My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 126



🍁🍁🍁


Dapur dan sofa tempat Nathan duduk tak mempunyai skat pembatas jadi dia bisa melihat Amanda dari tempat duduknya.


"Malam ini kamu tak usah memasak, lebih baik kamu siap-siap kita akan pergi makan malam."


"Kita akan makan malam di mana?" tanya Amanda.


"Kamu siap-siap saja dulu, nanti kita pikirkan untuk makan malam di mana."


Amanda pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya. Sedangkan Nathan hanya menggunakan celana panjang serta kaos hitam, tak lupa dia menggenakan jaket karena suasana malam pasti terasa dingin.


Setelah Amanda sudah siap, mereka pun masuk ke dalam mobil. Lalu Nathan menancap gas mobilnya untuk mencari makan malam.


"Kamu mau makan malam di mana?" tanya Nathan


membuka obrolan.


"Terserah kamu saja."


Seperti biasa wanita akan mengeluarkan jurus andalannya ketika disuruh memilih untuk makan di mana.


"Apa kamu mau makan malam di restoran?" tanya lagi Nathan memastikan.


"Hm! Sepertinya lebih enak jika kita makan di pinggir jalan."


"Pinggir jalan? Itu tidak higienis, nanti perut mu akan sakit jika memakannya."


"Kamu tenang saja, aku ada langganan yang kebersihannya terjamin."


"Baiklah kalau itu mau mu, terus di mana tempatnya?"


"Kamu lurus saja, nanti ada pangkalan Abang Roni, di situ lah tempatnya."


Dengan terpaksa Nathan menuruti kemauan istirnya itu, mau bagaimana lagi. Sesampainya di sana mereka duduk di meja yang sudah di sediakan. Pemandangan kota terlihat jelas di sana, lampu dan jalanan yang indah menemani makan malam mereka.


"Mau pesan apa Neng Amanda?" tanya penjual itu yang memang sudah mengenal Amanda, karena Amanda adalah pelanggan setianya.


Nathan tercengang, bukan karena tempatnya yang tak higenis tapi penjualnya yang terlihat tampan dan masih muda.


"Pantes saja banyak perempuan yang beli di sini," gumam Nathan dalam hati sambil memperhatikan sekitarnya yang dipenuhi banyak perempuan.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Amanda menyenggol lengan Nathan yang sedari tadi melirik ke arah lain.


"Terserah kamu saja, apa yang kamu pesan itu yang ku mau."


"Kalau gitu saya pesan mie ayam dua ya Bang! Jangan lupa di kasih pangsit nya yang banyak."


"Baik Neng!"


Abang itu pun pergi untuk membuatkan Amanda dan Nathan pesanannya.


"Pantes kamu suka beli di sini, penjualnya saja tampan seperti itu, apa kamu suka sama dia?" tanya Nathan membuka obrolan.


"Apaansi kamu! Walaupun dia ganteng tapi aku nggak mengincarnya. Aku suka makan di sini karena makanannya enak-enak."


"Masak sih?" tanya Nathan tak percaya.


"Kamu cemburu?" Amanda mengintimidasi mata Nathan yang sempat berpaling terhadapnya.


"Ngapain cemburu? Aku tak cemburu sama sekali," ucap Nathan lalu kembali menghadap ke arah lain.


Sedangkan Amanda diam saja. Dia merasa malu jika tadi ia menebak cemburu terhadap ekspresi Nathan. Padahal dia tau kalau Nathan belum ada rasa padanya.


Tak lama kemudian, bang Roni membawakan pesanan mereka berdua. Terlihat mie ayam nya begitu menggugah selera Amanda pada malam ini.


"Makasih Bang!" ujar Amanda yang langsung memakannya.


"Hati-hati panas!" seru Nathan memperingati.


"Aw!" belum beberapa detik di peringatkan sudah terjadi, lidah Amanda merasa melepuh karena mie ayam masih begitu panas.


"Kamu kalau makan harus hati-hati!" seru Nathan sambil membersihkan bekas mie ayam di bibir Amanda.


"Tidak papa Bang!"


"Ngomong-ngomong Mas di samping Neng Amanda siapa? Pacarnya?" kepo bang Roni, dia sudah akrab dengan Amanda jadi tak malu jika menanyakan hal itu.


Amanda langsung melirik Nathan yang dimaksud bang Roni. Dia harus menjawab apa? Sedangkan pernikahan mereka saja masih ditutupi.


"Bukan Bang! Dia hanya majikan saya, yang saya ceritakan tempo itu lho!" seru Amanda.


Sedangkan Nathan yang berharap diperkenalkan sebagai seorang suami malah menjadi majikan.


"Saya kira pacarnya Neng, kalau gitu saya permisi dulu. Selamat menikmati mie ayam nya!"


Setelah itu Bang Roni pergi dari sana untuk melayani pelanggan yang lainya.


Mereka hanya saling diam tanpa mengatakan satu kata apapun. Sebenarnya Amanda ingin mengobrol tapi terlihat Nathan seperti badmood malam ini.


Hingga sampai di apartemen mereka pun tetap tak melakukan obrolan. Hingga di dalam kamar Amanda memberanikan diri memulai pembicaraan.


"Kamu kenapa?" tanya Amanda memberanikan diri.


"Memangnya aku kenapa?" Nathan malah balik bertanya dengan sedikit cuek pada Amanda.


"Dari kita makan tadi, kamu terlihat badmood. Apa ada masalah?"


Amanda masih belum sadar jika badmood nya Nathan gara-gara jawabannya kepada bang Roni tadi.


"Kamu tanya saja sama diri sendiri kenapa aku sampai seperti ini."


Nathan merebahkan tubuhnya membelakangi Amanda. Dia masih marah pada Amanda malam ini. Sedangkan Amanda masih bigung di mana letak kesalahannya.


"Apa yang sudah aku lakukan sampai kamu marah seperti ini?" Amanda menggoyang-goyangkan tubuh Nathan.


"Kamu pikir saja!" seru Nathan tak mau berbalik arah ke hadapan Amanda.


Amanda berpikir keras apa kesalahannya tapi dia juga tak ingat di mana letak kesalahannya.


"Kamu jangan seperti anak kecil deh? Cobak kamu jelasin di mana letak kesalahan ku agar ku memperbaikinya."


Nathan pun bangun dari tidurnya lalu menatap wajah Amanda. Sekarang mereka sudah berhadapan satu sama lain.


"Kenapa kamu mengatakan bahwa aku majikan mu? Padahal jelas-jelas kita suami-istri."


"Itu permasalahannya?" Amanda sudah mengerti sekarang.


"Iya, apa kamu tak menggapkui ku suami mu? Ataukah kamu malu mempunyai suami seperti ku?" tanya Nathan masih setia menatap lekat mata Amanda.


"Bukan seperti itu, hanya saja aku takut bila kamu marah jika aku memberi tahu kepada orang-orang bahwa kita ada hubungan."


"Kenapa harus takut? Bukannya itu kebenarannya?"


"Bagaimana aku bisa mengatakan pada orang-orang jika kamu suami ku? Sedangkan kamu sendiri tak mencintai ku? Bahkan seseorang pasangan suami-istri harus ada rasa diantara mereka, rasa cinta dan kasih sayang. Mungkin kamu begitu perhatian padaku tapi hanya sebatas kasihan."


"Bagiamana kamu bisa beranggapan seperti itu? Aku suami mu."


"Bagiamana aku bisa menganggap mu suami jika dirimu saja tak pernah mengatakan cinta pada diriku. Apa pantas aku berharap kamu suamiku jika perasaan mu tak ada pada diriku?"


Amanda menunjuk hati Nathan dengan tangan jari telunjuk nya. Ia menempelkan telunjuknya di dada bidang Nathan.


"Hanya karena itu?"


"Mungkin terdengar sepele, tapi wanita ingin mendengar perasaan pria darinya. Jika belum ada kata itu dia beranggapan jika pria itu hanya kasihan padanya," jelas Amanda.


"Cup!"


Nathan menempelkan bibirnya ke bibir Amanda. Ini pertama kalinya dia mencium bibir istirnya itu.


"Sekarang apa itu kurang jika aku mencintaimu?"


Bukan menjawab Amanda malah menjadi patung ketika dicium secara tiba-tiba oleh Nathan. Hatinya begitu berdebar dengan cepat.


See you again ^_^