
🍁🍁🍁
Detik-detik sebelum dibius, Nayra kembali mengingat kenangannya bersama anak dan suaminya. Tentang apa yang sudah mereka buat momen selama dirinya hidup. Ada pahit dan senang ketika menjalaninya. Tapi dia bersyukur sebelum kematiannya dia sudah merasakan namanya kebahagiaan.
Hingga akhirnya diam memejamkan matanya karena pengaruh obat biusnya.
Di luar ruangan operasi itu, semua begitu tegang dan menunggu hasil operasi. Terlihat orang tua Nayra begitu cemas dan mondar-mandir tak jelas. Sedangkan Andrian masih ada dipojokkan sana dengan wajah kusutnya.
Dia tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan istrinya, dia juga berharap ada keajaiban untuk anaknya juga bisa selamat. Ini pertama kali Andrian berdoa karena selama ini dia tak percaya dengan sebuah doa.
"Ya Tuhan selamatkan lah keduanya, aku memang pria kotor dan tak pernah percaya pada doa, tapi untuk kali ini aku meminta keajaiban dari doa ini. Aku mohon selamat kan mereka berdua, biarkan aku bisa berkumpul dengan keluarga kecilku," lirik Andrian.
Satu jam sudah berlalu tapi tak ada tanda-tanda operasinya selesai. Mereka semua harap-harap cemas dengan keberhasilan operasinya. Hingga akhirnya terdengar suara nyaring bayi nangis di dalam ruangan itu.
"Owek__ Owek__ Owek__" tangisan bayi itu membuat semua orang berada di luar langsung terkejut, karena Andrian sudah memilih Nayra untuk diselamatkan.
Andrian juga mendengarnya tangisan itu, tapi dia kira itu hanya perasaannya saja karena dihantui oleh rasa bersalahnya pada calon anaknya itu.
"Owek__ Owek___" suara bayi yang begitu nyaring terdengar ditelinga Andrian membuatnya ketakutan.
"Maafkan Papa Sayang! Papa minta tolong maafkan Papa, jangan seperti ini menangis di depan telinga Papa," lirik Andrian sambil menutup kedua telinganya agar tak mendengar suara itu lagi. Dia seperti orang stress berbicara sendiri dan tingkahnya begitu aneh.
"Andrian__" panggil seseorang sambil memegang bahunya dari belakang.
"Jangan sentuh aku!" seru Andrian langsung menengok ke arah belakang, lalu ia melihat ada mamanya yang sedang memanggilnya.
"Kamu kenapa An? Kenapa kamu terlihat seperti orang gila?" tanya mamanya yang melihat anaknya uring-uringan seperti itu.
"Mah, Andrian mendengarkan suara bayi di telinga Andrian. Apakah anak Andrian membenci ku hingga dia mendatangi ku?" tanya Andrian.
"Mama juga mendengar suara bayi itu, bahkan semua kita mendengarnya. Sumber suaranya berasal dari dalam ruangan itu," tunjuknya ke arah ruang operasi.
"Apa Anak Andrian hidup Mah? Apa mereka bisa menyelamatkan keduanya?" terlihat raut wajah Andrian begitu senang kalau anaknya dan Nayra akan baik-baik saja.
Dengan cepat Andrian merapikan jas yang masih ia kenakan lalu menuju ke depan pintu ruang operasi, tak lama kemudian terlihat seorang suster mengendong seorang bayi keluar dari sana.
"Sus apakah anak saya selamat?" tanya Andrian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya Tuan anak Anda selamat tapi kami harus memasukkannya ke inkubator, karena bayi anda lahir dengan prematur."
Suster itu cepat-cepat pergi untuk menaruh bayi nya ke ruangan inkubator untuk bisa mendapatkan pernafasan yang stabil. Andrian melihat bayinya dengan begitu nanar, begitu sedih melihat bayinya tak lahir dengan normal.
Lalu dokter itu pun keluar dengan wajah yang begitu mengkerut. Wajahnya terlihat begitu sedih membuat mereka semua menjadi takut.
"Bagaimana keadaan Istri saya Dok? Apakah dia baik-baik saja?"
"Apa? Dokter pasti bercanda kan? Saya tak suka bercanda jadi dokter tarik kata-katanya tadi," bibir Andrian sudah gemetar dan tak bisa lagi mengontrol perasannya saat ini.
"Maafkan saya Tuan, tapi saya tak sedang bercanda. Pasien tak mau diselamatkan dan ingin menyelamatkan nyawa bayinya."
"Kenapa kamu tak menyelamatkan nyawa Istri ku? Aku sudah bilang untuk selamatkan nyawa istriku, kamu pembunuh! Pembunuh!!" Andrian menarik kerah baju dokter itu membuat dokternya begitu ketakutan melihat Andrian marah begitu seramnya.
"Sudah Andrian, dia perempuan! Kamu tak seharusnya seperti ini," ucap Nathan menghentikan Andrian yang menarik kerah baju dokter itu.
"Kenapa kamu mendengarkan perkataan istriku? Kenapa kau menghiraukan perkataan ku untuk menyelamatkan istriku? Kau seorang pembunuh!!" Andrian sudah tak bisa mengendalikan emosi dan perasaan lukanya ini hingga menyalahkan orang yang tak sepatutnya untuk disalahkan.
"Maafkan saya Tuan! Saya sudah berusaha keras untuk menyelamatkan pasien tapi kemampuan saya gagal untuk menyelamatkannya," lirih dokter muda itu sambil menangis.
"Sudah Dok, anda sudah semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien tapi ini mungkin sudah takdirnya jadi dokter jangan menyalahkan diri sendiri," ujar Nathan untuk menenangkan dokternya.
"Terima kasih Tuan, kalau gitu saya permisi dulu," dokter itu pun pergi dengan menyeka air matanya.
Sedangkan orang tua Andrian dan orang tua Nayra sudah ada di dalam melihat jenazah Nayra yang ditutupi oleh kain putih. Mereka menangis melihat wajah pucat Nayra. Matanya tertutup dan tak bergerak sama sekali membuat mereka yakin bahwa Nayra sudah meninggal, ini rasanya mimpi melihat putri kesayangannya mereka sudah tak ada lagi.
Hingga Andrian datang dengan tubuh bergemetar melihat wanita yang dicintainya saat ini ditutupi kain putih. Mereka semua keluar untuk memberikan Andrian kesempatan berdua dengan jenazah istrinya untuk terakhir kalinya.
"T-tidak mungkin ini istriku, pasti ini orang lain," Andrian masih memungkiri bahwa itu bukan Nayra.
Andrian membuka perlahan-lahan kain itu untuk memastikan, dia harap bukan Nayra di situ tapi kenyataannya memang wajah Nayra yang terpampang jelas ada di balik kain itu.
Andrian terjatuh di hadapan jenazah istrinya, tubuhnya sudah tak bisa lagi untuk berdiri. Ini sangat berat sekali untuk Andrian terima tapi kenyataannya tak bisa Andrian pungkiri.
"Bangun Sayang! Bangun! Kamu pasti sengaja seperti ini membuat ku khawatir. Aku tau kamu masih hidup jadi tolong bangunlah!! Anak kita membutuhkan mu saat ini. Apa kamu sudah tak menyayangi ku? Atau setidaknya kamu bangun untuk Alden dan bayi kita yang baru lahir, setidaknya kamu peduli dengannya," lirik Andrian bersimpuh di hadapan jenazah istrinya.
Walaupun Nayra terlihat pucat seluruh tubuh tapi wajahnya tetap cantik dan manis dihadapan Andrian saat ini.
"Kamu bohong Nay! Kamu berjanji akan selalu bersama ku apapun yang terjadi, apa kamu tak ingin membesarkan anak kita sama-sama dan menua bersama? Aku benci kamu Nay bila seperti ini tapi aku sangat cinta kamu, arghhhh!" teriak Andrian sambil memeluk istrinya itu.
Mendengar teriakkan Andrian dari luar mereka tambah mengencangkan tangisannya, terutama nyonya Kumala dan nyonya Diana. Mereka berpelukan karena begitu merasa kehilangan putri yang amat mereka sayangi.
"Bagaimana keadaan Alden saat ini? Apakah dia sudah pulang dari sekolah?" tanya tuan Wisnu pada tuan Wijaya.
"Dia saat ini bersama bik Lastri pembantu Andrian jadi dia sekarang mungkin ada di rumah."
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^