
🍁🍁🍁
"I-itu Tuan, saya izin untuk cuti selama satu Minggu karena Ibu saya di kampung sedang sakit."
"Kenapa mendadak seperti ini? Lalu siapa yang mengurus semua keperluan ku?" Andrian agak terlihat marah karena Tiara begitu mendadak memberitahunya.
"Tiba-tiba keluarga saya tadi memberitahu kalau Ibu saya masuk ke rumah sakit dan terus menerus mencari saya, saya juga tidak mau Tuan seperti ini tapi saya takut bila kenapa-napa dengan Ibu saya," seru Tiara dengan mata yang berkaca-kaca.
Andrian merasa bersalah karena telah membentak sekretaris nya, ia juga tak mau egois menyuruh antara memilih pekerjaan dengan seorang ibu yang telah melahirkannya.
"Lalu siapa yang menggantikan mu untuk sementara waktu? Saya tak bisa menghendel semua pekerjaan ini sendirian."
"Kalau Tuan mau, saya bisa menggantikan Mbak Tiara menjadi sekretaris serta menjadi asisten Tuan," ujar Amanda menawarkan diri. Ia juga prihatin dengan Tiara yang ingin bertemu dengan ibunya.
"Apa kamu bisa?" tanya Andrian memastikan.
"Saya kebetulan lulusan perkantoran S1 jadi saya rasa bisa melakukannya walaupun tak sebaik Mbak Tiara."
"Baiklah aku akan mengizinkan mu pulang tapi cuma satu Minggu, dan ini sedikit uang untukmu pergi ke kampung," Andrian menyodorkan sebuah amplop ke Tiara.
"Terima kasih Tuan, terima kasih Amanda!" Tiara begitu terharu, ia kira tak akan di kasih izin oleh bosnya tapi malah sebaliknya dan bosnya dengan baik hati memberikan nya uang yang begitu cukup banyak baginya.
Sore harinya di mana Andrian akan bertemu dengan investor, jadi ia mengajak Amanda sebagai pengganti Tiara.
"Apa kamu sudah siapkan semuanya?" tanya Andrian.
"Sudah Tuan."
"Ayok kita pergi!"
"S-saya juga ikut Tuan?" tanya Amanda.
"Iya."
Hati Amanda langsung deg-degan ikut dengan bosnya itu, tapi di sisi lain ia begitu senang karena kesempatan ini tak akan terulang kembali.
"Kenapa kamu diam di situ? Apakah kamu tak mau ikut?" ucapan Andrian mengejutkan Amanda dari lamunannya.
"I-iya saya ikut Tuan."
Mereka pun menuju parkiran mobil, Andrian seperti biasa menyetir mobil sendiri karena tak suka mempunyai sopir pribadi.
"Ayok masuk!" Amanda hanya tercengang saja karena tak menyangka akan satu mobil dengan bosnya terlebih lagi hanya dia dan bosnya yang di dalam mobil.
Amanda masuk ke dalam mobil di jok belakang membuat Andrian mengehela nafasnya.
"Kamu kira saya sopir pribadi mu hingga kamu duduk di belakang, cepat pindah ke depan!" seru Andrian.
"Tapi Tuan..."
"Cepat! Atau saya turunkan kamu!"
Dengan cepat Ananda pindah ke depan. Di perjalanan Amanda tak henti-hentinya melirik Andrian dengan detak jantung yang begitu cepat, mungkin saja Andrian mendengar detak jantung nya karena terdengar begitu besar dan suara hening di dalam.
Sesampainya di lestoran Baraka, mereka sudah di tunggu oleh investornya. Di sana mereka mendiskusikan rencana pembangunan Mall begitu lama, bahkan Amanda sangat mengantuk karena begitu lamanya mereka mendiskusikannya.
"Baiklah! Terima kasih atas kerjasamanya," ujar Andrian menjabat tangan investornya.
"Senang berbisnis dengan Anda, kalau begitu saya duluan."
Setelah kepergian investor itu mereka pun ikut pergi. Di luar sudah gelap gulita di tambah hujan yang lebat.
"Apa kita balik ke kantor lagi Tuan?" tanya Amanda.
"Kita langsung pulang saja," seru Andrian sambil menatap hujan yang begitu besar.
"Kalau gitu saya pulang naik taksi saja," ujar Amanda ingin berpamitan.
"Saya yang akan mengantarmu, ini sudah malam dan hujan begitu lebat, mencari taksi dengan kondisi seperti ini sangat susah."
"Tapi saya merepotkan Tuan."
Mereka pun masuk ke dalam mobil lalu melaju ke arah tempat tinggal Amanda. Karena Andrian tak tau jalan jadi Andrian bertanya kepada Amanda.
"Di mana tempat tinggal mu?"
"Tuan hanya tinggal lurus saja nanti ada ruko Tuan bisa berhenti di sana."
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di depan ruko yang Amanda maksud.
"Di mana rumahmu?" tanya Andrian yang tak melihat rumah di sekitar sana.
"Ada di belakang ruko tempat kost saya Tuan."
"Kamu tidak tinggal dengan orang tuamu?"
"Tidak Tuan, saya di sini merantau. Rumah saya ada di kampung," Andrian hanya mengangguk-angguk kan kepalanya mengerti.
"Terima kasih telah mengantarkan saya pulang. Kalau gitu saya permisi," Amanda yang ingin turun dari mobil dicegah oleh Andrian.
"Tunggu!"
"Ada apa Tuan?" Amanda menoleh ke arah Andrian yang terlihat melepaskan jasnya.
"Ini pakai biar kamu tak basah," Andrian menyodorkan jasnya kepada Amanda.
"Tidak usah Tuan," Amanda menolaknya karena tak enak.
"Ambil saja, biar kamu tak kebasahan."
Karena Andrian memaksanya, Amanda pun mengambil jas itu. Ada rasa bahagia ketika Andrian begitu memperhatikannya, ada harapan bila Andrian suatu saat menyukainya. Rasa kagumnya itu bertambah dan timbul menjadi rasa suka pada bosnya.
***
Keesokan harinya Amanda kembali bertemu dengan Andrian di kantor. Pertemuan mereka tak bisa dihentikan karena suatu tuntutan pekerjaan.
"Selamat pagi Tuan," sapa Amanda ketika Andrian melewati nya. Sedangkan Andrian hanya sekilas meliriknya lalu melanjutkan perjalanan tanpa sedikitpun menyapa Amanda.
Tetapi walaupun sikapnya seperti itu Amanda malah senyum-senyum dengan sikap cueknya, padahal tadi malam bosnya begitu sangat peduli padanya.
Amanda menyusul Andrian ke dalam ruangan karena sudah tiba waktu jam kerja.
"Permisi Tuan, maaf saya terlambat," seru Amanda membuka pintu ruangan.
"Hm..." jawab Andrian tanpa melihat Amanda. Ia hanya tertuju pada layar ponselnya saja sambil senyum-senyum.
"Siapa sama Tuan Andrian chating an, baru ku melihat dia senyum-senyum seperti ini," pikir Amanda sambil memperhatikan wajah Andrian yang tampan ketika senyum dan memperlihatkan lesung pipinya.
Amanda mendekati meja Andrian untuk memberikannya jas yang kemarin dia pinjam.
"Ini jas Tuan yang tadi malam, saya sudah cuci jasnya. Sekali lagi terima kasih untuk tadi malam," ujar Amanda sambil menyodorkan jasnya dengan menggunakan paper bag.
"Sama-sama, kamu bisa kembali duduk di mejamu."
Perintah dari Andrian langsung membuat Amanda pergi ke tempat duduknya dengan cepat-cepat. Ia mengerjakan pekerjaannya yang begitu numpuk, terlebih lagi sekarang ia mengambil alih perjalanan Tiara.
Tak terasa siang pun datang. Karena perut Amanda terasa begitu lapar, iapun bergegas menutup laptopnya. Seperti biasa ia terlebih dulu membelikan makan siang untuk bosnya.
"Ini sudah jam makan siang, Tuan ingin makan siang dengan apa?"
"Tidak usah, siang ini saya akan makan di luar jadi kamu bisa keluar makan siang terlebih dahulu," suruh Andrian.
"Baik Tuan!" Amanda pun pergi keluar dari ruangan itu.
Setelah Amanda keluar dari sana Andrian juga ikut bergegas keluar menuju mobilnya. Ia menancapkan gas mobil nya menuju ke arah apartemen.
Di sisi lain terlihat seseorang wanita cantik yang menggenakan dress selutut berwarna coklat serta tak lupa menggunakan make up tipis andalannya.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^