
🍁🍁🍁
"Ohhh! Berarti Papa tidak takut dengan Mama? Jadi Papa berani melawan Mama?" ujar istirnya itu.
"Kenapa harus takut sama Mama, kak Papa yang jadi kepala rumah tangga di sini."
"Baiklah! Nanti malam Papa tidur di luar," ancam istrinya itu.
"Jangan dong Mah!"
Menantu sama mertua sama-sama saja, takut pada istirnya. Gelak tawa mereka kembali nyaring melihat tingkah tuan Wisnu dan nyonya Diana.
Setelah acara makan malam berakhir, mereka semua pulang ke rumah masing-masing begitu juga dengan Andrian beserta keluarga kecilnya.
Sampai rumah Nayra masih kesal dengan omongan suaminya tadi.
"Maafkan aku Sayang! Aku hanya bercanda tadi, mana mungkin aku berani mencari wanita lain sedangkan kamu masih di sini bersama ku."
Andrian berusaha membujuk istirnya agar tak marah lagi.
"Oh! Jadi bila aku tak ada di sini Mas akan mencari perempuan lain, jadi selama aku koma Mas mencari perempuan lain?"
"Bukan seperti itu, mana mungkin aku jatuh cinta pada perempuan lain sedangkan hatiku semuanya sudah dipenuhi oleh cintaku padamu."
"Semua laki-laki itu sama, sama-sama buaya darat!!"
Nayra pergi meninggalkan Andrian di tempat sambil menggendong baby Nayaka dan menarik tangan Alden untuk pergi dari sana."
"Sayang! Maafkan aku, aku sangat menyesal mengatakan itu!!!" Andrian berusaha mengejar istrinya untuk meminta maaf tapi Nayra sama sekali tak menggubris perkataan suaminya itu.
"Malam ini aku tidur di kamar Alden, jadi Mas bisa tidur sendiri saja."
"Sayang! Aku mohon jangan seperti ini, aku janji tak akan mengucapkan hal bodoh seperti itu lagi."
Bukan memaafkan Andrian, Nayra malah masuk ke dalam kamar anaknya sambil menutup pintu agar Andrian tak masuk ke dalam. Sedangkan Alden masih diluar menemani papanya yang sedang dimarahi oleh mamanya.
"Sabar Pah!"
Alden menepuk-nepuk bahu papanya seperti orang dewasa yang sedang menenangi temanya.
"Papa minta tolong kamu bujuk Mama mu untuk memaafkan Papa, nanti Papa belikan Alden permainan yang baru."
"Alden tak suka lagi mainan, jadi Papa bujuk sendiri Mama. Soalnya Mama galak kalau sedang marah."
"Alden masuk!!!" teriak Nayra dari dalam.
"Baik Mah!" Alden langsung masuk ke dalam meninggalkan papanya yang masih ada di luar.
"Anak pun tak bisa membantu papanya sendiri, mungkin ini karma gara-gara dulu sering permainkan perempuan jadi gini deh."
Dengan berat hati Andrian menuju ke kamarnya, malam ini dia tidur sendiri tanpa ditemani anak dan istrinya. Sepi? Pasti itu yang dirasakannya saat ini tapi mau bagaimana lagi istirnya masih marah denganya saat ini.
Tepat pukul 12 malam suara pintu terbuka, dan ada seseorang yang menggoyang kan bahu Andrian yang sedang tertidur pulas.
Hingga suatu tangisan bayi membuat Andrian terbangun dari tidurnya. Dia melihat sebuah lilin menyala di atas kue yang dibawakan oleh seseorang yang spesial baginya.
"*Happy barday to you!"
"Happy barday to you!"
"Happy barday to Mas Andrian*!"
Nayra menyanyikan dengan pelan lagu selamat ulang tahun untuk suaminya itu sambil membawakan kue dengan lilin yang menyala.
"Selamat ulang tahun Mas! Sekarang tiup lilinnya," ucap Nayra.
Setelah meniup lilinnya mereka pun bertepuk tangan. Mereka bertepuk tangan bersama untuk memeriahkan malam bertambahnya umur Andrian. Mereka berkumpul di kamar, ada Alden dan baby Nayaka ada di sana.
"Terima kasih sayang! Apa kamu sudah tak marah lagi denganku sekarang?"
"Kapan aku marah pada Mas?"
"Aku hanya ingin mengeprank Mas saja, sebab malam ini bertepatan ulang tahun Mas."
"Bagaimana kamu bisa tau ulang tahun ku? Apa Mama yang memberitahu mu?"
"Sejak Nayra menjadi asisten Mas dulu, sejak Mas sering menyuruh aku membuatkan kopi, sejak Mas sering mengajak ku pergi meeting di luar dan sejak aku pertama kali mulai mencintai Mas, sejak itulah aku tau semua tentang Mas."
"Bagiamana kamu bisa mengingat semua itu, apa kamu?"
"Iya, aku sudah mengingatnya sejak dua hari yang lalu. Tapi aku sengaja tak memberi tahu Mas agar ini sebagai hadiah di ulang tahun Mas malam ini."
Mendengar itu Andrian langsung memeluk istrinya, dia begitu bahagia karena harapannya selama ini sudah tercapai. Sekarang dia begitu sangat bahagia di hari di mana dia dilahirkan di bumi ini.
"Terima kasih sayang! Aku begitu sangat bahagia mendengarkan kabar bahagia ini."
"Aku juga ingin berterima kasih karena Mas telah sabar menghadapi dan mau merawat ku ketika sakit."
"Itu sudah kewajiban ku sebagai suami mu, jadi tak ada kata merepotkan dalam mengurus mu."
"Owek__ Owek__ Owek__"
tangisan baby Nayaka yang merasa sesak nafas gara-gara orang tuanya berpelukan dengan dirinya yang berada di tengah mereka.
"Aduh maafkan Papa ya! Papa tak sadar kamu menjadi sesak nafas seperti ini," Andrian mengendong anaknya yang menangis gara-gara dirinya.
"Mah! Alden mau makan kuenya," celetuk Alden yang sudah mengincar kue itu sedari tadi.
Nayra pun memotong kuenya lalu memberikan kepada anaknya. Sedangkan Andrian menyuapi Nayra lalu menyuapi anaknya Alden, sedangkan baby Nayaka belum bisa memakan apapun selain ASI.
Karena begitu larut malam mereka tertidur berempat di atas ranjang itu, untung saja tempat tidurnya besar jadi bisa menampung seempat-empatnya di sana.
***
Di sisi lain ada sebuah mobil berhenti di tengah jalan ketika melihat seorang wanita sedang di hadang oleh para pereman di sana.
"Lepaskan wanita itu!!!" teriak Nathan membuat para pereman itu langsung mengarah ke sumber suara.
"Jangan ikut campur urusan kami!!" seru salah satu pemeran itu yang tak takut dengan Nathan.
"Kita kabur saja, dia sangat bahaya bila kita melawanya," bisik temanya yang tau tentang Nathan.
"Memangnya dia siapa?"
"Dia salah satu ketua dari para perkumpulan penjahat kelas atas itu."
Mendengar hal itu dia langsung menelan salivnya, dia tau betul siapa perkumpulan yang dimaksud temanya itu, mereka begitu kuat hingga perkumpulan itu yang menguasai dunia malam dan kelas kriminal tinggi.
Setelah tau siapa Nathan sebenarnya mereka berdua pun kabur dari sana melepaskan wanita yang baru saja ingin mereka ganggu.
"Apa kau tidak papa?"
"Terima kasih atas bantuannya Tu__" wanita itu tak melanjutkan perkataannya ketika melihat siapa yang sudah membantunya.
"Akhirnya kamu bisa berterima kasih padaku."
"Kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Amanda yang selalu bertemu dengan pria ini.
"Seharusnya aku yang harus bertanya kepada kamu, kenapa kamu bisa keluar malam-malam seperti ini padahal kamu perempuan."
"Aku baru pulang kerja."
"Jadi selama ini kamu pulang seperti ini?" Nathan begitu kaget karena dia wanita dan setiap malam pulang di jam seperti ini.
"Mau bagaimana lagi ini sudah jadi tuntutan pekerjaan, lagian ini pertama kalinya aku mendapatkan kejadian tak terduga seperti ini."
"Tapi tidak menutup kemungkinan kamu akan di ganggu di hari-hari berikutnya."
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^