
🍁🍁🍁
Andrian pun memakan bekal yang dibawa Nayra dengan lahap, bila Nayra yang memasak dia akan makan begitu lahap hingga habis.
"Apakah makanannya enak?" tanya Andrian.
"Tidak!" jawab Andrian singkat.
"Apakah tidak enak? Kalau tidak enak Nayra belikan saja yang lain."
"Makanannya sangat enak, bukan enak lagi," ujar Andrian memuji.
Nayra mulai kepikiran dengan Amanda, ingin Nayra mengungkapkan kekhawatirannya kepada Andrian tapi dia takut bila Andrian tak percaya padanya.
"Mas?"
"Hm!"
"Nayra mau tanya, apakah asisten mu itu kerja di ruangan ini?"
"Iya, seperti kamu dulu."
"Hm gitu!"
"Memangnya kenapa kamu tanya gitu? Apakah kamu cemburu aku dengannya satu ruang?"
"Nayra cuma takut bila dia menyukai Mas, aku tak mau itu terjadi."
"Hahaha___ Istriku ini takut banget sih bila ada cewek yang suka sama suaminya yang tampan ini," tawa pecah dari Andrian mendengar perkataan Nayra. Sangking gemasnya Andrian mencubit pipi chubby Nayra.
"Aw sakit Mas!" pekik Nayra.
"Kamu sih buat aku gemes, kalau asisten ku itu suka sama aku ya nggak papa! Asal aku tak suka samanya."
"Tapi kan kalau dia suka sama Mas buat Nayra takut, aku takut Mas akan berpaling dari Nayra."
"Terus kamu mau apa? Apakah aku harus memindahkannya atau memecatnya?"
"Mas bisa pindahkan saja dia ke bagian lain."
"Tapi mencari asisten pribadi sangat sulit dicari untuk saat ini."
"Biar Nayra saja yang menjadi asisten Mas."
"Tidak-tidak! Kamu sedang hamil saat ini aku tak mau melihatmu terlalu capek, lagian kalau kamu yang menjadi asisten ku bukannya pekerjaan beres malah aku tak fokus bekerja karena ada dirimu."
"Lalu solusinya bagaimana?"
"Biarkan Amanda jadi asisten ku, tapi ku pindahkan ruangannya agar tak satu ruangan denganku. Sekarang apakah kamu puas sayang?"
"Iya, Nayra tak khawatir lagi Mas satu ruangan dengannya."
Suara ketukan pintu mengehentikan obrolan seru mereka di dalam.
Tok... tok... tok...
Terdengar suara pintu diketuk dari dalam dan tak lama kemudian orang yang mengetuk tadi masuk ke dalam. Sosok Tiara masuk ke dalam ruangan itu, ia melihat ada Nayra membuatnya terlihat begitu senang.
"Nayra!!!" panggil Tiara langsung memeluk Nayra. Begitu juga dengan Nayra yang ikut membalas pelukan Tiara.
"Mbak Tiara apa kabar?" tanya Nayra.
"Ups! maksudnya Nona Nayra," ucap Tiara memperbaiki penyebutannya kepada Nayra. Sekarang teman nya itu sekarang adalah istri bosnya.
"Tidak papa Mbak! Saya juga lebih nyaman di panggil nama tanpa embel-embel Nona."
"Tapi ada suami mu di sini, nanti aku di omelin lagi kalau ku panggil kamu hanya sebutan nama," bisik Tiara di telinga Nayra.
"Biasa Mbak, Mas Andrian emang gitu jadi maklumi lah," sekarang Nayra yang berbisik pada Tiara.
Andrian yang melihat mereka berbisik-bisik membuatnya curiga bahwa dia yang jadi korban gibahan mereka.
"Khm! Kalian membicarakan saya?"
"T-tidak!" ucap mereka berdua dengan kompak.
"Bagaimana keadaan mu Nay? Apakah kamu bahagia sekarang?" tanya Tiara.
"Nay lebih baik dari sebelumnya. Kalau Mbak bagaimana kabarnya?"
"Itu masalahnya Nay, Mbak harus izin pulang kampung lagi karena Mbak akan menikah."
"Hah menikah? Selamat Mbak, ngomong-ngomong Mbak menikah dengan siapa? Kenapa Mbak tak pernah cerita kalau Mbak mempunyai pacar."
"Mbak tidak pacaran dengannya, Mbak dijodohkan sama Ibu dan Bapak, katanya dia ingin masa tuanya melihat anaknya nikah. Mbak pun menyetujui hal itu karena alasan yang mereka kasih."
"Tapi apakah Mbak mencintainya?"
"Mbak juga tidak tau, Mbak hanya bertemu dengannya beberapa kali saja tapi dia terlihat baik dan cocok untuk dijadikan suami."
"Memang dia siapa?"
"Ini undangannya! Kamu datang saja biar bisa melihatnya," Tiara memberikan undangan pernikahannya yang akan dilaksanakan 2 Minggu lagi.
Ketika Nayra membaca nama mempelai pria nya, dia begitu kaget karena dia begitu familiar dengan nama itu.
"Ini benar nama prianya?" tanya Nayra memastikan.
"Iya benar, memangnya ada apa dengan namanya? Apakah ada yang salah."
"Tidak ada sih, apakah boleh Nay melihat fotonya?"
Tiara pun memberikan foto calon suaminya kepada Nayra. Ketepatan dia mendapatkan foto calon suaminya itu di sosial medianya
Dan benar dugaan Nayra, bahwa pria yang akan dinikahi Tiara adalah Baim pria yang pernah menemaninya selama ini. Nayra begitu senang karena Baim sudah mendapatkan wanita yang tepat. Setiap saat dia berdoa bahwa sahabatnya itu mendapatkan wanita yang lebih baik darinya dan sekarang doanya sekarang sudah terkabul.
"Apakah kamu kenal dia Nay?"
"Dia temanku ketika pindah ke Jakarta, setelah menikah dengan Mas Andrian baru kita tak pernah ketemu,aku khawatir dia kenapa-napa tapi sekarang aku lega karena dia mendapatkan wanita tepat seperti Mbak."
"Memangnya Baim baik ya Nay?" tanya Tiara yang ingin mengetahui lebih jauh tentang calon suaminya.
"Bukan sekadar baik, tapi dia begitu tulus dan terlalu baik hingga dia tak pantas mendapatkan kesedihan. Nayra mohon Mbak cintai dia karena dia laki-laki yang baik."
Mendengar nama "Baim" di sebut membuat Andrian mendekat ke arah mereka. Dia masih mengingat Baim lah yang jadi saingannya dulu untuk merebuti Nayra.
"Apa yang kalian bicarakan sampai terlihat serius seperti ini?" tanya Andrian menghampiri mereka.
"Kebetulan Anda ada di sini Tuan, saya meminta izin lagi."
"Apakah Ibumu sakit lagi?"
"Tidak, saya izin untuk menikah Tuan, acaranya dua Minggu lagi. Tuan bisa datang dengan Nona Nayra."
"Tidak ku izinkan Nayra pergi ke mana-mana saat ini," ucap Andrian. Karena dia tau kalau pergi ke pernikahan Tiara pasti harus menempuh perjalanan jauh.
"Mas! Ini kan pernikahan Mbak Tiara, masak Nayra tak datang sih?" Nayra sedikit kesal karena suaminya memutuskan sepihak seperti itu apalagi di depan Tiara membuatnya tak enak.
"Apakah kamu lupa bahwa ada janin di dalam perutmu, aku tak mau bila terjadi sesuatu dengan mu dan bayi kita. Apalagi kondisi kehamilan mu begitu rentan untuk keguguran," jelas Andrian.
"Astaga! Apakah Nona Nayra sedang hamil? Wah selamat ya, Saya ikut senang mendengar kehamilan Nona. Benar kata Tuan Andrian Nona tak boleh berpergian jauh dulu, Nona bisa mendoakan acaranya lancar sampai hari-H saja itu sudah buat saya bersyukur tanpa Nona datang ke pernikahan saya," Tiara berbicara begitu formal karena ada Andrian di dekatnya. Padahal sebelum itu Andrian bisa mendengarkan mereka berbicara sedari tadi.
"Tapi Nayra ingin pergi."
"Sudahlah Sayang! Apakah kamu tak menyayangi janin mu?" Nayra hanya diam saja ketika Andrian berbicara tadi.
"Ohya! Tentang permintaan izin mu, saya harap kamu tetap kerja di sini walaupun kamu sudah menikah."
"Tenang saja Tuan, saya dan suami akan tinggal di sini jadi saya bisa tetap kerja di sini."
"Baguslah kalau gitu."
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, Nona!" pamit Tiara pergi meninggalkan ruangan itu.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^