
🍁🍁🍁
Tapi masa bodoh, dia tak peduli siapa yang memindahkan bajunya. Lebih baik dia mandi lalu istirahat. Tubuhnya begitu terasa lelah dan capek, sebab selama beberapa hari ini Amanda tak pernah merasakan tidur nyenyak.
Selesai mandi, Amanda langsung menggantikan bajunya dan berbaring di sofa yang ada di dalam kamar itu. Dia masih belum enak bila meniduri kasurnya.
Setelah merasa cukup tidur, Amanda pun terbangun. Ini tidur pertamanya yang paling nyenyak setelah beberapa hari ini. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul enam sore.
Bahkan tidurnya ini lebih dari cukup. Dia bangun lalu keluar dari kamar, tak ada satupun orang di dalam sana, bahkan Nathan sampai saat ini belum pulang dari kepergiannya tadi.
"Kenapa dia belum pulang? Apa dia marah dengan ku?" gumam Amanda.
Karena bosan, diapun melakukan rutinitas nya dulu sebagai pembantu. Dia membereskan apartemen itu yang lumayan sedikit berantakan, sebab tak mungkin Nathan bisa membereskan ini sendirian.
"Kenapa dia belum pulang sampai saat ini?"
Sudah menunjukkan pukul delapan malam tapi tetap saja Nathan tak kunjung pulang, ingin menelponnya tapi dia merasa tak enak menganggu Nathan.
"Lebih baik aku buatkan dia makan malam, siapa tau dia pulang secepatnya."
Amanda mulai bergelut di dapur, dia membuatkan berbagai menu makan malam. Dia sengaja melakukan kegiatan seperti ini agar tak selalu memikirkan almarhumah ibunya.
Setelah beberapa lama bergelut di dapur, akhirnya makan malam sudah selesai tinggal menunggu Nathan pulang.
Sembari menunggunya pulang, Amanda menonton film di ponselnya agar tak merasa bosan. Hingga jam menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Nathan sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya.
"Apa dia tak pulang malam ini?"
"Kenapa aku harus memikirkannya? Dia saja tak kunjung pulang, lebih baik aku menghabiskan makanannya saja."
Amanda sedikit kesal karena sudah capek-capek membuatkan makan malam tapi Nathan tak pulang. Tapi bukannya memakan makan malamnya dia malah mondar-mandir berharap Nathan menampakkan dirinya di balik pintu.
Dia tak berselera makan, bahkan makanannya terlihat sudah dingin karena sudah terlalu lama di atas meja makan.
Hingga Amanda tertidur di sofa ruang tamu sangking begitu bosan menunggu Nathan sampai jam sebelas malam. Padahal Amanda tidur puas tadi pagi tapi dia tetap mengantuk.
Jam menunjukkan tepat pukul dua belas malam. Suara pintu apartemen itu terbuka dengan sosok tubuh yang besar dan tinggi.
Nathan terlihat begitu lusuh, kemejanya dia lipat hingga setengah, lalu jasnya ia tenteng di tangannya serta rambutnya yang sudah begitu acak-acakan.
Pemandangan pertama kali ia lihat adalah Amanda tertidur pulas di sofa, lalu matanya beralih melihat sebuah makanan yang ada di meja makan.
"Apa dia menungguku pulang?" gumam Nathan.
Nathan memeriksa Amanda apakah dia benar-benar tidur atau tidak, dan memang benar dia sedang tertidur dengan pulas nya.
Nathan mengangkat tubuh Amanda masuk ke dalam kamar dengan ala bridal style. Dia membaringkan tubuh istirnya itu di kasur lalu menyelimutinya agar tak kedinginan.
Setelah itu Nathan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Melihat makanan yang tak tersentuh sama sekali diapun memakannya.
Dia menghargai masakan istirnya itu, sayang bila dibuang begitu saja. Selepas makan malam tepatnya makan tengah malam Nathan pun masuk kembali ke dalam kamar lalu tidur di samping istirnya itu.
Sebelum benar-benar tidur, dia mendengarkan suara Amanda menangis di dalam tidurnya.
"Hiks... Kenapa Ibu meninggalkan aku? Aku tak bisa bila tak ada Ibu hiks..."
Ucap Amanda dengan mata yang masih terpejam sambil menitikkan air matanya.
"Apa dia mengigau?"
Nathan pun memeriksa Amanda dan melihatnya masih menutup matanya. Dia tak henti-hentinya menangis di dalam mimpinya.
"Hiks.. hiks... Ibu..." gumam Amanda sudah dari tadi.
Karena khawatir, Nathan mengecek tubuh Amanda yang memang terasa hangat.
Nathan pun mengambil kompresan lalu mengompres dahi Amanda yang terasa begitu hangat. Sepanjang malam Nathan terjaga untuk memantau kondisi Amanda.
Malam berganti pagi, matahari menyapa orang yang ada di bumi. Amanda terbangun dengan silaunya matahari menembus jendela apartemennya itu.
Dia merasakan berat di atas perutnya. Dia melirik ke sampingnya ada Nathan dan tangan itu milik seseorang yang ada di sampingnya.
Amanda ingin berteriak, tapi dia tahan ketika melihat mata Nathan terlihat capek seperti orang begadang semalaman.
"Kenapa dia tiba-tiba ada di sampingku? Lalu apa yang ada di kening ku?" Amanda mengambil kompresan yang ada di atas keningnya, dia melihat sebuah kompresan yang melekat dari semalam di keningnya.
"Apa yang sudah terjadi? Dan tunggu-tunggu! Bukannya tadi malam aku berada di sofa luar? Apa mungkin dia yang membawaku ke dalam?"
Begitu banyak pertanyaan yang dia lontarkan dalam pikirannya saat ini. Bahkan mau menanyakan nya dia tak berani.
Lama seperti itu, Nathan pun menggeliatkan tubuhnya. Dia membuka matanya dan pandangan pertama yang dia lihat adalah istirnya.
Dia tersenyum lalu mengarahkan tangannya ke kening Amanda, dia ingin mengecek apakah tubuhnya masih hangat apa sudah membaikan.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Kamu diam saja! Tadi malam tubuh mu begitu hangat, kau mengigau sepanjang malam hingga ku tak bisa tertidur."
"Apa itu benar?" bila benar dia akan merasa malu mengigau ketika tidur pertama kalinya dengan Nathan.
"Kenapa aku harus berbohong?"
"Maafkan aku! Aku benar-benar tidak tau."
"Lupakan lah! Lebih baik kamu kembali istirahat, kondisi tubuh mu masih kurang sehat."
"Tidak-tidak! Aku harus bekerja, aku belum buat sarapan, belum menyapu dan beres-beres yang lainnya. Aku tak mau jika makan gaji buta nantinya. Aku juga merasa sudah sehat."
Nathan menyentil dahi Amanda membuatnya meringis kesaksian.
"Aw!" ringis Amanda kesakitan sambil memegang dahinya yang disentil tadi.
"Bodoh! Siapa juga yang akan mengaji mu? Lebih baik kamu tetap berada di sini dan jangan bantah perintah ku."
"Tapi__"
Sebelum itu Nathan sudah pergi dengan menutup pintu kamarnya. Dia tak akan membiarkan Amanda bekerja dengan kondisi kesehatan yang masih belum stabil.
Setengah jam kemudian Nathan kembali masuk ke dalam kamar dengan membawakan sarapan serta obat untuk Amanda.
"Sekarang kamu makan dulu, baru meminum obatnya."
Nathan menyuapkan bubur ke mulut Amanda, tetapi Amanda menolaknya karena tak suka dengan rasa buburnya.
"Aku tak suka bubur!"
"Kamu harus memakannya, apa kamu mau jika terus-terusan sakit seperti ini?"
Amanda menggeleng. Dia begitu bosan berada di kamar Mulu, dia merasa dikurung oleh Nathan.
"Kalau gitu makan buburnya, aku sudah capek-capek membuatnya untuk mu."
"Apa kamu yang membuatnya?"
"Siapa lagi kalau bukan aku."
"Sekarang kamu makan, tiga suap saja biar kamu bisa meminum obatnya."
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^