My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 87



🍁🍁🍁


Setelah sampai di ruangannya terdapat Amanda yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sampai tak sadar Andrian masuk ke dalam sana.


"Khm!" Andrian berdehem membuat Amanda tersadar bahwa ada seseorang di dalam ruangan itu selain dirinya. Ketika menoleh ke arah sumber suara, ia terkejut melihat bosnya berada di sana.


"Maaf Tuan, saya tidak sadar Tuan ada di sini," ucap Amanda sambil menundukkan kepalanya. Dan dia sadar bahwa selain Andrian ada juga yang ada di dalam ruangan itu.


Anak kecil yang digandeng Andrian membuat Amanda teralihkan pandanganya ke sana. Dia bertanya-tanya siapakah anak kecil yang dibawa oleh bosnya itu. Ingin bertanya tapi dia tidak ada hak untuk mengetahui hal itu.


"Tidak papa! Kamu lanjut kerja saja."


Andrian lalu duduk di kursi kebesarannya itu lalu mendudukkan anaknya di atas mejanya. Sedangkan Amanda sedari tadi melirik anak kecil itu, ia begitu penasaran siapa kah anak kecil yang dibawa bosnya.


"Bagaimana keadaan di kantor selama saya tidak ada di sini? Apakah ada kendala?" tanya Andrian membuka topik.


"Tidak ada Tuan! Mbak Tiara juga sudah beberapa hari ini masuk kerja jadi ada yang membantu saya mengerjakan semua pekerjaan ini."


"Bagus kalau gitu!"


"Papa! Alden mau minum," seru Alden.


Sontak mendengarkan anak kecil itu memanggil Andrian dengan sebutan "Papa" membuat Amanda langsung terkejut. Ini tidak mungkin kalau Andrian mempunyai seorang anak karena baru beberapa minggu ini dia menikah.


"Kamu!" panggil Andrian mengarah ke Amanda.


"Iya Tuan!"


"Ambilkan anak saya minum!" ucap Andrian membuat Amanda tambah syok karena Andrian mengakui sendiri bahwa anak kecil itu anaknya.


"B-baik Taun!"


Amanda dengan cepat mengambil air untuk anak bosnya itu. Ketika mengambil air terdengar suara redup-redup para karyawan membicarakan Andrian dengan anak yang dibawanya.


"Apa benar itu anak Tuan Andrian?"


"Masak sih?"


"Tapi terlihat anak kecil itu sedikit mirip dengan Tuan Andrian."


"Tapi kan bos kita baru saja menikah masak langsung punya anak, apalagi anak itu kelihatan umurnya seperti umur 5 tahun."


"Dulu kalau nggak salah rumor tentang Nona Nayra yang mempunyai anak ya? Apakah itu anak nya Nona Nayra yang otomatis menjadi anak sambung Tuan Andrian."


"Iya, aku pernah mendengarnya juga."


"Tapi terlepas dari itu, anaknya terlihat begitu kiyowo tidak seperti Tuan Andrian."


"Hahaha___" mereka pun tertawa bila mengingat sifat tuanya itu berbanding terbalik dengan anak kecil itu.


Sedangkan Amanda melewati saja para karyawan itu tanpa melirik sedikit pun, dia tak mau ikut campur untuk hal itu.


"Amanda__" panggil salah satu karyawan perempuan yang tadi membicarakan Andrian.


"Iya?" Amanda menoleh ke arah mereka dengan ramah.


"Kamu udah lihat nggak anak kecil yang di bawa Tuan Andrian?"


"I-iya, memangnya ada apa?" tanya Amanda.


"Apa kamu tau siapa anak kecil itu? Secara kan kamu satu ruangan dengan Tuan Andrian."


"Maaf saya lagi buru-buru, kalau gitu saya permisi dulu," Amanda langsung pergi dari sana tanpa mau menjawab pertanyaan para karyawan itu. Dia tidak mau ikut campur lagi tentang bosnya.


"Sombong banget tuh anak, mentang-mentang jadi asisten Bos," ujar salah satu yang memang tak suka dengan Amanda.


"Aku sih lebih suka dengan Nona Nayra, walaupun dia istri Tuan Andrian tapi dia begitu ramah," ucap yang lain menyanjung Nayra.


Beberapa karyawan di perusahaan itu tidak terlalu suka dengan Amanda, bukan karena dia jahat atau semacamnya tapi dia tidak pernah bergaul atau sekedar berbicara dengan orang-orang di perusahaan itu. Dia terlalu menutup diri membuat para karyawan di sana mengira bahwa Amanda terkesan sombong.


"Ini minum nya Tuan!" Amanda menaruh minuman itu di atas meja Andrian. Tanpa lama Alden meminumnya karena tenggorokannya terasa begitu haus.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk dari arah luar.


"Selamat pagi Tuan!" sapa Tiara sambil menundukkan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Andrian.


"Sekarang Anda ada rapat bersama para manager di ruang rapat."


"Baiklah! Siapakah semuanya, sebentar lagi saya akan ke sana."


"Baik Tuan."


Tiara yang menyadari ada anak kecil langsung menoleh ke arah sana, dia tak asing dengan anak itu.


"Alden?" panggil Tiara yang tau anak kecil itu. Sebelum Andrian tau itu anaknya Tiara sudah tau tentang Alden karena dulu dia lumayan dekat dengan Nayra.


"Tante Tiara!" panggil lagi Alden yang masih mengingat wajah Tiara.


"Ah senangnya bisa ketemu sama kamu lagi Sayang," ujar Tiara sambil mencubit pipi tembam Alden.


Amanda yang melihat kedekatan antara Tiara dan anak kecil itu menjadi semakin percaya bahwa dugaannya dari tadi benar bahwa Andrian mempunyai anak tiri, karena tidak mungkin itu anak kandung Andrian.


"Ngomong-ngomong di mana Nona Nayra sekarang Taun? Saya sangat ingin bertemu dengannya."


"Dia sedang berada di rumah."


"Kalau gitu saya titip salam buat Nona Nayra, bilang kalau saya ingin bertemu dengannya."


"Nanti saya akan menyampaikannya."


"Terima kasih Tuan, kalau gitu saya permisi dulu."


Tiara pun pergi dari sana dan tinggal mereka bertiga saja yang ada di sana.


"Apakah kamu bisa menjaga anak saya sementara saya rapat?" tanya Andrian kepada Amanda.


"Bisa Tuan," ujar Amanda.


"Baiklah, Papa mau pergi rapat dulu. Papa minta Alden nggak boleh merepotkan kakaknya, ingat itu!!" pesan Andrian pada anaknya.


Sedetik Amanda terpana dengan pesona yang dibawa Andrian ketika berbicara lembut di depan anak kecil itu, tapi sedetik kemudian dia kembali tersadar bahwa tuanya sudah mempunyai istri bahkan mempunyai anak.


Ketika Andrian sudah pergi dari ruangannya, Amanda mendekatkan dirinya kepada anak kecil itu untuk berkenalan.


"Namanya Alden ya?" tanya Amanda dengan ramah.


"Iya Tante!"


"Kenalkan nama Tante Amanda," Amanda memperkenalkan dirinya kepada Alden yang dari tadi bermain robot-robotan di atas meja kerja papanya.


"Owh ya, Alden mau apa? biar Tante beliin," tawar Amanda karena dia tak tau harus bagaimana dengan anak bosnya ini.


"Kata Mama tidak boyeh mengambil pebeliian oyang lain," ujar Alden dengan suara khas anak kecil


"Tante tidak berbuat jahat sayang, Tante juga karyawannya Papa Alden."


"Cudah Alden bilang, Alden nggak mau apa-apa! Nggak ucah ganggu Alden Tante," ujar Alden yang begitu risih dengan Amanda yang mengganggu bermainnya.


Amanda sedikit kesal karena anak kecil itu susah untuk dirayu, ia juga tidak terlalu suka dengan anak kecil membuatnya tidak tau bagaimana membujuk anak kecil.


Karena melihat anak bosnya sedang bermain, dia memutuskan untuk kembali kerja di mejanya sembari melihat keadaan Alden yang bermain.


"Tante! Tante!" panggil Alden kepada Amanda yang memulai bekerja.


"Iya ada apa Sayang?" tanya Amanda dari tempat duduknya.


"Apa Tante mau main cama Alden?" tanya Alden.


"Memangnya Alden mau main apa?" tanya Amanda.


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^