
🍁🍁🍁
"Memangnya Alden mau main apa?" tanya Amanda.
"Main di taman, kata Papa ada taman di kantornya," ujar Alden.
"Baiklah kalau itu mau Alden, ayok kita pergi ke taman."
Dengan senang hati Amanda mengajak Alden pergi ke taman dengan mengandeng tangan Alden. Di lantai bawah ketika menuju ke taman semua orang melirik Amanda karena bersama anak kecil yang dibawa bosnya itu.
Mereka saling melirik satu sama lain ketika Amanda lewat di depannya. Sebagian orang di kantor itu tau Amanda suka dengan Andrian tapi sampai saat ini Andrian tidak tau tentang hal itu karena dia tidak peduli tentang hal itu.
"Jangan sampai Amanda jadi pelakor di antara Tuan Andrian dengan Nona Nayra," bisik salah satunya.
"Nggak mungkin lah, secara kan Nona Nayra lebih cantik," bisik satunya.
Bisikan mereka semua bisa didengar oleh Amanda, sakit? Pasti begitu sakit ketika dibicarakan oleh satu kantor itu, bahkan dia tidak tau dari mana mereka tau bahwa dia memang ada rasa pada bosnya. Padahal dia tak pernah memberi tahu siapa-siapa tentang perasaannya ini.
Dia juga tidak ada niat untuk mengambil tuan Andrian dari istrinya, dia juga sadar di mana posisinya sekarang.
Sesampainya di taman, Alden langsung bermain perosotan di sana yang memang sudah disediakan. Sedangkan Amanda hanya memperhatikan Alden sambil memainkan ponselnya di bangku taman itu. Setelah lama bermain Alden merasakan haus di tenggorokannya.
"Tante! Alden haus," ujar Alden yang menghampiri Amanda yang sedari tadi memainkan ponselnya. Tetapi karena begitu asik memainkan ponselnya membuat Alden berteriak di depan Amanda.
"Tante Alden haus!!!!" teriak Alden membuat Amanda spontan melirik Alden.
"Maafkan Tante sayang, Alden tadi mau apa?" Amanda langsung memasukkan ponselnya karena tadi ia sedang membalas pesan dari ibunya di kampung.
"Alden haus cekali, Alden mau makan es cream!"
"Kalau gitu Alden tunggu di sini dulu, Tante belikan Alden es cream."
Amanda pun pergi membelikan es cream untuk Alden di dekat sana tak lama kemudian ia kembali ke taman itu untuk memberikan Alden es cream. Alden begitu menikmati es cream itu sampai habis sampai tak sadar mulutnya begitu belepotan karena es cream nya.
"Sini Tante bersihkan bekas es creamnya!" Amanda mengambil tissue untuk membersihkan bekas es cream di mulut Alden.
"Tante kita main kejar-kejaran ayok! Alden yang lari Tante yang kejar Alden," ucap Alden dengan khas anak kecil.
Sebenernya Amanda begitu malas bermain kejar-kejaran, apalagi dia sedang menggunakan rok mini membuatnya tak nyaman untuk berlari. Tapi kalau tidak dituruti nanti dia takut bila anak itu menangis karena tak dituruti.
"Baiklah, sekarang Tante hitung ya! satu... dua... tiga... lariiii!!!" seru Amanda mengejar Alden.
Mereka bermain lari-larian dengan Alden yang lari dan Amanda yang mengejar. Amanda begitu capek mengejar Alden karena larinya begitu cepat.
Sampai akhirnya ketika Amanda ingin menangkap Alden, Alden malah menambah kecepatan larinya agar tak bisa ditangkap, sampai akhirnya Alden tak melihat ada batu di depannya membuatnya tersandung sampai jatuh.
"Aw!!!" jerit Alden kesakitan.
"Alden!!!" panggil Amanda yang begitu panik melihat Alden terjatuh.
Ketika melihat kondisi Alden, ia melihat kakinya luka sampai berdarah, Amanda begitu panik karena Alden sedari tadi tak henti-hentinya menangis.
"Huwaaaaa hiks... hiks... hiks..." Alden menangis sejadi-jadinya karena takut melihat darah di kakinya itu.
"Cup! cup! cup! Alden jangan nangis ya! Sekarang kita obatkan lukanya," ujar Amanda.
Di belakang Amanda terlihat ada orang yang bertubuh tinggi dengan bahu yang lebar, ia menggenakan jas serta berpakaian rapi. Terlihat raut wajahnya yang panik mendengarkan suara anaknya menangis kencang.
"Papaaaa!!! Hiks...." panggil Alden menambah tangisannya.
"Apa yang sudah kamu perbuat dengan anak saya?" tanya Andrian terlihat raut wajahnya yang marah.
"Maafkan saya Tuan! Tapi Alden sedang berlari lalu tak melihat ada batu, jadi ia terjatuh," jelas Amanda.
"Kenapa kamu membiarkan dia berlari seperti itu? Saya sudah pesan ke kamu untuk menjaganya. Apa kamu tak becus menjaga anak kecil?!" ujar Andrian sedikit membentak Amanda.
"Maafkan saya Tuan! Saya janji tak akan mengulangi kejadian ini lagi," Amanda begitu takut dengan kemarahan Andrian, ia menundukkan kepalanya karena matanya sudah ingin mengeluarkan air mata karena ia tak bisa dibentak seperti ini.
"Papaaaa!!! Sakit!!!" adu Alden lagi membuat Andrian langsung terfokus dengan anaknya. Ia mengendong anaknya pergi dari sana meninggalkan Amanda sendirian di sini.
"Sakit banget rasanya di marahin," Amanda sedikit menitikkan air matanya sambil memegang dadanya yang terasa sakit ketika dimarahin tadi.
Sedangkan di sisi lain, Andrian mengobati kaki anaknya yang berdarah. Dia mengambil kotak P3k di ruangannya, setelah selesai mengobati kaki anaknya. Alden malah merengek untuk pulang.
"Pah! Alden ingin puyang! Alden tidak betah di cini, Alden kangen Mama," keluh Alden.
Andrian pun menyanggupi permintaan anaknya itu, ia mengantarkan anaknya pulang ke rumah, sesampainya di sana dia melihat Nayra sudah pulang dari rumah orang tuanya.
"Lho! Kok Mas cepat sekali pulang?" tanya Nayra yang melihat suaminya pulang masih siang gini.
"Alden tadi jatuh di taman perusahaan jadi aku membawanya pulang ke rumah."
"Tuh kan sudah Nayra bilang, kalau Mas bawa Alden ke kantor pekerjaan Mas akan terganggu olehnya," bukannya mengkhawatirkan anaknya malah ia khawatir dengan pekerjaan suaminya terhambat oleh Alden.
"Dia sama sekali tidak merepotkan, tadi dia terjatuh ketika bermain dengan asisten ku, dan sudah aku marahi asisten itu karena tak becus menjaga anak kita."
"Kebiasaan deh Mas marah-marah kepada orang yang tak bersalah, pasti ini ulah Alden sedini makanya jatuh jadi Mas nggak perlu memarahi asistennya Mas."
"Lalu bagaimana keadaan anak Mama ini?" baru sekarang dia menanyakan luka anaknya.
"Sakit Mah!" keluh Alden.
"Alden kan kuat, jadi jatuh kayak gini tidak perlu nangis ya sayang," ujar Nayra menghapus air mata anaknya. Ia mengajarkan anaknya kuat dari kecil biar nanti besarnya tidak manja dan tau bagaimana kerasnya hidup.
"Iya Mah! Alden nggak nangis lagi."
"Nah ini baru anaknya Mama Nayra yang ganteng ini."
"Mas balik lagi ke kantor?" tanya Nayra beralih ke Andrian.
"Iya, karena masih ada pekerjaan yang aku belum bereskan, mungkin nanti malam Mas akan pulang."
"Baiklah! Mas hati-hati di jalan, cup!" Nayra memberikan sebuah ciuman di pipi suaminya agar semangat bekerja.
"Aku tambah bersemangat bekerja kalau setiap hari dapat kecupan manis dari istri tercinta."
"Baiklah Nayra akan memberikannya setiap Mas kerja."
"Yasudah Mas balik kerja dulu, baybay sayang!!" Andrian balik mencium dahi Nayra lalu masuk ke dalam mobil. Andrian melambaikan tangan nya kepada anak dan istrinya baru dia benar-benar pergi dari sana.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT^_^