My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 103



🍁🍁🍁


"Aku melakukan itu karena aku dendam dengannya, gara-gara dia kamu tak jadi menikah dengan ku. Gara-gara dia kamu dan keluarga mu berhenti menyuntik dana di perusahaan papaku. Dia begitu tak pantas bersaing dengan ku!!!"


Plak!


Satu tamparan keras melayang di pipi mulus Nadia. Dia begitu muak mendengarkan omong kosong dari mulut busuknya. Kupingnya begitu panas ketika Nadia menyalahkan istrinya.


"Jaga mulut kotor mu itu. Salahkan dirimu yang tak pantas bersanding dengan ku. Dan memang benar kamu tak pantas bersaing denganya karena dia lebih dari segalanya dari kamu."


"Sakittt!!" jerit Nadia karena tamparan Andrian terasa begitu keras hingga membekas di wajahnya.


"Itu belum seberapa karena sebentar lagi perusahaan Papamu akan segera bangkrut dan pastinya kamu berada di ambang kemiskinan hahahaha!!!" tawa Andrian terdengar begitu seram membuat Nadia begitu takut mendengarnya.


"Dasar laki-laki berengsek! Kau apakan perusahaan Papa ku? Awas saja kalau kamu macam-macam dengan perusahaan Papa ku kau akan tau akibatnya."


"Cih! Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu, bagaimana kamu akan melakukan sesuatu padaku? Sedangkan kamu bisa bernafas atau tidak besoknya ada ditangan ku. Jadi persiapkan dirimu untuk menghadapi akhirat nanti karena dosa-dosa yang telah kamu perbuat di dunia ini."


Mendengar itu Nadia jadi gemetar, tapi dia tak mau menunjukkan ketakutannya karena dengan itu membuatnya terlihat lemah di depan lawan.


"Aku tak takut dengan ancaman mu itu, jika pun aku mati setidaknya kamu lebih menyedihkan daripada aku, istri yang kamu cintai itu sudah mati jadi buat apa kamu masih bertahan hidup."


Plak!


Plak!


Andrian menampar pipi Nadia kiri-kanan begitu kerasnya hingga mulutnya mengeluarkan darah.


"Jaga omongan mu itu! Dia masih hidup, dan tak akan ku biarkan ini terulang kembali."


Mendengar itu Nadia membulatkan matanya, jadi selama ini rencananya gagal untuk membunuh Nayra. Dan bila dia mati sekarang akan jadi sia-sia sebelum mendapatkan apa yang dia mau.


"Dan kamu lihat ini?" Andrian menunjukkan sebuah kertas yang terlihat ada sebuah tanda tangan yang isinya perjanjian.


"Ini adalah isi perjanjian ku dengan Papa mu, dia menjadikan kamu jaminan untuk membayar semua hutang-hutang perusahaan Papa mu, dan kamu tau siapa yang membayar hutang-hutangnya? Itu adalah aku, dan aku berhak melakukan apapun kepadamu sekarang."


Nadia kembali menelan salivnya mendengarkan itu, sekarang dia benar-benar ada diambang kehancuran.


"Sekarang apa mau mu dari aku hah?" Nadia tetap melawan walaupun nasibnya ada di tangan Andrian.


"Kalian semua masuk!" perintah Andrian kepada para anak buahnya yang ada di luar, terlihat beberapa laki-laki masuk dengan menggenakan pakaian serba hitam.


"Kamu tau aku mempunyai sebuah club' malam, dan di sana mereka lagi mencari karyawan untuk menghibur para lelaki hidung belang, jadi karena aku sudah mengeluarkan begitu banyak uang pada perusahaan Papamu akan ku jadikan kamu sebagai wanita malam di sana sebagai pengganti uangku untuk membantu Papa mu."


"Sekarang bawa dia ke sana. Sebelum itu kalian bawa ke salon dulu agar banyak yang ingin menggunakannya, karena dia terlihat dekil sekali," ujar Andrian tanpa kasihan sedikit pun pada Nadia.


Ketika ingin di bawa oleh para anak buah Andrian, Nadia memberontak tak mau di bawa.


"Tolong Andrian jangan lakukan ini, aku tak mau menjadi wanita seperti itu!!" Nadia menangis sejadi-jadinya karena tak mau tubuhnya menjadi pemuas nafsu laki-laki di sana.


"Bukannya itu keahlian mu? Jadi aku menaruh mu di sana. Karena keahlian mu yang lain begitu sangat tak berguna."


"Apapun yang kamu katakan padaku saat ini aku tak peduli yang penting jangan bawa aku ke sana. Aku tak mau, aku mohon Andrian!!" Nadia bersujud di depan kaki Andrian agar mengurungkan niatnya untuk membawanya ke tempat laknat itu.


"Cih!" Andrian mendorong tubuh Nadia dengan kakinya, keputusannya sudah bulat dan tak akan menggantinya lagi. Ini pantas ia dapatkan saat ini.


"Papaku akan memberikan mu pelajaran karena telah melakukan ini padaku, awas saja Andrian," Nadia mengepalkan tangannya terlihat begitu emosi.


"Mana mungkin Papa mu akan menyelamatkan mu, sedangkan dia sendiri yang menjual mu kepada ku jadi jangan terlalu berharap pada Papa mu itu. Dia gila harta dan tak memikirkan anak maupun keluarganya."


"Lepaskan aku!!"


"Lepas!!"


"Awas kau Andrian!!"


Nadia memberontak tapi kekuatannya tak bisa mengalahkan beberapa para anak buah Andrian yang membawanya pergi.


Andrian bernafas lega sekarang, karena dia sudah membalaskan perbuatan jahat mereka semua kepada istrinya.


"Sebenarnya aku tak jahat tapi perbuatan kalian semua membuatku melakukan hal kotor ini."


***


Sehari setelahnya Andrian setia menemani istrinya yang masih terbaring koma di rumah sakit. Sesekali Andrian menjenguk anaknya yang masih ada di ruangan inkubator.


Sedangkan Alden dari kemarin mencari keberadaan mamanya. Mereka semua menyembunyikan keadaan Nayra dari Alden, karena dia terlalu masih kecil untuk mengerti semua ini.


Tapi karena Alden tak henti-hentinya menangis setiap malamnya mencari mamanya, akhirnya mereka membawa Alden ke rumah sakit untuk menemui mamanya.


"Di mana Mama, Oma?" tanya Alden yang tak melihat mamanya.


"Kamu masuk aja ke dalam, di sana ada Papa mu dan Mamamu di dalam," ujar nyonya Kumala.


Alden pun memberanikan diri masuk ke dalam. Mendengar suara langkah kaki masuk ke dalam Andrian menoleh dan melihat ada anaknya berada di sana


"Papa!!" Alden berlari menuju papanya yang ada di samping mamanya sedang berbaring sambil menutup mata.


"Alden ke sini sama siapa?" tanya Andrian sambil memangku anaknya.


"Alden sama Oma ke sininya, tapi Oma ada di luar."


"Kenapa Alden ke sini?"


"Alden mau ketemu Mama, kenapa Mama tertidur Pah? Dan apa benda yang ada di tubuh Mama saat ini?" tanya Alden begitu polosnya karena dia tak tau mamanya sedang koma.


"Mama sedang istirahat Sayang, Mama kan baru selesai melahirkan Adek Alden jadi dia harus membutuhkan banyak istirahat."


"Lalu kenapa Papa menangis?" tanya Alden melihat bekas air mata di pipi papanya.


"Papa cuma sedih aja karena Mama tidur begitu lama, jadi Papa sedih deh."


"Tenang Pah, ada Alden bersama Papa jadi Papa nggak usah nangis lagi."


"Anak pintar!! Alden mau nggak lihat Adek bayi?" Andrian mengelus-ngelus rambut Alden.


"Mau Pah!" Andrian terlihat begitu bersemangat untuk melihat adek yang sudah lama dia tunggu-tunggu.


Andrian pun membawa anaknya ke ruangan di mana bayinya di taruh. Seperti biasa dia tak bisa melihat bayinya secara langsung jadi mereka melihatnya lewat kaca saja.


"Kenapa kita nggak bisa masuk Pah? Alden mau gendog adek bayi juga."


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^