My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 51



🍁🍁🍁


"Tapi Pak, saya sudah begitu merepotkan Bapak jadi saya tak mau kembali merepotkan Bapak."


"Saya tak merasa direpotkan! Malah aku begitu senang bisa selalu membantumu. Ini juga aku lakukan untuk anakku, tak mungkin aku membiarkan anakku tak punya tempat tinggal, sementara aku tidur di tempat yang begitu nyaman."


"Tapi saya tak akan bisa mengganti kebaikan Bapak."


"Hitung-hitung ini adalah menebus semua kesalahku kepadamu waktu kejadian malam itu, walaupun ini mungkin tak seberapa dibandingkan apa yang kamu alamkan selama ini."


"Sudahlah Pak! Jangan ungkit itu lagi, keadaan itu berbeda dengan saat ini. Jadi saya tetap berhutang budi kepada Bapak."


"Kalau kamu tetap merasa berhutang kepada ku, maka kamu harus mengganti hutang itu,";seru Andrian membuat Nayra terkejut.


Untuk saat ini ia tak mungkin bisa membayar semua hutang-hutang nya kepada Andrian, sebab nominal yang Andrian keluarkan tak sedikit.


"Saya harus menggantikannya dengan apa? Untuk saat ini saya belum mempunyai uang untuk mengganti semua uang Bapak."


"Menikahlah denganku! Jangankan hutangmu, bahkan semua kekayaan ku kamu akan dapatkan," ini kesempatan buat Andrian untuk mengajak Nayra menikah.


Tak diduga-duga jawaban dari Nayra. Bahkan Andrian hanya bercanda dengan syarat yang ia kasih kepada Nayra.


"Baiklah bila itu persyaratannya, saya akan menerima lamaran dari Bapak asalkan hutang saya lunas," jawab Nayra tanpa ragu-ragu.


Entah mengapa ia menjawab begitu entengnya. Padahal kemarin-kemarin dia ragu untuk menerima ajakan dari Andrian.


"Kamu serius?" tanya Andrian yang masih belum percaya.


"Demi melunasi hutang-hutang saya, saya akan menerima lamaran Bapak."


Andrian langsung bernafas lega mendengar jawaban dari Nayra. Ia langsung senyum sumringah dengan jawaban Nayra.


"Baiklah! Aku akan secepatnya mengurus semua pernikahan kita."


"Apa ini tak terlalu cepat?" tanya Nayra yang masih belum siap bila secepatnya akan menikah.


"Bukanya lebih cepat lebih baik, bukan?"


"Ehm... Terserah Bapak saja," Nayra pasrah apapun yang diinginkan oleh Andrian.


"Kalau gitu mari aku antarkan kalian ke apartemen ku," Andrian kembali membukakan pintu mobilnya untuk Nayra. Sedangkan Alden masih ada di dalam mobil sedang tertidur.


"Tapi barang-barangnya bagaimana?" ujar Nayra yang masih melihat barang-barangnya ada di depan teras rumahnya.


"Nanti aku akan menyuruh anak buah ku untuk membereskan barang-barangnya."


Nayra pun masuk ke dalam mobil. Begitu juga Andrian kembali di tempat posisi pengemudi. Kurang dari tiga puluh menit mengendarai mobil mereka sampai di depan apartemen Andrian.


Mereka keluar dari mobil menuju ke apartemen Andrian yang berada di lantai 6. Sedangkan Andrian mengendong anaknya yang masih tertidur pulas.


Sesampai di depan pintu apartemennya. Andrian membunyikan bel agar pembantu yang mengurus apartemennya membukanya.


Walaupun Andrian jarang tinggal di apartemen nya, tapi ia tetap menyewa pembantu untuk membersihkan apartemennya itu.


"Sebentar..." seru pembantu yang akan membukakan pintunya.


Ketika pembantu itu membuka pintu, ia langsung menunduk hormat ketika mendapatkan tuannya yang memencet bel.


Pembantu itu juga bertanya-tanya siapa anak kecil yang tuannya gendong serta wanita cantik yang ada di sampingnya saat ini.


"Silahkan masuk Tuan!" ujar pembantu itu mempersilahkan mereka masuk.


Andrian masuk terlebih dahulu dan diikuti oleh Nayra dari belakang. Ketika masuk ke dalam sana Nayra langsung terpesona melihat apartemen yang begitu mewah dan elegan.


Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam apartemen, sebelumnya ia hanya melihat rumah kontrakannya saja yang kecil dan kumuh.


"Bik! Minta tolong tidurnya Alden di kamar utama," seru Andrian sambil memberikan gendongannya ke pembantunya.


"Siapa anak kecil ini? Kenapa Tuan terlihat begitu sayang kepada anak kecil ini. Ini juga pertama kalinya Tuan memberikan seseorang masuk ke dalam kamar utamanya," batin pembantu itu.


Sebab selama ia bekerja dengan Andrian ia tak pernah melihat tuanya itu membawa wanita serta anak kecil di apartemennya. Apalagi membiarkan orang masuk ke dalam kamar utamanya.


Sedangkan di luar masih ada Andrian dengan Nayra. Nayra malah kembali canggung dengan suasana mereka berdua di dalam ruangan itu.


"Kamu sekarang tinggal di sini sebelum kita menikah, di situ kamarmu dan Alden," sambil menunjuk kamar utamanya.


Sebenarnya Andrian yang mempunyai kamar sebelumnya, tapi ia akan pindah kamar demi Nayra dan Alden yang akan menempatinya.


"Lalu Bapak akan tidur di mana?" tanya Nayra.


"Aku tak tinggal di sini, tapi jangan khawatir aku akan menyempatkan diri untuk datang setiap hari ke sini. Atau jangan-jangan kamu mau melihatku tinggal di sini?" Andrian sengaja mengatakan itu untuk menggoda calon istrinya itu.


"B-bukan seperti itu, saya kira Bapak memang tinggal di sini."


Godaan Andrian tadi sukses membuat pipi Nayra menjadi merah karena malu. Sedangkan Andrian merasa senang melihat godaannya tadi bisa membuat Nayra menjadi malu-malu.


"Tapi setelah ada kamu di sini, mungkin aku juga akan sering menginap di sini," ujar lagi Andrian tambah mengoda Nayra.


"Tak masalahkan aku sering menngginap di sini?"


"Kenapa Bapak harus bertanya kepada saya? Kalau Bapak mau menginap, menginap saja toh Bapak yang mempunyai apartemen ini," ujar Nayra.


"Tapi sebentar lagi kamu yang akan menyandang nyonya Andrian, jadi kamu yang lebih berhak atas semua ini."


Nayra tambah malu-malu dengan ucapan Andrian. Ia merasa tak karuan bila mengingatkan akan menikah dengan lelaki yang pernah ia benci selama ini.


"Pak..."


"Jangan panggil aku Bapak mulu, aku sebentar lagi akan menjadi suamimu bukan menjadi Bapakmu."


"Lalu saya harus memanggil Bapak dengan sebutan apa?"


"Hm..." tampak Andrian berpikir nama yang cocok untuk Nayra memanggil namanya.


"Kalau sayang bagaimana?" tanya Andrian.


"I-itu terkesan begitu aneh Pak, atau saya panggil nama saja atau dengan panggilan "mas" saja," usul Nayra.


"Hm, baiklah! Kamu panggil Mas saja," Andrian juga setuju bila Nayra memanggilnya dengan sebutan Mas.


"Lalu kamu mau bicara apa tadi?"


"Hm, i-itu bagaimana dengan pekerjaan saya? Apakah saya bisa kembali kerja."


"Memangnya kamu bekerja di mana?" tanya Andrian


"Saya bekerja di kafe tak jauh dari sini."


"Lebih baik kamu fokus urus Alden yang masih sakit, jangan memikirkan pekerjaan mu itu."


"Tapi saya harus mencari uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari, saya tak enak selalu menumpang kepada Bapak eh maksudnya kepada Mas."


"Sekarang kamu dan Alden adalah tanggung jawabku, jadi kamu tak usah memikirkan pekerjaan mu itu. Cukup fokus menjaga Alden biar aku yang membiayai kebutuhan kalian."


"Tapi_"


"Tidak ada tapi-tapian, kalian sekarang adalah bagian hidup ku jadi semua kebutuhan kalian aku yang tanggung," ujar Andrian.


See you again...


LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^