
🍁🍁🍁
Di dalam ruangannya Andrian begitu tak fokus mengerjakan pekerjaannya, Nayaka begitu rewel akhir-akhir ini. Dia tak bisa diam dan sering sekali menangis.
"Ada apa Sayang? Kenapa menangis? Nayaka lapar? Sebentar ya Papa buatkan susu buat Nayaka."
Walaupun bayinya begitu rewel, Andrian dengan begitu sabar menjaga dan merawat bayinya itu. Bahkan dia tak pernah merasa capek sedikit pun bila melihat bayinya.
Karena Andrian belum mencari asisten, jadi dia tambah kewalahan untuk melakukan apapun. Dulu ketika mempunyai asisten, dia selalu menyuruhnya untuk melakukan apapun tapi sekarang dia harus sendiri bahkan untuk membuatkan bayinya susu dia terpaksa pergi ke dapur kantor untuk mengambil air panas. Ini pertama kalinya Andrian pergi ke tempat yang selama ini dia hindari.
Ketika sampai di sana, Andrian melihat banyak para karyawan ada di sana untuk membuat kopi. Mereka yang melihat bosnya kesana begitu terkejut.
"Tuan butuh apa? Biar saya buatkan!" tawar salah satu karyawan yang memang ada di sana.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
Andrian pun membuatkan anaknya susu, dengan sambil menggendong membuatnya sedikit kesusahan bergerak tapi dengan berusaha Andrian melakukannya sendiri tanpa ada orang yang membantunya.
Setelah selesai membuat susu, Andrian pun kembali ke ruangannya. Di sana mereka ribut setelah bosnya pergi dari sana. Mereka ribut membicarakan bosnya begitu berubah.
Di ruangannya Andrian tak bekerja, dia terus menerus mengendong bayinya yang tak hentinya menangis. Sesekali bayinya tertawa karena ekspresi Andrian yang menggelitik bayinya.
Tak lama kemudian terasa ada basah di bajunya, terasa hangat dan mengalir. Dia memegang bajunya yang basah dan benar dugaannya bahwa anaknya sedang pipis mengenai jasnya.
"Aduh Sayang! Kenapa kamu pipis di waktu yang kurang tepat."
Ingin mengganti pakaian tapi dia tak tau harus meminta siapa untuk mengendong anaknya, tapi kalau tidak menggantinya dia begitu tak nyaman bila bekerja dengan pakaian kotor seperti ini.
Dan untung saja Tiara datang keruangan Andrian, lalu ia meminta untuk Tiara mengendong anaknya sementara dia ganti baju, untung saja dia sering menyediakan baju ganti di kantor jadi dia tak susah mengambil baju di rumahnya.
"Terima kasih sudah menjaga Nayaka!" ucap Andrian yang baru saja selesai mengganti bajunya.
"Sama-sama Tuan, saya juga senang bisa membantu Anda. Bila Anda butuh sesuatu Anda bisa memanggil saya saja, saya siap mengendong baby Nayaka. Sekalian belajar menjadi seorang Ibu."
"Maksudnya? Kamu hamil?" tanya Andrian.
"Iya Tuan, Tuhan mempercayai saya untuk menjadi seorang ibu seperti Nona Nayra."
"Selamat ya! Bila Nayra mengetahui ini pasti dia begitu senang mendengarnya, tapi sayangnya sampai saat ini Nayra belum sadar."
"Saya harap Nona Nayra secepatnya sadar dan bisa berkumpul bersama kita lagi. Saya juga sangat rindu denganya, gara-gara dia saya sadar apa arti kehidupan."
"Saya berharap juga seperti itu."
***
Selesai pekerjaannya di kantor Andrian pergi untuk menemui istrinya yang masih terbaring koma di rumah sakit. Ia membawa bayinya ke rumah sakit untuk menemui mamanya.
"Permisi Mama, Nayaka datang menjenguk," seru Andrian menirukan suara anak kecil.
Walaupun Andrian tau Nayra tak akan bisa mendengarkannya, ia tetap mengajak istrinya mengobrol entah tentang anaknya, kantor sampai kegiatannya sehari-hari yang ia jalani tanpa dirinya.
"Apa kamu tak rindu dengan anak-anak kita? Mereka tumbuh dengan baik dan sehat, aku bisa merawatnya dengan baik walaupun tak sebaik dirimu. Aku ingin mengeluh untuk semua ini tapi kamu jauh lebih besar cobaannya dari ku tapi kamu sama sekali tak pernah menunjukkan rasa lelah mu."
Andrian mengelus-ngelus rambut istrinya itu. Walaupun selama ini Nayra tak pernah sadar dari komanya, Andrian tetap merawat istrinya dengan baik. Mengelap tubuhnya, merawat rambutnya agar tak rontok hingga setiap hari menggantikan istrinya pakaian. Itu bentuk sayang Andrian yang bisa ia lakukan pada istirnya.
"Aku tau semuanya akan berakhir dengan baik, aku yakin itu!"
"Apapun yang terjadi aku tak akan pernah meninggalkan mu di dalam kegelapan. Bahkan nyawaku sekalian jadi taruhannya."
"Owek___ Owek___ Owek___" suara tangisan baby Nayaka membuat lamunan Andrian terbuyarkan. Dia menghampiriku bayinya yang sempat dia taruh di box bayi karena sedang tertidur.
"Kenapa menangis sayang? Apa kamu kangen dengan Mamamu? Kita sama, Papa juga sangat merindukan Mama mu."
Andrian mengendong bayinya lalu duduk di sofa rumah sakit itu sambil menaruh bayinya di pangkuannya. Dia menepuk-nepuk pantat anaknya agar tak menangis lagi.
Semenjak mempunyai bayi, Andrian belajar bagaimana cara mengurus dan merawat bayi dengan benar. Bahkan merawat bayi lebih sulit dibandingkan mengurus perusahaan.
Dari situ dia sangat-sangat kagum dengan seorang perempuan yang bisa mengurus bayi dengan baik, ditambah lagi perempuan juga bisa mengurus rumah, suami dengan waktu yang bersamaan. Jadi Andrian tak bisa meremehkan kekuatan seorang perempuan.
Karena bayinya tak berhenti menangis akhirnya Andrian memutuskan untuk kembali ke rumah. Dia akan kembali besok untuk menemui istrinya.
"Sayang aku pamit pulang dulu, kamu baik-baik di sini. Anak kita begitu rewel bila ku bawa ke sini."
Andrian mencium puncak kepala istrinya lalu pergi dari sana. Sangat berat meninggalkan istirnya setiap hari seperti ini, tapi kondisi yang membuatnya tak bisa menjaga istrinya 24 jam.
***
Terlihat di sebuah minimarket, terlihat begitu banyak antrian di depan kasih, tapi ada salah satu pria yang menyerobot antrian.
"Berapa harganya?" tanya pria itu sambil mengeluarkan uang lembaran seratus ribu untuk membayar satu minuman yang ia beli.
"Maaf sebelumnya tapi Anda harus antri dulu, sekarang ini giliran saya," tegur salah satu pembeli yang memang gilirannya untuk membayar belanjanya.
"Aku hanya membeli satu minuman saja, jadi aku tak akan lama" seru pria itu.
"Tapi budayakan adat mengantri, apa Anda tak kasihan lihat orang-orang yang ada dibelakang juga dari tadi mengantri?" celetuk lagi wanita itu.
Kasir itupun bingung harus bertindak apa sekarang, yang satu ngotot untuk menyuruh pria itu untuk mengantri sedangkan pria itu kekeh tak mau mengantri seperti orang-orang.
"Ambil saja kembalinya!" pria itu pun pergi setelah membayar minumannya itu tanpa rasa bersalah, dia malas berdebat dengan seseorang perempuan, karena tau perempuan tak mau mengalah.
"Dasar wanita keras kepala," umpat pria itu sambil masuk ke dalam mobilnya.
"Dasar pria tak tau diri," umpat wanita itu begitu kesal dengan pria tadi.
"Sudah Mbak tidak papa! Memang orang yang modelan kayak gitu, attitude mengatainya tidak ada, mentang-mentang dia orang berkuasa." celetuk ibu-ibu yang ada dibelakang wanita itu.
"Apapun jabatannya bila kelakuannya seperti itu, aku tak akan menyukainya," ujar wanita itu.
"Jangan bilang begitu, nanti jadi jodoh," celetuk lagi ibu itu.
"Nggak akan! Dan semoga aja ini pertemuan pertama dan terakhir ku denganya."
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^