki-laki tua itu.
Aku tak akan mengampuni mu berengsek!!"
Bug!
Bug!
Bug!
Andrian tak henti-hentinya memukuli wajah orang tua itu, dia tak memandang siapa itu karena emosinya begitu besar terhadapnya. Bahkan mulut, hidung, dan perutnya jadi sasaran empuk untuk Andrian pukuli. Hingga giginya copot gara-gara pukulan Andrian yang terlalu keras.
"M-maafkan saya T-tuan, tolong maafkan saya," laki-laki tua itu sudah begitu lemas dengan pukulan yang diberikan Andrian.
"Sudah Andrian! Kamu jangan memukulinya lagi, nanti dia bisa mati," seru Nathan menghentikan Andrian untuk memukuli orang itu.
"Dia pantas mendapatkannya karena telah bermain-main denganku!!"
Bug!
Bug!
Bug!
Andrian kembali memukulinya hingga orang itu sudah tak sadarkan diri. Andrian masih belum puas membalaskan sakit yang dirasakan istrinya saat ini.
"Sudah An! Bila kamu membunuhnya saat ini, maka penjahat aslinya tak akan ketemu. Dia akan tertawa melihat kita tak bisa menangkapnya," seru Kelvin untuk menasehati Andrian.
"Tenang kan dirimu saat ini, kamu harus menyimpan tenaga mu untuk membalaskan dendam kepada orang yang tepat. Dia hanya pesuruh yang ingin mendapatkan uang saja."
"Cobak kamu periksa apa dia sudah mati atau masih hidup!" ujar Andrian.
Kelvin pun memeriksa keadaan orang itu, dan nafasnya masih ada tapi denyut nadinya begitu lemah tapi ada pertanda dia masih hidup.
"Bagaimana?" tanya Andrian.
"Dia masih hidup, sepertinya dia hanya pingsan saja."
"Bagus kalau gitu, setelah dia bangun kita akan tanyakan siapa yang membayarnya untuk melakukan ini," seru Nathan.
Sebelum itu Andrian sudah membawa ember berisikan air, sedetik kemudian dia kembali menyiram orang itu agar dia bangun.
"Mau apa kamu menyiram orang ini? Dia masih pingsan," seru Nathan.
"Dia harus secepatnya sadar! Dia harus secepatnya memberitahu siapa dalang dibalik semuanya."
Andrian tak henti-hentinya menyiram orang itu dengan air, bukan air biasa ia menyiram orang itu dengan air dingin membuat luka di tubuh orang itu merasa perih. Ketika disiram orang itu merintis kesakitan hingga bangun.
"Aw!!"
"Hey kamu!! Siapa nama yang menyuruh kamu untuk merusak rem mobil Istriku?" tanya Andrian menatap tajam wajah orang itu sambil menodong wajahnya.
"S-saya tidak tau Tuan!!" jawabnya dengan begitu takut.
"Jawab dengan jujur!! Kalau tidak nyawamu akan menjadi taruhannya," ancam lagi Andrian.
"Saya benar-benar tidak tau Tuan, saya hanya disuruh saja," jawabnya lagi dengan wajah masih berbohong.
Karena begitu emosi melihat orang itu yang tak kapok berbohong, Andrian pun mematahkan tangan orang itu sampai begkok.
"Aw sakit!!" jeritnya kesakitan.
"Jawab pertanyaan ku dulu, kalau tidak seluruh tubuhmu akan ku patahkan!!!"
"Ampun Tuan, s-saya di-suruh o-oleh yang bernama Nadia!! Aw lepaskan Tuan," ucap orang itu begitu kesakitan.
Setelah mendapatkan nama pelaku aslinya Andrian langsung berhenti menyiksa orang itu.
"Dasar wanita licik!!!" umpat Andrian begitu emosi ketika mendengar nama wanita itu sedangkan Nathan dan Kelvin tidak tau siapa nama yang disebutkan tadi.
"Memangnya siapa dia An?" tanya Kelvin.
"Dia wanita yang ingin dijodohkan dengan ku oleh Mama, karena dia terlalu terobsesi dengan ku, akhirnya dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan ku. Sampai dia berani menyakiti Nayra."
Andrian mengepalkan tangannya begitu keras. Rahangnya mengeras karena begitu marah. Dia beranjak pergi dari sana untuk menemui Nadia.
"Kamu mau kemana?" tanya Nathan.
"Aku harus memberikan pelajaran untuk wanita lajang itu."
"Kamu jangan gegabah seperti itu, biarkan anak buah kita yang membawanya ke sini. Nayra masih membutuhkan mu di rumah sakit jadi lebih baik kamu balik lagi ke rumah sakit."
"Lalu dengan orang ini bagaimana?" tanya Kelvin melihat kondisi orang itu terlihat sekarat.
"Bawa saja dia ke kantor polisi, dia pantas mendapatkan hukuman pengadilan," seru Andrian.
"Aku titipkan urusan ini pada kalian berdua, setelah Nayra sudah baik-baik saja aku akan kembali untuk memberikan pelajaran pada wanita licik itu," seru Andrian menepuk-nepuk bahu kedua temannya itu lalu dia memutuskan pergi ke rumah sakit untuk menemui Nayra.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^