
🍁🍁🍁
"Apakah kamu sudah siap sayang?" tiba-tiba tangan Andrian melingkar di perut ramping Nayra dari samping membuat Nayra sontak membalikkan tubuhnya.
"Kapan Mas sampai? Kenapa tidak izin dulu masuk ke sini," seru Nayra.
"Apakah aku harus izin kepada calon istriku dulu?"
"Itu harus, aku hampir jantungan ketika Mas tiba-tiba memelukku."
"Maafkan aku, hanya saja aku sangat merindukanmu," Andrian tambah mengeratkan pelukannya.
"Kalau Mas kayak gini terus kapan kita makan siangnya?"
"Oke-oke Mas lepaskan, ayok kita pergi!"
Andrian menggandeng tangan Nayra masuk ke dalam mobil. Ketika di dalam mobil mata Nayra tertuju pada paper bag yang ada di belakang jok mobil Andrian. Nayra pun mengambilnya karena penasaran.
"Kenapa kamu bawa jas ganti?" tanya Nayra membuka isi paper bag nya.
"Oh itu tak sengaja kebawa, aku lupa menaruhnya di kantor," Andrian sangat bodoh membawa paper bag itu, ia tak mau kalau Nayra perfikiran macam-macam tentangnya yang memberi pinjam kepada asistennya.
Ketika ingin memasukkan kembali jasnya ke dalam ia tak sengaja mencium aroma parfum perempuan di jasnya. Walaupun sudah di cuci tapi tetap saja aroma parfum wanita masih melekat di jas itu.
"Kenapa jasnya aroma parfum perempuan, setahuku Mas Andrian tak pernah menggunakan parfum seperti ini," Nayra berpikir begitu lama sampai Andrian menyadarkan dari lamunannya.
"Kamu kenapa terlihat diam dari tadi hm? tanya Andrian sekilas melirik lalu kembali fokus mengemudi mobilnya.
"Tidak papa!" Nayra langsung menaruh paper bag itu kembali ke jok belakang mobil. Dalam perjalanan Nayra terus memikirkan hal itu hingga sampai di tempat tujuan.
Ketika mereka masuk ke dalam lestoran itu, mereka begitu di sambut dengan hangat oleh semua karyawan di sana.
"Kenapa orang-orang menyambut kita dengan begitu hangat nya lalu kenapa lestorannya tidak ada pengunjung sama sekali?" tanya Nayra yang masih terlihat bingung.
"Ini salah satu milik keluarga ku jadi ketika mereka tau aku akan ke sini bersama mu, manager nya langsung menutup tempat ini khusus buat kita."
Nayra tak heran dengan kekayaan keluarga mereka yang begitu banyak, keluarga mereka memang sudah dari dulu terkenal orang berpengaruh di kota maupun di negeri ini.
Ketika menunggu makanannya datang, Andrian memberikan Nayra sebuah buket bunga untuk jadi pemanis makan siangnya kali ini.
"Ini untukmu, maaf tadi aku lupa menyiapkan hadiah buatmu, jadi aku mampir ke toko bunga untuk membelikan ini untukmu."
Walaupun cuma sekedar bunga Nayra begitu bahagia, dengan hal kecil seperti ini membuat Nayra begitu bahagia. Tentang jas yang tadi dipikirkan langsung hilang melihat Andrian memberikan kejutan ini.
"Terima kasih Mas, Nayra begitu suka dengan bunganya."
"Syukurlah kalau kamu suka."
Tak lama kemudian makanan mereka pun sampai. Mereka berdua menikmati makan siang mereka dengan hati yang begitu senang, sedangkan anaknya tadi masih sekolah dan dijemput oleh omanya.
Setelah selesai makan siang, Andrian mengantarkan Nayra terlebih dulu pulang lalu kembali lagi ke kantor.
***
Hari terus berjalan, waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa satu hari lagi menjelang pernikahan pasangan kekasih yang sedang di mabuk asmara.
"Sayang kamu mau pergi ke mana?" nyonya Kumala tak sengaja melihat Andrian rapi menggunakan jas kantor padahal besok dia akan menikah.
"Andrian mau pergi ke kantor sebentar."
"Ada yang Andrian harus urus sebentar, setelah itu Andrian janji akan pulang secepatnya."
"Memang kamu sangat keras kepala, padahal besok hari pernikahan mu tapi tetap saja kamu masih memikirkan pekerjaan mu. Oh ya Mama dan Nayra akan ke salon sekarang, kamu nanti jemput Nayra pulang dari salon karena Mama ada urusan juga."
"Siap Mama ku yang paling cantik," Andrian mencium pipi mamanya lalu bergegas pergi ke kantor.
Di kantor terlihat para karyawan berkumpul membicarakan bosnya yang akan nikah besok, mereka begitu kaget karena tiba-tiba saja bosnya itu akan menikah tanpa ada gosip sedikit pun. Bahkan mereka belum tau siapa calon istri bosnya itu yang begitu beruntung mendapatkan pewaris tunggal Ghratama.
Wanita-wanita yang mengincar Andrian begitu patah hati menggetahui bahwa bosnya akan menikah.
"Sedih banget Tuan Andrian menikah."
"Hiks... nggak bisa jadi menantu keluarga Ghratama."
"Sedih bestie Pak bos sudah laku."
Itulah keluh kesah para karyawan perempuan yang suka pada bosnya itu.
Sedangkan Amanda yang baru sampai di kantor heran melihat orang-orang berkumpul. Tak biasanya orang-orang kumpul dan ribut seperti itu. Akhirnya karena Amanda penasaran ia bertanya kepada salah satu karyawan di sana.
"Permisi, kalau boleh tau ada apa ya mereka semua kumpul dan ribut seperti ini? Apakah ada masalah?" tanya Amanda.
"Mereka pada kaget kalau pemilik perusahaan ini akan menikah," jelas salah satu karyawan untuk ditanya Amanda.
"M-menikah? Tuan Andrian masuknya?" tanya sekali lagi Amanda memastikan.
"Memang siapa lagi pemilik perusahaan ini selain Tuan Andrian."
Mendengar kabar itu tubuh Amanda langsung gemetar, matanya terlihat sudah berkaca-kaca. Ingin rasanya mengeluarkan air mata tapi apa haknya untuk sedih seperti ini.
"Lalu pernikahannya kapan?" Amanda kembali memberanikan diri untuk bertanya.
"Besok pagi."
"Besok pagi?" Amanda tambah syok dengan hal ini. Bagaimana mungkin bosnya itu tak menggambarkan apa-apa pada mereka tentang pernikahannya.
"Iya besok pagi, makanya mereka semua pada kaget karena tak percaya. Selama ini kita tak pernah melihat Tuan Andrian dekat dengan wanita manapun kecuali Mbak Tiara dan Nayra.
"Nayra?" tanya lagi Amanda yang memang belum mengetahui tentang Nayra.
"Dia dulu asisten Tuan Andrian tapi mereka sangat dekat dan pernah digadang-gadang kan kalau mereka ada hubungan tapi beberapa bulan yang lalu Nayra menggundurkan diri dari perusahaan ini tapi entah apa alasannya menggundurkan dirinya.
"Terima kasih atas penjelasannya, kalau gitu saya pamit dulu."
Amanda bergegas ke toilet, di sana ia menjatuhkan air matanya yang sedari tadi ingin jatuh.
"Hiks... kamu bodoh Amanda, bisa-bisanya kamu berani menyukai bosmu sendiri. Kamu harus sadar diri kamu bagaikan langit dan bumi dengan Tuan Andrian, perhatiannya kemarin hanya sebatas atasan dan bawahan tak lebih. Hanya kamu saja yang terlalu bawa perasaan waktu itu. Kamu bodoh Amanda! Bodoh! Bodoh!"
Amanda terus-menerus mengutuk dirinya sendiri. Ia melihat wajahnya di cermin, ia tersenyum kecut melihat penampilannya yang berharap di cintai oleh bosnya.
"Aku begitu salah menaruh perasaan pada orang yang tidak tepat," gumam Amanda sambil mengusap air matanya karena terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam.
Amanda kembali merapikan make up serta rambutnya yang sempat berantakan. Lalu keluar dari sana.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^