My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 114



🍁🍁🍁


"Tapi tidak menutup kemungkinan kamu akan di ganggu di hari-hari berikutnya."


"Lalu aku harus apa? Aku tak mungkin meninggalkan pekerjaan ku saat ini. Susah mencari pekerjaan di kota ini jadi tak ada jalan keluar untuk itu."


Nathan pun mengerti bagaimana keadaan Amanda saat ini.


"Apa kamu mau bekerja denganku, tapi jadi pembantu di apartemen ku. Hanya itu yang ada saat ini dan aku juga sedang membutuhkan pembantu."


Tanpa pikir panjang Amanda langsung mau dengan tawaran Nathan, dia juga sudah capek bekerja seperti ini, setiap malam diganggu oleh para lelaki hidung belang, untung saja Amanda tak kenapa-napa selama kerja di club' malam.


"Tapi ada syaratnya bisa bekerja di aku."


"Apa persyaratannya?"


"Besok malam kamu harus berpura-pura menjadi kekasihku di depan semua keluarga ku."


"Hanya itu saja?" Amanda terlihat meremehkan.


"Iya itu saja, apa kamu bisa?" tanya Nathan yang sedikit ragu.


"Sangat gampang, aku ahli dalam berakting jadi kamu tak usah meragukan kemampuan ku."


"Baiklah, mulai lusa kamu bisa bekerja di apartemen ku, tapi kamu harus tinggal di sana juga."


Amanda tak masalah harus tinggal di apartemen Nathan dengan itu dia bisa irit untuk tak membayar uang kost an. Bahkan gelas S1 nya tak berguna lagi dengan dirinya sebagai pembantu tapi apapun dia kerjakan asal bisa bertahan hidup di kota ini dan bisa membiayai ibunya yang ada di kampung.


"Kalau gitu akan ku antar kamu ke kostan mu. Lalu bawa barang mu ke apartemen ku, mulai malam ini kamu tinggal di sana."


"Apa harus malam ini?"


"Kenapa? Apa kamu tak mau?"


"Bukan begitu tapi aku belum izin sama Ibu kost nanti takut dia mencariku."


"Lalu bagaimana sekarang?"


"Gini saja, aku akan datang ke apartemen mu sendiri besok setengah izin dengan Ibu kost ku, kamu kasih saja alamat apartemen mu."


"Baik kalau itu mau mu."


Nathan pun memberikan alamat apartemennya kepada Amanda, Amanda pun memberikan nomor telponnya kepada Nathan agar bisa menghubunginya bila ada sesuatu.


"Sekarang mana nomor telpon mu? Biar aku mudah menghubungi mu nantinya," minta Amanda.


Nathan pun memberikan nomor ponselnya kepada Amanda.


"Siapa namamu? Aku belum tau namamu sampai saat ini."


"Sudah berapa kali kita ketemu tapi kamu tak tau namaku? Astaga! Sini ponselmu!!"


Nathan merampas ponsel Amanda untuk menulis nama di nomor yang sudah ditulis oleh Amanda barusan. Dia menaruh "Boss Tampan" untuk nama telponnya di sana. Melihat itu Amanda mengernyitkan alisnya karena calon bosnya itu sudah begitu pede bahwa dirinya itu tampan.


"Jangan ganti dia, itu panggilan yang sangat cocok bagiku!!"


"Terserah kamu saja, aku tak peduli."


Nathan pun pergi mengantarkan Amanda pulang ke kostnya. Di perjalanan mereka tak mengatakan apa-apa, bahkan sepatah katapun mereka tak lontarkan di dalam perjalanan. Hanya ada hening dan suara angin malam yang terdengar di sepanjang perjalanan.


Sesampainya di depan kostnya, Amanda langsung masuk ke dalam kostnya sebelum itu dia berterima kasih kepada Nathan karena sudah mau mengantarkan dan membantunya tadi.


Selepas Amanda masuk Nathan masih memandangi kost Amanda. Ia melihat tempat itu tidak terlalu layak untuk ditinggalkan.


"Ada orang yang mau tinggal di kost-an kumuh seperti ini."


Ucap Nathan yang melihat kost Amanda yang kumuh serta sudah tak layak dipakai, bahkan cat temboknya saja sudah kusam dan lembam.


***


Sesampai di depan gedung apartemen, Nayra masuk ke dalam lift untuk menuju kamar apartemen Nathan. Sesampai di depan pintu terlihat sangat sepi, bahkan tetangga sebelah tak ada yang nampak sedikit pun.


"Apa aku bisa betah di sini? Terlihat tak ada penghidupan di sekitar sini," gumam Amanda yang melihat tak ada orang yang berkeliaran di luar, semua pintu mereka tertutup dengan begitu rapatnya.


"Ting!"


Amanda mulai memencet bel, tapi lama menunggu tak ada sahutan atau suara orang di dalam, ia pun kembali untuk memencet bal ke dua kalinya.


"Ting!"


Kedua kalinya sama saja tak ada orang yang membuka pintu.


"Ting!"


"Ting!"


"Ting!


Hingga beberapa kali Amanda memencet bal tetap saja tak ada nampak kehidupan di dalamnya. Amanda pun memutuskan untuk menelpon Nathan, ketika sudah mengambil ponselnya untuk menelpon Nathan, terlihat seseorang membukakan pintu dari dalam.


"Kenapa lama sekali membuka pintunya?"


"Aku baru habis bangun tidur."


Amanda pun melihat dari ujung kaki sampai ujung rambut memang terlihat Nathan baru habis bangun tidur, terlihat dari pakaian yang acak-acakan serta rambut yang masih berantakan.


"Ayok masuk! Jangan memandangi aku terus, aku tau aku memang tampan."


Amanda langsung terperanjat dari lamunannya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat majikan nya ini begitu pede dengan ketampanan yang dia miliki.


Ketika masuk ke dalam Amanda langsung terpana dengan interior apartemen itu, terlihat begitu mewah dan elegan. Perpaduan warna putih dan mas membuat apartemennya terkesan tampak mewah sekali tapi memang apartemen di sini adalah apartemen kalangan elit.


Tapi satu membuat Amanda begitu jengkel dengan apartemennya, di dalamnya begitu sangat berantakan. Bahkan baju-baju dan barang-barang berserakan tidak tertata rapi.


"Jangan salah fokus sama keadaan apartemen ku yang sedikit berantakan, maklum aku begitu sibuk mengurus perusahaan ditambah lagi aku seorang dokter jadi wajar aku tak ada sempat untuk mengurus apartemen ini."


"Sedikit kamu bilang? Ini sangat berantakan, mungkin hari ini aku akan encok membereskan semuanya," seru Amanda.


"Tenang saja aku tak akan membuatmu bekerja sekarang itu, aku akan mengaji mu sesuai kinerja mu, aku akan mengaji mu perbulan 10 juta asalkan kamu kerjanya yang bagus dan tak bermalas-malasan."


Mendengar gajinya yang begitu besar membuat Amanda membelakan matanya, bahkan gaji sebagai asisten pribadi Andrian dulu hampir sama dengan dirinya menjadi pembantu di sini.


"Bukannya itu sangat besar? Jadi jangan buat kesalahan di sini, kamu mengerti?"


"Baik aku mengerti Tuan!!" Amanda mendudukkan kepalanya sebagai bentuk hormat pada bos barunya.


"Aku tidak terlalu suka disebut "Tuan" jadi kamu bisa memanggil ku seperti sebelumnya, mengerti?"


"Itu sangat mudah dimengerti."


"Bagus kalau kamu mengerti!!"


Nathan pun pergi dari sana untuk kembali melanjutkan tidurnya, dia masih merasa mengantuk gara-gara semalam dia tak bisa tertidur.


"Nathan!" panggil Amanda membuat Nathan menghentikan langkahnya masuk ke dalam kamar.


"Di mana kamarku? Aku ingin menaruh barang-barang ku."


"Itu di samping kamarku, tapi kamu harus bersihkan dulu karena kamar itu sudah lama tak ditempatkan."


Nathan menunjukkan sebuah kamar yang berada tepat di samping kamarnya, Amanda pun berlalu masuk ke dalam kamar yang akan menjadi kamarnya itu.


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^