
🍁🍁🍁
Setelah proses admistrasi dan pengurusan jenazah di rumah sakit, mereka pun membawa jenazah ibunya Amanda ke rumahnya.
Setelah dikebumikan mereka pulang ke rumah Amanda yang berada di kampung.
"Apa kamu tidak balik ke Jakarta?" tanya Nathan. Dia masih melihat istrinya hanya diam dengan pikiran kosongnya.
"Kamu pulang saja, aku akan tinggal di sini!"
"Kamu sekarang tanggung jawabku saat ini, jadi aku tak mungkin meninggalkan mu sendirian di sini."
"Aku mohon tolong tinggalkan aku sendiri di sini, kamu bisa balik ke Jakarta. Aku ingin sendiri untuk menenangkan hati dan pikiran ku, aku mohon!!" Amanda memohon dengan begitu lirih. Dia ingin sendiri untuk menerima semua yang sudah terjadi.
Karena Nathan mengerti, diapun menyanggupi kemauan istrinya itu, dia kembali balik ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan nya begitu banyak.
Sedangkan Amanda tak pernah keluar dari kamar ibunya, bahkan makan pun dia tak nafsu. Setiap pagi Amanda pergi ke kuburan ibunya.
"Yang sabar ya Nak! Kamu orangnya kuat, semoga almarhumah bisa tenang di sisi sang pencipta," ujar salah satu tetangga Amanda yang berpapasan dengan Amanda ketika pulang dari kuburan.
"Aamiin! Terima kasih Buk!"
"Amanda!" panggil salah satu ibu di sana sambil lari ke arah Amanda.
"Iya Buk, ada apa?"
"Tadi ada orang yang mencari mu di rumah."
"Siapa yang mencari saya?" tanya Amanda.
"Saya juga nggak tau, tapi dia menggenakan mobil mewah."
Amanda berpikir sejenak, apa itu Nathan? Tapi tak mungkin Nathan kembali lagi datang menemuinya setelah dia menyuruhnya pergi beberapa hari itu.
"Terima kasih infonya Buk, kalau gitu saya pamit dulu."
Amanda pun bergegas pergi dari sana, ketika sampai di rumah memang benar ada mobil terparkir di sana, ketika melihat siapa yang datang Amanda kaget bahwa itu Nathan.
"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Amanda.
"Aku ke sini untuk menjemput mu."
"Sudah aku bilang aku masih ingin di sini, jika kamu ingin memecat ku, silahkan! Aku terima keputusan mu."
"Aku menjemputmu bukan sebagai pembantu ku, melainkan sebagai istriku."
Amanda yang menghindar dari tatapan Nathan, langsung menatap nanar wajah Nathan.
"Maksud mu?"
"Apa kamu lupa bahwa beberapa hari terakhir ini kau sudah menjadi istri ku? Jadi aku sekarang ingin menjemput istriku pulang ke rumah, apa itu salah?"
"Aku tau kau terpaksa menikah dengan ku, jadi jangan berpura-pura seperti pasangan suami-istri. Jika bisa kau ceraikan saja aku, aku tidak papa!"
"Jangan bicara omong kosong seperti itu, lebih baik kamu bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Aku tak menerima penolakan!!"
"Tapi___" sebelum menyangga permintaan Nathan, Nathan tak memberi kesempatan buat Amanda berbicara.
"Sudah aku katakan hari ini kamu balik ke Jakarta! Akan ku tunggu kamu di luar."
Ingin menolak, tapi Nathan begitu kekeh untuk mengajak nya balik ke Jakarta, bahkan dia tak mau beranjak dari tempatnya. Dia tetap setia menunggu hingga Amanda mau pulang.
Mau tidak mau Amanda mengikuti kemauan Nathan, mungkin ini salah satu agar ia tak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Begitu banyak kenangan di rumah ini hingga dia begitu berat meninggalkan rumah ini.
Setelah selesai siap-siap, Amanda pun keluar dari rumah itu. Berat rasanya meninggalkan sebuah kenangan yang ada di dalamnya tapi bila dia tetap tinggal di sana, maka dia akan berlarut-larut dalam kesedihannya.
Nathan membukakan Amanda pintu mobil, setelah Amanda masuk ke dalam Nathan pun ikut masuk untuk mengemudi mobilnya.
Terjadilah sepanjang jalan hening tanpa bersuara sedikit pun. Setelah beberapa jam mengemudi mobil, akhirnya mereka sampai juga di apartemen Nathan.
Nathan melirik melihat Amanda sedang tertidur pulas di sampingnya. Mungkin dia terlalu capek lama di dalam mobil.
"Bila dia seperti ini, aura cantiknya terlihat."
Nathan tak bosan memandangi wajah wanita yang beberapa hari ini sudah jadi istrinya. Dia tersenyum tipis melihat Amanda bergeliat.
Dengan cepat-cepat Nathan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Amanda ketika tau Amanda akan terbangun dari tidurnya.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Amanda yang melirik sekitar. Terasa tak asing dengan tempatnya dan ternyata itu memang apartemen kediaman Nathan.
"Sekarang turunlah! Kita sudah sampai."
Amanda pun lebih dulu turun meninggalkan Nathan di dalam mobil, tapi tak lama kemudian dia ikut turun. Sesampainya di dalam apartemen Amanda masuk ke dalam kamarnya, dia begitu capek dan lelah.
Bukan karena perjalanan yang panjang, tapi apa yang sudah dia lalui membuatnya terasa capek dan lelah.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nathan melihat Amanda masuk ke kamar sebelah.
"Mau ke kamar, aku merasa lelah. Apa boleh aku istirahat sebentar?"
"Istirahat di kamar saja."
"Makanya aku akan ke kamar."
"Sekarang itu bukan kamarmu lagi."
"Lalu kamarku ada di mana?"
"Di sebelahnya."
"Hah? Bukannya itu kamarmu?"
Amanda begitu heran karena jelas-jelas yang akan dia masukin kamarnya sendiri, tapi kenapa Nathan malah menyuruhnya masuk ke dalam kamarnya.
"Aku sudah pindahkan semua barang-barang mu ke dalam kamar ku, kamu akan tidur di kamarku," tegas Nathan.
"Lalu kamu?"
"Sekarang kita satu kamar, apa kamu lupa kita sekarang suami-istri?"
"Tidak-tidak! Ini tidak benar, pernikahan itu hanya bohongan saja. Jangan bersandiwara seperti ini, aku tak suka."
"Siapa juga yang bersandiwara? Bahkan akad nikahnya saja asli. Bagaimana kamu berpikir bahwa pernikahan kemarin sebuah kebohongan."
"Aku tau kau hanya terpaksa bukan karena cinta, jadi tolong jangan seperti kita seolah-olah menjadi suami-istri."
"Itu sudah terjadi, aku tak mau mempermainkan pernikahan. Bila kamu menganggap nya sebagai kebohongan silahkan, tapi aku tetap menganggapnya sebagai sebuah pernikahan. Jika kamu mau istirahat, masuklah ke dalam kamar, di sana semua baju-baju mu tertata di lemari."
Nathan lalu pergi setelah itu, dia tak tau lagi harus menjelaskan bagaimana kepada Amanda bahwa mereka sudah menikah dan dia adalah suaminya saat ini.
Dengan terpaksa Amanda masuk ke dalam kamar itu, di dalam terasa begitu berbeda. Walaupun dia sering masuk ke dalam sana tapi masuknya kali ini bukan untuk membersihkan kamarnya melainkan akan tidur di kamar ini.
Amanda membuka lemari satu persatu untuk mengambil bajunya. Setelah membuka lemari ketiga baru ia menemukan baju-bajunya tersusun rapi di sana.
"Siapa yang memindahkan baju-baju ku begitu rapi? Apa mungkin Nathan?"
Amanda ragu bila Nathan yang memindahkan semua bajunya, karena tak mungkin seorang Nathan mau memindahkan baju murahannya ini dengan repot-repot.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^