My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 86



🍁🍁🍁


"Astaga! Apa Mas Andrian tidak capek apa pulang langsung kerja," gumam Nayra sembari ingin menuju ruang kerja suaminya.


Ketika ingin ke luar dari kamar, Andrian terlebih dulu sampai ke kamar.


"Mas sudah dari mana saja?"


"Aku dari ruang kerja, ada yang aku urus tadi."


"Udah ku duga," ucap Nayra dalam hati.


"Alden malam ini ingin tidur di sini," kasih tau Nayra kepada Andrian.


"Memangnya dia di mana sekarang?" Andrian melirik ke arah tempat tidur dan dia melihat anaknya sedang asik bermain sendirian.


"Itu dia sedang main."


Andrian menuju ke tempat tidur untuk bermain dengan anaknya, tapi bukannya bermain malah Andrian diusir dari kamarnya sendiri oleh anaknya.


"Papa keluar saja, Alden nggak mau lihat Papa di cini!!" ujar Alden mendorong papanya dari tempat tidur.


"Alden!! jangan begitu," peringat Nayra dengan baik-baik.


"Papa pelgi saja dari sini, Alden nggak mau Papa deket cama Mama," ujar lagi tetap mendorong papanya. Sedangkan Andrian hanya diam saja diperlakukan seperti itu oleh anaknya, karena ini adalah cobaan ketika mempunyai anak.


"Alden!!! Mama tidak pernah mengajar Alden untuk tidak sopan kepada orang lain terlebih kepada orang tua," ucap Nayra dengan intonasi tegas, dia tak mau melihat anaknya kurang ajar kepada papanya.


"Huwaaaaa___" bukan meminta maaf pada papanya, ia malah menangis mendengar bentakan dari mamanya.


"Sudahlah Sayang! Mungkin Alden masih takut kamu pergi lagi, kamu tidak perlu membentaknya seperti ini," Andrian membela anaknya.


"Jangan terlalu memanjakan anak seperti ini, nanti menjadi kebiasaan sampai besar."


"Dia masih kecil Sayang, dia belum mengerti tentang hal seperti itu, biarkan aku tidur di luar saja," Andrian mengalah demi anaknya. Karena ini salahnya juga karena meninggalkan anaknya yang masih kecil.


Andrian pun keluar dari kamar itu sambil membawa satu bantal. Terlihat Andrian seperti sedang diusir oleh istrinya, wajahnya terlihat begitu kasihan karena harus mengalah dengan anaknya.


Sedangkan di dalam kamar Nayra membereskan mainan Alden lalu menidurkannya di samping nya.


"Good night baby!" Nayra mengecup dahi anaknya lalu tertidur di samping anaknya.


Sedangkan Andrian mengungsi tidur di ruang kerjanya, dia tak bisa tertidur karena begitu banyak nyamuk di sana, dan dia lupa mengambil selimut membuatnya kedinginan di sana.


"Bila ku tidur sampai besok pagi, dipastikan aku tak bisa kerja," gumam Andrian yang berusaha untuk bisa tertidur.


Di sisi lain Nayra terbangun dari tidurnya untuk memeriksa apakah anaknya sudah tertidur pulas atau tidak, dan Alden sudah tertidur pulas saat ini. Dengan perlahan-lahan dia beranjak dari tempat tidurnya lalu membuka pintu kamar.


Saat ini Nayra ingin melihat kondisi Andrian, dia khawatir bila suaminya tidak bisa tertidur saat ini. Ketika masuk ke dalam ruang kerja Andrian dan memang benar bahwa Andrian terlihat begitu prihatin.


"Mas!" panggil Nayra sambil menggoyangkan lengan Andrian yang sedang tertidur.


"Sayang, kenapa kamu berada di sini? Nanti Alden mencari mu."


"Tenang saja, Alden sudah tertidur pulas, kamu pindah ke kamar ya Mas? Nayra tak tega melihat Mas tidur di sini."


"Nanti Alden akan marah lagi."


"Tenang saja Alden sudah tertidur jadi dia tak akan tau kamu tidur di sana."


"Baiklah! Aku sudah tak tahan tidur di sini," Andrian menenteng bantalnya ke kamar, lalu dia tidur di samping Nayra dan Nayra tidur di samping Alden.


"Selamat malam istriku!" Andrian mengecup pipi Nayra lalu tertidur dengan memeluk Nayra.


Pagi-pagi Andrian dengan cepat-cepat bangun agar tidak terlihat oleh anaknya. Ia mandi dan memasang baju dan jas yang sudah Nayra siapkan.


"Mas___" panggil Nayra.


"Hm!"


"Nayra mau minta izin untuk pergi ke rumah Mama dan Papa, apakah Mas mengizinkan?"


"Tentu saja Sayang, kapan kamu akan pergi?"


"Pagi ini, Nayra mau memberikan Mama dan Papa oleh-oleh yang kemarin kita beli," jelas Nayra.


"Kalau gitu aku yang akan mengantarkan kamu ke sana."


"Apa tidak merepotkan Mas? Nanti Mas terlambat ke kantornya."


"Iya-iya! Mas kan yang mempunyai perusahaan itu jadi bebas masuk kapanpun," celetuk Nayra.


Setelah siap-siap mereka masuk ke dalam mobil dan melaju ke rumah orang tua Nayra. Tak lupa Alden juga ikut membututi mamanya.


Di dalam mobil mereka bernyanyi dan bersenda gurau di dalam. Kemarahan Alden kepada papanya sudah hilang, malah dia sekarang ini begitu dekat dengan papanya.


"Salam kepada Mama dan Papa karena tak bisa mampir," ujar Andrian karena dia harus pergi ke kantor.


"Iya, nanti Nayra sampaikan. Ayok sayang turun!" ujar Nayra menyuruh anaknya turun dari mobil.


"Tidak!" Alden menggelengkan kepalanya.


"Kenapa tidak mau turun?"


"Alden mau ikut Papa ke kantor."


"Kemarin tak suka dengan papanya, sekarang mau ikut bersama papanya," ejek Nayra.


"Biarin!!"


"Papa sedang kerja jadi Alden nggak bisa ikut, kasihan Papa nanti repot gara-gara Alden," bujuk Nayra agar anaknya tak ikut ke kantor bersama Andrian.


"Nggak mau! Alden mau ikut Papa!"


"Tapi___" omongan Nayra terpotong oleh perkataan Andrian.


"Biarkan saja dia ikut denganku, Alden tak akan merepotkan ku di sana," Andrian selalu memanjakan anaknya itu.


"Baiklah! Alden janji tidak akan merepotkan Papa di sana?"


"Alden janji nggak nakal di cana."


Andrian pun berpamitan kepada istrinya, lalu menancapkan gas mobilnya menuju ke kantornya. Sesampainya di sana, Andrian membuka mobil lalu mengandeng anaknya berjalan masuk ke dalam kantor.




Karyawan di sana seketika heboh melihat bosnya itu membawa anak kecil ke kantor, ini pertama kalinya bosnya membawa anak kecil. Dan mereka bertanya-tanya siapa anak kecil yang dibawa bosnya karena mereka tau bosnya baru menikah beberapa Minggu ini.


"Selamat pagi Tuan!"


"Pagi Tuan!"


"Selamat pagi Tuan Andrian."


Sapa para karyawan itu dengan berbagai sapaan sambil menundukkan kepalanya. Sedangkan Andrian tetap berjalan tanpa kembali menyapa karyawan nya itu.


Berbeda dengan anaknya yang sedari tadi melambaikan tangannya kepada para karyawan.


"Hallo!"


"Hallo!"


"Pagi cemuaaa!!"


Sapa Alden begitu ramah sambil melambai-lambaikan tangannya sedari tadi. Tingkahnya seperti itu membuat dia menjadi sorotan karena terlihat begitu gemas dan imut ketika menyapa para karyawan papanya itu.


Sedangkan Andrian berjalan sambil menggandeng anaknya ke dalam lift. Setelah bosnya sudah tak ada di sana, mereka seketika ribut membicarakan tentang anak kecil yang dibawa bosnya.


"Siapa anak kecil itu?"


"Apakah anaknya Tuan Andrian?"


"Tidak mungkin anaknya Tuan Andrian, Taun Andrian saja baru menikah beberapa Minggu kemarin."


"Atau itu keponakannya?"


"Setahuku Tuan Andrian tidak mempunyai saudara."


Itulah obrolan hangat mereka pagi ini, mereka begitu penasaran dan bertanya-tanya siapa anak kecil yang imut itu.


See you again....


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^