My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 124



🍁🍁🍁


Mulai lah omongan Andrian salah di mata istrinya, setiap omongannya tak sesuai dengan yang di mau istrinya. Itulah wanita.


"Berarti aku harus rutin ke salon biar cantik setiap hari, aku nggak mau bila ada pelakor yang mendekati kamu Mas."


"Kamu tenang saja Sayang! Aku tak akan berpaling darimu, bagaimana bentuk mu kelak aku akan mencintaimu."


Andrian mengelus-ngelus pipi Nayra yang mulus itu. Sedangkan pipi Nayra terlihat memerah karena merasa salah tingkah dengan ucapan Andrian.


"Mas, habiskan saja makanannya dulu baru bicara lagi."


Setelah menghabiskan makan siangnya, Andrian pun kembali menatap istirnya yang ada di depannya. Dia juga heran dengan dirinya yang tak bosan-bosan memandang Nayra.


"Mas tak kerja? Dari tadi menatap ku terus."


"Aku tak bisa kerja jika kamu ada di sini."


"Kalau gitu Nayra pergi saja dari sini biar Mas bisa fokus kerja."


"Tunggu!" Andrian memegang lengan Nayra yang ingin beranjak dari duduknya.


"Kamu diam saja di sini, aku masih merindukan mu."


"Kita bertemu setiap hari, tidur bersama setiap malam. Bisa-bisanya Mas bilang rindu kepada ku?"


"Kamu tidak tau bagaimana perasaan ku jika tak melihatmu sedetik saja, rasanya hampa. Jadi kamu diam saja di sini."


"Katanya tadi nggak fokus kerja karena ada diriku."


"Kalau kamu pergi sekarang aku tambah tak fokus, jadi jangan pergi dulu!!"


"Tapi Nayaka bagaimana?"


"Biar Mama yang menjaganya, kamu menjagaku saja di sini."


Tingkah Andrian benar-benar seperti anak kecil. Dia begitu manja pada istirnya, melebihi manja Alden pada Nayra.


Dan benar saja Andrian tak memberikan Nayra pergi dari sana, dia memangku Nayra di pahanya sambil melakukan pekerjaannya.


"Mas jangan berlebih-lebihan seperti ini nanti ada orang yang lihat, bagaimana?"


Nayra begitu tak nyaman dengan posesif nya Andrian. Bahkan dia begitu dikekang agar tak pergi dari sana.


"Tidak ada yang berani masuk tanpa seizin ku jadi kamu tak usah khawatir. Lagi pula aku seperti ini hanya padamu."


"Tapi ka___"


"Cup!"


Andrian tiba-tiba saja mencium pipi Nayra membuatnya berhenti berbicara.


"Kamu diam saja Sayang! Aku lagi kerja."


Karena tak mau dicium lagi oleh Andrian, Nayra pun hanya diam seperti patung di sana. Dia hanya memperhatikan Andrian yang sedang mengerjakan pekerjaannya, sesekali dia memainkan rambut suaminya itu karena begitu bosan. Tapi Andrian hanya membiarkan istrinya melakukan apapun kepadanya asalkan dia tetap berada di sini.


***


Tok.. tok... tok...


Suara ketukan pintu terdengar jelas di luar apartemen milik Nathan. Padahal bel ada tapi orang itu tak menekan bel malah mengetuk pintunya.


"Siapa itu? Apa Nathan? Tapi tak mungkin dia pulang secepat ini dari kantor."


Karena penasaran, Amanda pun membukakan pintu untuk melihat siapa yang bertamu siang-siang seperti ini.


Deg!


"Bukannya kamu pacarnya Nathan? Kenapa kamu bisa ada di apartemen anakku?"


Nyonya Wiliam terlihat mengintimidasi Amanda. Dia begitu curiga melihat gelagat wanita itu.


"Tante bisa masuk dulu, tak enak jika orang melihat kita berada di pintu."


Amanda mempersilahkan mama mertuanya masuk, tepatnya Mama mertua yang belum mengetahui bahwa dirinya sebagai menantunya.


Nyonya Wiliam pun masuk ke sana, dia duduk di sofa lalu kembali melirik Amanda dengan sinis ketika membawakan minuman untuknya.


"Di minum dulu, Tante!" Amanda menaruhkan minuman nya di atas meja.


"Kamu belum menjawab pertanyaan saya, kenapa kamu bisa berada di apartemen anak saya? Dan di mana Nathan saat ini?"


"I-itu s-saya sebenarnya___" Amanda tak tau harus menjawab apa. Dia benar-benar gugup menghadapi mamanya Nathan yang terlihat tak suka dengannya.


"Sebenarnya apa? Apa kamu tinggal bersama Nathan di sini? Kenapa kamu diam? Ayok jawab!" seru Nyonya Wiliam dengan nada tinggi membuat Amanda tambah takut.


"I-iya Tante!" spontan saja dia menjawab iya karena takut dengan bentakan mertuanya itu.


"Pantas saja Nathan tak pernah pulang ke rumah, ternyata kamu yang membuatnya tak pulang-pulang. Apa kamu tau jika seorang wanita tinggal satu atap dengan seorang pria tanpa hubungan pernikahan, maka kalian akan dicap jelek oleh orang-orang."


"Saya tau Tante!" ujar Amanda dengan menundukkan pandangannya.


"Jika kamu sudah tau kenapa kamu mau tinggal bersama anak saya? Wanita baik-baik tak akan mau tinggal bersama pria bukan suaminya, sekalipun pria itu baik."


"Jika kamu sayang pada dirimu, pergilah dari sini! Kamu tak pantas tinggal di sini sebab kamu seorang wanita. Jika kamu memang tak mempunyai tempat tinggal sebagai alasannya, saya bisa mencarikan mu tempat tinggal asal kamu tak tinggal bersama anak saya lagi."


Lanjut nyonya Wiliam berbaik hati pada Amanda.


"Tapi saya belum memberitahu Nathan."


Amanda berusaha tak memberitahu bahwa dirinya sudah menikah dengan Nathan, karena pernikahan mereka masih ditutupi sampai waktu yang tepat.


"Kamu tenang saja soal itu, biar saya yang akan berbicara dengan Nathan jika dia mencari mu. Lebih baik kamu kemas saja pakain mu! Saya tak mau keluarga saya juga akan dicap jelek jika diketuai Nathan tinggal bersama wanita di apartemen nya."


Amanda bingung harus mengambil baju bagaimana, sedangkan semua pakaiannya berada di dalam kamar Nathan. Yang otomatis mama Nathan akan curiga dia masuk ke kamar Nathan mengambil bajunya.


"Kenapa kamu diam? Ayok ambil bajumu? Apa perlu saya bantu?"


Dengan terpaksa Amanda masuk ke dalam kamar Nathan untuk mengambil baju-bajunya. Ketika masuk ke dalam dia dihentikan oleh nyonya Wiliam.


"Kamu mau ke mana? Itukan kamar Nathan?"


Tidak tau harus menjelaskan apa sekarang. Dia berharap ada Nathan yang akan membantunya dalam situasi seperti ini.


"Apa jangan-jangan kalian satu kamar?" lanjut nyonya Wiliam.


"I-itu___"


"Astaga! Saya pikir kamu wanita baik-baik ternyata dugaan saya salah besar pada kamu. Bahkan kamu tidur satu kamar bersama Nathan, dan tak mungkin kalian tidak berbuat sesuatu jika sudah seperti ini."


"Itu semua tidak benar Tan! Saya tak seburuk yang Tante maksud!" lirih Amanda ingin menjatuhkan air matanya.


"Bagaimana saya berpikir positif jika sudah seperti ini? Bahkan Nathan yang saya kenal tak pernah mau menyentuh wanita, dan sekarang kamu? Kamu yang berani-beraninya masuk ke dalam hidup Nathan dan membawa hal buruk padanya."


Nyonya Wiliam menarik pergelangan tangan Amanda masuk ke dalam lalu mengambilkan baju-bajunya agar cepat pergi dari apartemen anaknya. Bahkan pergelangan tangan Amanda memerah karena genggaman nyonya Wiliam yang begitu kuat.


"Sekarang kamu pergi dari sini!"


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^