
🍁🍁🍁
"Bukan begitu Pak, saya merasa tak pantas menjadi bagian keluarga Bapak," itulah yang membuat Nayra berat menerima Andrian.
"Siapapun wanita nya, siapapun dia bila dia wanita yang melahirkan darah dagingku maka wanita berpendidikan ataupun yang kaya kalah dengan wanita seperti mu."
"Tapi orang tua Bapak bagaimana? Keluarga besar Bapak bagaimana?" Nayra seperti mencari-cari alasan agar bisa menolak lamaran dari Andrian.
"Kau tak usah memikirkan hal itu. Yang terpenting kamu mau dan aku mau maka tak ada orang yang bisa mengehentikan hubungan ini."
"Atau jangan-jangan kau sengaja mencari alasan agar kamu ada alasan untuk menolak lamaran ku hm?" tanya Andrian yang baru menyadari Nayra dari tadi mencari-cari alasan melulu.
"Bukan seperti itu Pak!" Nayra gugup dipandang begitu tajam oleh Andrian.
Terlihat Andrian semakin melangkahkan kakinya untuk mendekati Nayra. Sedangkan Nayra mundur ketika Andrian semakin dekat dengan nya.
"B-bapak mau apa?" tanya Nayra melihat wajah Andrian terlihat begitu seram.
Sedangkan Andrian sengaja seperti itu melihat Nayra takut. Ia begitu kesal melihat Nayra dari tadi mencari-cari alasan agar menolaknya.
Andrian yang memajukan langkahnya berhenti ketika melihat Nayra tak bisa lagi memundurkan langkahnya dikarenakan tembok yang menghalangi.
"Tolong menjauh dari hadapan saya?" ujar Nayra.
"Jawab dulu pertanyaan ku! Apa kamu bersedia menikah denganku?" ucap Andrian terlihat tersenyum devil.
"Sudah saya katakan! Bahkan saya tak pantas untuk Bapak," ujar Nayra begitu gugup.
"Jadi selama ini kamu tak mencintai ku? Berarti belakangan ini kamu sering mengkhawatirkan ku itu bagaimana? Kalau bukan cinta?"
"Saya mengkhawatirkan Bapak tidak lebih dari rasa terima kasih saya karena telah mau mendonorkan darah untuk Alden."
Entah mengapa Nayra sebenarnya berbohong mengatakan itu tadi. Padahal di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ada rasa cinta kepada pria yang ada di hadapannya saat ini, tapi rasa cinta itu ditutupi oleh rasa kebenciannya selama lima tahun ini.
"Tapi aku sangat mencintaimu, bahkan aku rela berbuat apapun untuk mendapatkan cinta darimu."
"Maksud B-bapak apa?"
"Apapun itu, aku akan melakukannya asal kau menjadi milikku."
Entah kenapa Andrian menjadi blak-blakan mengatakan ini. Membuat Nayra menjadi takut.
"Lepaskan saya Pak!" Nayra berusaha keluar dari kecanggungan ini, tapi tangan Andrian serta tembok yang ada dibelakangnya saat ini menghalanginya untuk bisa ke mana-mana.
"Jawab dulu pertanyaan ku! Apakah kamu juga mencintai ku?" tanya Andrian.
"Untuk mencintai Bapak mungkin agak sulit, tapi untuk menerima lamaran Bapak saya akan memikirkannya. Jadi tolong berikan saya waktu untuk memutuskannya, karena saya juga memikirkan masa depan Alden agar terjamin."
"Jadi kamu menerima lamaran dariku?" tanya Andrian terlihat begitu bahagia. Walaupun ada sakit ketika Nayra tak bisa mencintainya. Tapi itu tidak jadi masalah buat Andrian, karena setelah ia dapatkan Nayra maka hatinya akan cepat ia dapatkan seiring berjalannya waktu.
"Berikan saya waktu untuk memikirkan semua itu. Jadi tolong untuk saat ini Bapak jangan meneror saya dengan pertanyaan ini lagi," ujar Nayra.
Ketika tengah-tengah pembicaraan mereka berdua, tiba-tiba saja Baim masuk ke dalam membuat Andrian dan Nayra begitu terkejut. Tak kalau terkejutnya Baim yang melihat posisi mereka yang begitu dekat serta intim.
"Maaf! Maaf! Aku menganggu kalian berdua, kalau gitu aku keluar dulu," ujar Baim yang langsung keluar sambil menghindari tatapan dari Nayra.
"Baim... Ini bukan yang kamu lihat," ujar Nayra agar Baim tak salah paham padanya, tapi Baim tak mau mendengarkan Nayra, ia malah pergi tanpa menghiraukan perkataan Nayra.
Sedangkan Nayra merasa bersalah telah seperti ini pada Baim. ia tau Baim menyukainya jadi dengan seperti ini ia akan menyakiti perasaan Baim. Sedangkan Baim begitu baik padannya serta Alden selama ini.
Nayra yang ingin pergi untuk menghampiri Baim dicegah oleh Andrian dengan menarik tangan Nayra agar tak bisa kemana-mana.
"Kamu mau ke mana?" tanya Andrian.
"Saya mau mengejar Baim, saya mau jelaskan semua yang ia lihat tadi."
"Kamu menjelaskan apa padanya?"
"saya mau menjelaskan semua yang ia lihat tadi itu hanya sebuah kesalahpahaman."
"Kesalahpahaman bagaimana? Bukannya kita memang begitu dekat tadi? Apakah kamu menyukai Baim sehingga kau begitu khawatir?" Andrian terlihat begitu mengintimidasi Nayra.
"B-bukan seperti itu tapi_" Nayra begitu gugup ditatap seperti itu oleh Andrian begitu dekat. Apalagi Andrian terlihat begitu cemburu ketika ia mengkhawatirkan Baim.
"Bukan apanya? Jelas-jelas kamu takut bila dia salah paham dengan hubungan kita. Jadi selama ini kamu mencintai pria itu membuatmu tak bisa memberikan hatimu untukku?" tanya lagi Andrian terlihat begitu marah.
Entah mengapa Andrian begitu sangat marah dan tak suka melihat Nayra mengkhawatirkan laki-laki lain selain dirinya. Walaupun Nayra masih bukan miliknya tapi ia tetap tak rela bila orang lain yang memilikinya.
"Bukan seperti itu, aku hanya khawatir saja bila dia salah_"
belum saja Nayra menuntaskan perkataannya terlebih dulu Andrian mengehentikan pembicaraan Nayra. Andrian menghentikannya bukan dengan perkataan melainkan dengan satu buah ciuman yang mendarat di bibir mungil Nayra. Sontak Nayra melototkan matanya melihat Andrian tanpa aba-aba menciumnya.
Entah mengapa mendegar Nayra mengkhawatirkan laki-laki lain, ia refleks menghentikan pembicaraan Nayra dengan sebuah ciuman. Tapi bukannya Nayra memberontak, malah ia terlihat begitu menikmati ciuman panas dari Andrian. Mungkin ia belum sadar dengan perlakuan nya ini karena begitu menikmatinya.
Nayra merasakan begitu kenikmatan ketika Andrian melakukan ciuman itu, ini pertama kalinya Nayra melakukan ini tanpa paksaan seperti malam itu. Andrian terus mencium Nayra dengan lebih lembut agar Nayra lebih menikmatinya, sedangkan Nayra yang tadinya agak melototkan matanya menjadi terbawa suasana. Ia membalas ciuman dari Andrian tanpa Andrian suruh.
Entah berapa lama mereka ciuman tanpa henti, akhirnya mereka dikagetkan dengan suara Alden yang memanggil Nayra.
"Mah! Mama..." panggil Alden membuat Nayra langsung tersadar bahwa yang ia lakukan bersama Andrian sekarang ini tidak benar.
Dengan cepat Nayra melepaskan ciuman panas itu dan berlalu pergi dari hadapan Andrian. Sebelum itu Nayra menatap mata Andrian yang berani-beraninya mencium bibirnya dengan tiba-tiba walaupun tadi ia sempat terhanyut dalam ciuman dari Nayra.
Sedangkan Andrian juga merasa malu serta bersalah telah melakukan itu dengan tiba-tiba. Tapi entah mengapa hasratnya tadi begitu besar ingin mencium Nayra, bahkan bila Alden tak memanggil Nayra mungkin Andrian akan melakukan lebih dari itu dan mengulang kejadian lima tahun silam itu.
Di sisi lain terlihat seseorang duduk di taman rumah sakit itu. Baik terlihat melamun sedari tadi yang memikirkan kedekatan Nayra dengan Andrian.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^