My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 57



🍁🍁🍁


"Kamu kenapa teriak-teriak seperti itu?" tanya Andrian yang melihat Nayra bertingkat seolah-olah seperti anak kecil.


"I-itu-itu..." Nayra menujuk-nunjuk tubuh Andrian yang belum memakai baju sambil menutup matanya dengan tangan sebelah kirinya.


Andrian mengikuti arah Nayra menujuk. Ia pun sadar bahwa dirinya sekarang bertelanjang dada di depan Nayra, tapi bukannya malu ia malah tersenyum jahil ketika Nayra malu melihatnya seperti itu.


"Kenapa kamu harus malu?" tanya Andrian sambil tersenyum jahil pada calon istrinya itu.


"Apa Mas nggak merasa malu apa dilihat oleh perempuan tanpa mengunakan baju?" ujar Nayra yang masih tetap menutup matanya karena malu. Soalnya ini pertama kalinya melihat laki-laki bertelanjang dada seperti ini.


"Kenapa aku harus malu, kamu kan calon istriku. Nanti setelah menikah kamu akan setiap hari melihat tubuhku seperti ini," ujar Andrian membuat Nayra menjadi malu.


Perkataan Andrian barusan berhasil membuka Nayra tersipu malu serta deg-degan.


"Tapi kita kan belum menikah jadi tak pantas saya melihat hal seperti itu," ujar Nayra yang tak mau mengalah.


"Tapi sebelumnya kamu pernah melihatnya kan?" goda lagi Andrian membuat Nayra tambah makin malu.


"Apaan sih Mas," seru Nayra sambil kesal mendengar Andrian menggodanya dari tadi.


"Lebih baik Mas menggenakan baju sana! Lalu keluar untuk makan malam," ujar Nayra lagi sambil berlalu pergi dari sana tapi masih menutup matanya dengan tangan sebelah kirinya.


Tapi ketika ia ingin keluar dari sana Andrian malah menghalanginya. Sontak Nayra ingin terjatuh karena menabrak tubuh Andrian yang kekar itu.


Karena tak bisa menyeimbangkan tubuhnya yang mungil itu, akhirnya Nayra terjatuh. Tapi untung saja Andrian dengan cepat menangkap tubuh Nayra.


Sedangkan Nayra langsung berpegang erat di tubuh kekar Andrian dengan kedua tangannya. Nayra pun kembali melihat tubuh kekar Andrian yang sudah melihat di pinggangnya saat ini.


Mereka saling tatap-tatapan. Nayra terlihat begitu pangling melihat wajah Andrian yang terlihat begitu tampan malam itu, apalagi dengan rambut yang basah serta baru selesai mandi.


Begitu juga dengan Andrian yang terpesona melihat Nayra yang terlihat begitu cantik. Di tambah harum rambut Nayra membuat hasrat Andrian bergejolak.


Ketika lama sudah saling tatap-tatapan Nayra akhirnya tersadar dengan posisi mereka. Dengan cepat Nayra berdiri dan langsung menjauh dari tubuh Andrian.


"Saya ke sini untuk memberitahu Mas kalau makan malam sudah siap, kalau begitu saya permisi dulu," ujar Nayra sambil gugup dan menundukkan kepalanya.


Melihat Nayra gugup keluar dari sana membuat Andien tersenyum-senyum.


"Dasar anak kecil!" seru Andrian yang merasa Nayra masih ke kanak-kanak. Walaupun memang benar Nayra masih berumur muda dibandingkan dirinya yang hampir masuk kepala tiga.


Sampai di meja makan Bik Lastri dan Alden menatap Nayra dengan penuh tanda tanya serta kebingungan. Meraka heran melihat Nayra yang keluar-keluar dari kamar Andrian terlihat begitu pucat seperti sudah melihat hantu di dalam sana.


"Wajah nyonya kenapa pucat seperti itu? Apakah ada sesuatu di kamar tuan Andrian?" tanya Bik Lastri.


"T-tidak pa-pa! A-aku tadi hanya melihat kecoak saja di sana, jadi aku merasa geli," bohong Nayra. Mana mungkin ia memberitahu kejadian tadi kepada Bik Lastri pasti dia akan tertawa mendengar kebenarannya. Apalagi sekarang ada Alden di sini.


Tak lama kemudian Andrian datang menyusul ke meja makan. Terlihat Andrian tak memusingkannya kejadian tadi, malah berbanding terbalik dengan Nayra yang masih memikirkan kejadian tadi.


Nayra malah tak berani menatap wajah Andrian gara-gara kejadian tadi di kamar. Bik Lastri yang merasa aneh melihat nyonya nya menjadi curiga. Pasti ada apa-apa di antara mereka berdua membuat Nayra seperti itu, itulah pikiran bik Lastri sekarang.


"Tuan mau lauk apa?" tanya bik Lastri kepada Andrian.


"Terserah!" ucap Andrian.


"Biar saya saja Nyonya mengambil kan Nyonya lauk," ujar bik Lastri.


"Tidak usah Bik! Biar saya saja," tolak Nayra lalu mengambilkan dirinya lauk di meja.


Sedangkan bik Lastri pergi dari sana setelah selesai melayani tuanya. Sedangkan Alden tak memakan makanannya, ia malah bermain-main dengan robot-robotan yang baru dibelikan oleh papanya itu.


"Alden sayang! Ayok makan makanannya," seru Nayra menyuruh anaknya untuk makan.


"Alden mau disuapi sama Papa," seru Alden menjawab perkataan mamanya.


"Tapi Papa lagi makan, jadi Alden makan sendiri."


"Nggak mau! Alden makan kalau disuapi Papa," tolak Alden.


"Kalau gitu Mama yang suapi Alden, bagaimana?" tanya mamanya tapi Alden tetap menolaknya, entah mengapa ia ingin disuapi oleh Andrian. Sedangkan Nayra agak segan berbicara dengan Andrian.


"Alden mau disuapi sama Papa?" tanya Andrian yang menyudahi makanannya demi untuk menyuapi anak kesayangannya itu.


"Iya," angguk Alden.


"Kalau gitu sini Papa siapin, tapi janji makanannya harus habis," seru Andrian.


Alden pun berpindah posisi tempat duduk. Dari awal duduk di samping Nayra sekarang berpindah ke pangkuan Andrian.


"Biar saya saja yang menyuapi Alden makan, lebih baik Mas habisi dulu makan malamnya," ujar Nayra yang tak enak dengan Andrian. Walaupun Andrian adalah papanya Alden tapi ia masih asing dengan semua itu.


"Tidak pa-pa! Demi anakku tercinta," ujar Andrian sambil menyiapkan makanan di mulut Alden. Begitu juga Alden yang terlihat begitu senang dan menikmati makan malam disuapi oleh Andrian.


Nayra heran kenapa Alden terlihat begitu dekat dengan Andrian padahal Alden baru mengenal Andrian. Sedangkan Baim yang lama sudah dikenal tak terlalu sedekat ini dengan Andrian. Apa mungkin karena ada ikatan batin sehingga mereka bisa sedekat ini, itulah pikiran Nayra saat ini.


Ketika menyebut nama Baim dalam pikirannya tadi. Ia kembali mengingat Baim yang tak ada kabarnya.


"Di mana Baim sekarang? Apakah Baim baik-baik saja? Kenapa dia tak pernah menghubungiku?" gumam Nayra yang tak pernah mendengar kabar dari Baim.


"Apa mungkin Baim masih marah dengannya gara-gara waktu itu," itulah isi pikiran Nayra saat ini sampai lupa menghabiskan makanannya.


Andrian yang melihat Nayra sedari tadi melamun sampai tak mengabiskan makanannya menjadi penasehat. Apa yang dipikirkan Nayra saat ini.


"Nay! Kenapa kamu tak menghabiskan makanannya?" seru Andrian mengagetkan Nayra.


"Maaf! Ini saya mau habisin makanannya," ujar Nayra langsung kembali memakan makanannya yang belum habis.


Andrian tambah bingung melihat kelakukan Nayra tadi.


"Kamu kenapa Nay? Apakah ada masalah?" tanya lagi Andrian kepada Nayra.


"T-tidak! Saya tidak pa-pa," ujar Nayra.


See you again...


LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^