
🍁🍁🍁
Tak sengaja ia berpapasan dengan Andrian padahal dia tak mau bertemu dengannya untuk sementara waktu tapi apa boleh buat dia tidak bisa menghindarinya.
"Amanda!" panggil Andrian membuat Amanda menoleh ke arah belakang.
"Iya Tuan ada apa?"
"Apakah kamu sudah menyelesaikan proposal yang saya suruh kemarin?"
"Iya Tuan," jawab Amanda singkat.
"Kenapa matamu terlihat baru selesai menangis? Apakah ada masalah?" Terlihat jelas di mata Amanda yang merah membuat orang tau bahwa Amanda selesai menangis.
"Saya akan segera mengambilkan proposal itu dan memberikan nya kepada Tuan, kebetulan proposal itu ada di ruangannya Tuan," Amanda sengaja mengalihkan pembicaraan agar Andrian tak bertanya lagi.
"Tidak usah, saya yang akan mengambilnya nanti. Dan hari ini saya akan cepat pulang karena akan menjemput calon istri saya di salon."
Amanda hanya tersenyum kecut saja mendengar hal itu. Hatinya gemetar menerima kenyataan ini, padahal baru kemarin ia berbunga-bunga di buat oleh bosnya itu sekarang dia kembali sadar dengan posisinya.
"Selamat Tuan, semoga pernikahan lancar sampai hari-H."
"Terima kasih!"
***
"Sayang, Mama ada urusan di luar, jadi Mama tinggal kamu di sini ya, nanti Andrian yang ke sini menjemput mu."
"Ya Mah, Mama pergi saja biar Nayra di sini sendirian," ujar Nayra yang sedang diberikan tritmen. Mereka sengaja ke salon agar besok pagi menjelang pernikahan Nayra terlihat tambah segar dan cantik.
"Kamu tidak papa kan Mama tinggal duluan?" tanya sekali lagi calon mertuanya itu.
"Iya Mah, Nayra tidak papa!"
"Yasudah Mama tinggal dulu, bey Sayang. Selamat menikmati tritmen mu."
"Hati-hati Mah!"
Setelah kepergian calon mertuanya itu, tinggal Nayra sendiri yang ada di sana. Setelah satu jam lamanya akhirnya tritmen yang dilakukan Nayra sudah selesai.
Nayra menunggu Andrian di luar salon karena tadi Andrian menelpon sedang ada di perjalanan.
Ketika menunggu Nayra melihat sebuah mobil berhenti di depannya, ia melihat dua orang laki-laki bertubuh besar dengan menggenakan pakaian berwarna hitam. Nayra kira itu hanya orang yang ingin datang ke salon.
Tapi lama kelamaan mereka mendekati Nayra lalu tanpa permisi dua orang itu menarik tangan Nayra untuk masuk ke dalam mobil.
"Kalian mau membawaku ke mana?" tanya Nayra begitu ketakutan.
"Diam saja! Kau harus ikut dengan kami!"
Mereka berusaha menarik Nayra masuk ke dalam, tapi dengan sekuat tenaga Nayra berusaha melepaskan diri dari dua orang itu.
"Tolong! tolong... to..."
Mulut Nayra langsung dibungkam oleh salah satu dari mereka, tak lama kemudian Nayra pingsan karena dibius oleh mereka.
Dengan cepat mereka memasukkan Nayra ke dalam mobil dan bergegas pergi dari sana. Selang beberapa saat Andrian tiba untuk menjemput Nayra tapi ia tak melihat sama sekali tanda-tanda Nayra ada di sana.
"Di mana Nayra? Apa dia masih ada di dalam?"
Andrian merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya. Dia menekan nomor Nayra untuk menghubunginya tapi sama sekali tak ada yang mengangkat telponnya.
Andrian kembali menghubungi Nayra, kali ini nomornya tak aktif sama sekali membuat Andrian khawatir.
"Kenapa nomornya sekarang tidak aktif?"
Karena khawatir Andrian langsung masuk ke dalam sana untuk menanyakan keberadaan Nayra, mungkin saja Nayra masih ada di sana.
"Selamat datang Tuan Andrian, apakah Anda membutuhkan sesuatu?" tanya resepsionis itu dengan ramah.
"Nona Nayra sudah keluar dari tadi."
"Apakah kalian melihat dia pergi ke mana tadi?" tanya lagi Andrian.
"Tidak Tuan! Kami hanya melihat Nona Nayra keluar dari sini saja, seterusnya saya tak melihatnya lagi."
Andrian tambah cemas dan khawatir dengan keadaan Nayra sekarang. Ini tak biasanya Nayra pergi tanpa memberitahu terlebih dahulu.
"Apakah salon ini mempunyai CCTV?"
"Kami mempunyai CCTV di semua sudah salon ini."
"Apa bisa saya melihat CCTV di sini? Saya khawatir calon istri saya kenapa-napa."
"Bisa Tuan, mari ikut saya ke ruang monitor."
Mereka pun pergi ke ruang monitor untuk memastikan Nayra pergi ke mana. Dan benar saja kalau Nayra di culik oleh dua orang laki-laki bertubuh besar.
Andrian mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya ketika melihat Nayra dipegang oleh laki-laki lain, ia terlihat begitu emosi melihat kekasihnya itu diperlakukan seperti itu.
Tanpa berkata sedikit pun, Andrian langsung pergi dari sana bergegas mencari Nayra. Ketika di perjalanan ia sadar bahwa dia belum tau ke mana arah tujuannya untuk mencari Nayra.
"Sial! Beraninya dia menculik Nayra, awal saja setelah ku temui Nayra aku akan mencari tahu pelaku sebenarnya," Andrian terus mengepalkan tangannya dengan mata yang terlihat begitu tajam seperti ingin membunuh seseorang.
"Ini semua karena kelalaian ku, kenapa tidak aku saja yang menemani Nayra ke salon mungkin ini tak akan terjadi."
Dia tidak bisa terus-terusan seperti ini, dia harus bertindak secepat mungkin. Andrian terlihat sedang menghubungi seseorang.
Telpon.
"Hallo! Kamu kerahkan semua anak buah mu untuk mencari calon istri ku, aku tidak mau tau kalian harus menemukannya hari ini. Bila kalian tidak menemukannya akan ku penggal kepala kalian."
Suara Andrian terdengar begitu menyeramkan. Ia tak segan-segan melakukan apapun demi Nayra, bahkan nyawanya sekalipun.
Andrian kembali menyetir mobilnya menuju kediam Ghratama, dia akan memberitahu kedua orang tuanya tentang apa yang telah terjadi dengan Nayra saat ini.
"Apa? Nayra di culik?" nyonya Kumala begitu syok mendengar kan kabar itu dari mulut Andrian.
"Bagaimana bisa Nayra diculik seperti ini?" sekarang tuan Wijaya yang bertanya kepada Andrian.
"Andrian juga tidak tau bagaimana Nayra bisa diculik, dari CCTV salon tadi Andrian tidak mengenal orang yang menculik Nayra.
"Ini semua salah Mama, bila saja Mama tidak meninggalkan Nayra sendirian di salon mungkin ini tidak terjadi."
"Mama tidak usah menyalahkan diri sendiri, ini semua karena kelalaian kita semua jadi jangan salahkan diri sendiri," ujar Andrian menenangkan mamanya.
"Andrian sekarang harus pergi mencari Nayra, Andrian tidak bisa berdiam diri seperti ini."
"Kamu mau mencari Nayra ke mana? Sedangkan kita belum tau keberadaannya di mana."
"Andrian akan menyusuri semua wilayah ini, bahkan kalau bisa semua dunia ini akan Andrian telusuri untuk mencari Nayra."
"Lalu dengan pernikahan ini bagaimana? Apakah kita harus membatalkannya, tapi semua undangan sudah tersebar ke mana-mana.," ujar nyonya Kumala khawatir.
"Mama tenang saja, Andrian akan membawa Nayra tepat sebelum pernikahan nya berlangsung. Jadi Mama tidak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Mama hanya perlu meyakinkan Alden untuk tidak khawatir dengan mamanya."
"Kamu tidak usah khawatir dengan Cucu Mama, Mama tak akan membiarkan Cucu Mama tau tentang Nayra."
"Kalau gitu Andrian pergi dulu," Andrian kembali bergegas pergi dari sana.
"Pah, bagaimana ini? Mama khawatir dengan Nayra. Mama takut bila dia kenapa-napa."
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^