My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 95



🍁🍁🍁


"Kamu!!!" Amanda begitu kesal hingga tangannya kembali ingin menampar wajah mulus Nayra. Tapi Andrian menepis tangan Amanda agar tak mengenai wajah istrinya.


"Sekali tangan kotor mu menyentuh pipi istri ku maka ku potong tanganmu!" ancam Andrian membuat Amanda menelan salivnya.


"Dan satu lagi mulai malam ini kamu berhenti bekerja di perusahaan ku! Jangan tunjukkan lagi batang hidung mu lagi dihadapan ku," ujar Andrian dengan sungguh-sungguh.


"Baik jika itu mau Tuan, saya tak akan lagi menampakan diri di hadapan kalian lagi. Terima kasih atas semuanya," ucap Amanda mengusap air matanya yang terjatuh.


"Ayok Sayang kita pergi saja dari sini!" Andrian menarik tangan Nayra masuk ke dalam mobil meninggalkan Amanda sendirian di sana.


Amanda tersenyum kecut melihat mereka berdua pergi dari sana. Dia sudah menduga akan menjadi seperti ini, tapi dia tidak menyesali ini karena sudah menyatakan perasaannya pada Andrian walaupun dia ditolak mentah-mentah.


"Mas, mobil yang ku bawa bagaimana?" tanya Nayra.


"Nanti biar suruhan ku saja yang membawanya pulang, kamu pulang bersama ku saja."


"Baiklah!"


"Bagaimana kamu bisa tau aku berada di sini?"


"Nayra mengikuti Mas dari belakang, karena merasa curiga dengan Mas yang begitu buru-buru pergi dan memang benar ada sesuatu yang terjadi."


"Maafkan aku tak memberitahu mu Sayang, terima kasih juga telah mempercayai aku."


"Tenang saja Mas, Nayra percaya kepada Mas karena Mas tak akan mengingkari janji yang sudah kita buat."


Nayra sudah sangat percaya pada suaminya itu. Setelah apa yang Andrian korbankan padanya dia tak mungkin tidak mempercayai Andrian dengan hanya melihat tanpa mengetahui kebenarannya.


"Terima kasih Sayang! Tapi kalau aku benar melakukannya apakah kamu akan kecewa?"


Nayra langsung melirik tajam ke arah suaminya. Nayra tak suka mendengarkan hal itu walaupun hanya perandaian.


"Nayra tak akan kecewa kepada Mas. Tapi Nayra akan sangat membenci Mas dan tak akan memaafkan kesalahan Mas."


Mendengar itu Andrian langsung menelan ludahnya. Perkataan Nayra membuatnya takut akan membuat hal seperti itu, dia tak mau macam-macam dengan istrinya.


Melihat Nayra kedinginan, membuat Andrian langsung meminggirkan mobilnya untuk melepas jaketnya lalu memasangkannya pada tubuh Nayra.


"Kenapa Mas memberikan Nayra jaket? Nanti Mas kedinginan."


"Kenapa sebelum keluar tidak memakai jaket? Kasihan anak Papa kedinginan gara-gara mamanya yang ceroboh," ucap Andrian sambil mengelus-elus perut istrinya yang buncit itu.


"Papa kamu tak tau diri ya Nak? Padahal gara-gara dia Mama dan kamu kedinginan," sindir lagi Nayra sambil mengelus-elus perutnya.


"Iya-iya! Maafkan Papa karena tak izin dulu ke Mama mu, Papa janji tak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi."


Andrian pun melanjutkan perjalanan menyusuri malam yang dingin itu. Di sepanjang perjalanan Nayra tertidur karena mereka begitu lelah.


Sesampainya di rumah Andrian lagi-lagi membopong tubuh istrinya masuk ke dalam lalu menidurinya di kasur. Sebelum Andrian ikut tidur dia terlebih membereskan pekerjaan terlebih dahulu.


***


Pagi sudah tiba, Nayra terlihat menggenakan pakaian yang rapi. Hari ini jadwalnya mengecek kandungan.


"Kamu mau ke mana rapi seperti ini?" tanya Andrian yang memang lupa dengan jadwal cek up kandungan Nayra.


"Hari ini jadwalnya mengecek kandungan."


"Astaga kenapa aku bisa lupa hal ini? Baiklah aku yang mengantarkan mu ke rumah sakit."


"Bukannya Mas harus pergi ke kantor?"


"Untuk kamu, aku tak akan ke kantor hari ini."


Tak lama kemudian Alden pun menampakan diri menuju ke arah orang tuanya.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Nayra.


"Sudah!!" kompak anak dan bapak menyahut pertanyaan Nayra.


"Kalau gitu ayok berangkat!" ucap Nayra.


Ketika mereka ingin masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja suara ponsel Andrian bergetar di kantong celananya.


"Tunggu sebentar!" Andrian mengambil ponselnya lalu mengangkat telponnya.


Setelah lama menelpon akhirnya Andrian mengakhiri telponnya dengan raut wajah sedikit kesal.


"Ada apa Mas? Apa ada masalah di kantor?"


"Aku tak bisa menemani mu hari ini untuk memeriksa kandungan, tiba-tiba saja sekretaris ku memberitahu bahwa investor dari Jepang sudah berada di perusahaan sekarang dan tak bisa untuk ku undur pertemuannya," jelas Andrian dengan wajah yang merasa menyesal pada istrinya.


"Tidak papa Mas! Lebih baik Mas pergi saja ke kantor untuk masalah pemeriksaan kandungan Nayra bisa sendiri."


"Kalau gitu aku akan mengantarmu ke rumah sakit dulu, nanti pulang aku akan menjemputmu."


"Tidak usah Mas, sekarang Nayra bersama sopir saja. Kasihan investornya menunggu terlalu lama nanti terkesan kamu tak menghargai waktunya."


"Kamu serius bisa sendiri?" tanya Andrian memastikan.


"Iya tenang saja," ucap Nayra meyakini suaminya agar suaminya tak khawatir lagi.


"Kalau gitu aku pergi dulu, kamu hati-hati ya sayang!" ucap Andrian mencium kening istrinya dan mencium pipi anaknya.


"Alden maunya diantar sama Papa!" rengek Alden.


"Alden sayang! Papa sedang buru-buru saat ini, sekarang biar Mama saja yang mengantar mu sekolah."


"Nggak mau, Alden maunya sama Papa!" Alden tetap kekeh mau bersama papanya.


"Sudah-sudah! Alden biar bersamaku, ayok sayang naik ke dalam mobil," Andrian membukakan pintu mobil untuk anaknya.


"Hati-hati Mas!" seru Nayra melambaikan tangan kepada suami dan anaknya. Begitu juga Alden dan Andrian melambaikan tangan kepada Nayra.


"Pak! Bapak bisa antar Nayra ke rumah sakit?" tanya Nayra kepada sopirnya itu.


"Maafkan saya Nona, tapi tubuh saya saat ini begitu tak enak dan perut saya begitu melilit membuat saya tak tahan menyetir. Bila saya paksakan saya takut bila di perjalanan kenapa-napa," ucap sopir itu. Memang benar wajah sopirnya begitu terlihat tak sehat.


"Tidak papa Pak! Lebih baik Bapak istirahat saja, minta obat juga pada Bik Lastri biar sakit Bapak tak tambah parah."


"Terima kasih Nona, maaf sekali lagi tak bisa mengantarkan Nona," sopirnya merasa bersalah karena tak bisa mengantar majikannya tapi bagaimana lagi dia tak bisa menyetir mobil dengan keadaan seperti ini.


Dengan terpaksa Nayra menyetir sendiri. Bila Andrian tau tentang hal ini, pasti dia akan dimarahin.


Di perjalanan Nayra merasakan kontraksi membuatnya tak fokus menyetir, ketika sadar ada sebuah truk di depannya Nayra langsung mengerem tapi rem mobilnya tak bisa berfungsi membuat Nayra terpaksa membanting stir ke arah lain membuatnya menabrak sebuah pepohonan di sana.


Brakkkk_____


Seketika pengelihatan Nayra lama-lama memudar dan menjadi gelap. Sebelum benar-benar tak sadarkan diri Nayra sempat minta tolong dengan suara kecil melihat begitu banyak orang disekelilingnya.


"Tolong bayi saya___" lirih Nayra yang kondisi tubuh yang berlumuran darah, bahkan darah keluar dari mulutnya.


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^