My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 73



🍁🍁🍁


Sudah begitu banyak tamu yang hadir di pesta pernikahan itu. Andrian yang sudah menggunakan kemeja putih dibaluti jas berwarna hitam membuat aura penggantinya kelihatan.


"Hey bro! kenapa tiba-tiba sekali kalian menikah tanpa memberitahu?" ucap Kelvin yang sedang berada di dekat Andrian.


"Tidak penting memberitahumu," ujar Andrian dengan cuek.


"Kalau mau nikah itu nggak usah galak-galak, nanti batal nikahannya."


Andrian menatap tajam wajah Kelvin yang tertawa dengan tajam membuat Kelvin menelan salivnya.


"Aku hanya bercanda bro, btw di mana calon penggantinya? Kenapa belum muncul juga."


Tak lama kemudian Nayra pun turun menuju tempat acara pernikahan dengan digandeng oleh mama mertuanya beserta Alden yang membawa bunga di samping mamanya.


Semua orang tertuju pada Nayra yang begitu cantik. Semua tamu undangan berbisik-bisik karena terpana dengan kecantikan seorang Nayra.


Begitu halnya dengan Andrian yang begitu kagum dengan wanita yang akan menjadi istirnya itu. Sedari tadi dia tak berkedip sama sekali dan matanya tertuju pada Nayra.


"Woy! Mata nya dikondisikan, tenang sebentar lagi dia akan menjadi milikmu," ujar Kelvin yang dari tadi memperhatikan wajah Andrian yang tak henti-hentinya menatap Nayra. Tapi Andrian menghiraukan ucapan Kelvin dan tetap menatap calon istrinya itu.


"Diam kau! Aku sedang melihat bidadari ku," ujar Andrian kembali memandang Nayra yang sudah sampai di bawah.


"Lebih baik kau temui dia, biar cepat sah tuh!" seru kembali Kelvin sambil meledek.


Di sisi lain terlihat wanita cantik, dengan mata yang terlihat sayu tersenyum kecut. Amanda menghadiri acara pernikahan bosnya karena semua karyawan diundang. Awalnya dia tak mau menghadiri acara ini tapi dia harus sadar bahwa orang yang ia cintai beberapa Minggu lalu sudah akan menjadi milik wanita lain.


"Calon istrinya sangat cantik dan begitu elegan, wajar saja dia mendapatkan hati Tuan Andrian tidak sebanding dengan diriku yang hanya asistennya saja," gumam Amanda dalam hati.


Setelah acara akad nikah selesai, pengantin baru itupun pergi menyambut para tamu undangan yang hadir di pesta pernikahannya.


"Selamat atas pernikahan kalian Sayang," ujar nyonya Kumala dan tuan Wijaya.


"Terima kasih," ucap Nayra.


Terlihat seseorang yang Nayra rindukan selama ini hadir di dalam pernikahan. Nayra tak menyangka bahwa ibu pantinya akan datang.


"Selamat ya Nayra atas pernikahan mu, ibu sangat bahagia atas pernikahan mu ini," ujar ibu panti kepada Nayra.


Nayra langsung berhamburan memeluk ibu pantinya itu. Ia begitu rindu selama ini tak pernah berjumpa karena kondisi saat itu sangat begitu sulit baginya.


"Nayra kangen Ibu, maaf Nayra selama ini belum pernah menemui Ibu. Maafkan Nayra ya Buk," ujar Nayra yang terlihat berkaca-kaca.


"Kamu tidak usah meminta maaf, Ibu mengerti dengan keadaan mu."


"Ngomong-ngomong siapa yang memberitahu Ibu tentang pernikahan Nayra."


"Suami kamu," seru ibu panti itu.


Nayra melihat ke sampai ke arah suaminya yang tersenyum. Nayra tak menyangka pria yang baru saja menjadi suaminya itu mengundang satu-satunya keluarganya. Tapi Nayra heran karena dirinya tak pernah memberitahu Andrian tentang hal ini.


"Bagaimana bisa Mas tau tentang Ibu dan panti asuhan?"


"Apa yang tidak buat kamu, semua hal tentang dirimu aku tau. Bahkan yang belum sama sekali kamu ceritakan kepada aku juga sudah tau."


"Terima kasih Mas atas semuanya," Nayra memeluk suaminya itu dan dibalas oleh Andrian.


Tuan Wijaya, nyonya Kumala dan ibu panti itu begitu haru melihat momen itu. Terlebih lagi ibu panti yang begitu bahagia dan bersyukur karena anak angkatnya itu sekarang sudah menemukan kebahagiaannya setelah apa yang Nayra tempuh selama ini.


"Ibu ke sana dulu ya! Sepertinya anak-anak panti mencari Ibu."


"Baiklah Buk! salam Nayra untuk anak-anak panti, Nayra sangat merindukannya."


"Nanti akan Ibu sampaikan."


Buk panti pun pergi dari sana meninggalkan Nayra dan beserta keluarga Ghratama. Tak lama kemudian datang seseorang pasangan suami istri menemui pengantin baru itu.


"Selamat ya Andrian, kamu sekarang sudah menjadi seorang suami," ujar tuan Wisnu.


"Terima kasih Om!" Andrian berjabat tangan dengan tuan Wisnu dan juga istirnya yang bernama nyonya Diana. Begitu juga Nayra yang ikut menjabat tangan keduanya karena melihat suaminya juga menjabat tangan.


Ketika sedang menjabat tangan dengan Nayra, nyonya Diana tersenyum ramah pada Nayra. Kenapa dia begitu senang sekali melihat wajah anggun dan cantik suaminya Andrian.


"Kamu cantik sekali Sayang, matamu begitu indah," ujar nyonya Diana memuji Nayra.


"Terima kasih Tante!" ucap Nayra tersenyum malu-malu, tapi memang benar Nayra saat itu begitu cantik.


"Sayang, ini adalah sahabat keluarga Ghratama. Tuan Wisnu Antonio dan Nyonya Diana Antonio," nyonya Kumala menjelaskan tentang keduanya agar Nayra tak bingung dengan siapa yang dia ajak bicara.


"Oh ya silahkan dicicipkan makanannya!" ujar tuan Wijaya untuk mempersilahkan sahabatnya itu menikmati hidangan pestanya.


Tapi nyonya Diana sedari tadi melihat kalung yang dikenakan oleh Nayra, ia begitu tak asing dengan kalung itu.


"Pak Wijaya kita permisi dulu sebentar!" ujar Dimana sedikit menarik lengan suaminya itu.


"Kita mau ke mana Mah?" tanya suaminya yang bingung karena tiba-tiba ditarik oleh istrinya.


Setelah agak jauh dari kerumunan banyak orang akhirnya nyonya Diana melepaskan tariannya kepada suaminya itu.


"Ada apa Mama membawa Papa ke sini?" tuan Wisnu masih bingung tujuan istrinya membawanya ke sini.


"Papa lihat kalung yang dikenakan istrinya Andrian?"


"Papa tidak memperhatikan itu, memangnya kenapa dengan kalung yang dikenakan istri Andrian?"


"Kalungnya begitu tak asing, terlihat mirip sekali dengan kalung yang Mama berikan kepada Natasya dulu."


"Mungkin Mama salah lihat."


"Mama tak salah lihat, Mama yakin itu mirip dengan kalung yang Mama berikan terkahir pada Natasya," nyonya Diana meyakinkan suaminya agar suaminya percaya dengan ucapannya.


"Kalau pun itu sama, tidak mungkin dia Natasya anak kita، namanya Nayra. Kalung seperti itu banyak dijual jadi bukan hanya Natasya saja yang mempunyai kalung seperti itu."


Nyonya Diana hanya terdiam mendengarkan suaminya. Padahal dia berharap itu anaknya Natasya, tapi perkataan suaminya ada benarnya karena selama bertahun-tahun mereka mencari anaknya tapi sampai saat ini tak kunjung ketemu.


"Maafkan aku Mah, mungkin anak kita sudah meninggal. Selama ini kita sudah mencarinya tapi sampai saat ini kita tak menemukan orang yang membawa Natasya."


"Mama harap omongan Papa tidak benar, karena hati Mama menggatakan kalau anak kita sedang berada didekat kita saat ini."


"Semoga saja itu benar, Papa begitu tak tega melihat Mama menangis setiap malam mencari Natasya. Ini semua salah Papa! Cobak saja Papa tak melakukan hal bodoh itu, mungkin ini tak bakal terjadi."


"Sudahlah jalan menyalahkan diri sendiri, mungkin ini takdir yang kita harus tempuh."


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^