
🍁🍁🍁
"T-tidak Tuan!"
"Apa kamu sudah makan siang?"
"B-belum Tuan."
"Kamu pergi beli makan siang dulu, pekerjaan mu sudah selesai."
Amanda pun keluar dari sana dengan jantung yang detak begitu cepat. Ia memegang jantungnya yang begitu terasa cepat.
"Sadar Amanda, kamu tak pantas untuk Tuan Andrian. Ingat di sini kamu hanya bekerja untuk mencari uang bukan mencari pasangan," gerutu Amanda lagi dengan perasaannya yang tak karuan sedari tadi.
***
Di hari Minggu yang sangat cerah, Nayra sedang terlihat membuat sarapan untuknya dan untuk anaknya. Sudah lama bergelut di dapur dengan peralatan masaknya, akhirnya masakannya sudah jadi.
Ting!
Ketika meletakkan sarapan di atas meja makan terdengar suara bel berbunyi membuat Nayra menghentikan aktivitasnya.
"Siapa orang yang datang sepagi ini? Apa mungkin Mas Andrian?"
Tanpa pikir panjang Nayra membukakan pintunya dan memang benar tebakan Nayra bahwa itu adalah Andrian.
"Good morning baby!" sapa Andrian ketika Nayra membukakannya pintu. Lalu ia mencium kening kekasihnya itu.
"Mas! Kebiasaan deh kalau mau cium itu nggak izin terlebih dahulu, kalau ada yang lihat bagaimana?" Nayra memanyunkan bibirnya dengan tingkat Andrian semena-mena.
"Maafkan aku Sayang, soalnya aku sangat rindu padamu dua hari ini kita tak bertemu."
"Ayok masuk!"
"Apa kamu tidak merindukan ku?" tanya Andrian memeluk pinggang Nayra dari belakang membuat Nayra melototkan matanya.
"Apaan sih Mas, lepaskan nanti Alden melihat kita seperti ini."
"Jawab dulu pertanyaan ku, apakah kamu tidak merindukan ku selama dua hari ini?" Andrian tambah erat memeluk pinggang Nayra sambil mencium leher jenjang Nayra.
"Nggak! Lepaskan!" Nayra berusaha untuk melepaskan tangan Andrian dari pinggangnya.
"Sebelum kamu mengatakan "iya" aku tetap seperti ini."
"Baiklah! Aku sangat merindukanmu dua hari ini, sekarang puas kan?"
Andrian menyeringai melihat ekspresi wajah Nayra yang marah seperti itu membuatnya tambah cantik dan mengemaskan.
"Baiklah Baby aku sangat puas."
"Apa Mas sudah sarapan? Kalau belum mari kita sarapan sama-sama."
"Aku tadi sudah sarapan tapi karena kamu yang membuatnya aku akan sarapan lagi, ngomong-ngomong di mana jagoan kecilku?"
"Dia masih tidur di kamar, akan ku bangunkan dia."
Ketika Nayra beranjak dari duduknya untuk membangun kan Alden, terlebih dahulu Alden keluar dengan muka bantalnya.
"Selamat pagi jagoan Papa!" Andrian langsung menghampiri anaknya lalu menggendongnya ke meja makan, dia begitu sangat merindukan anaknya yang tak berjumpa dua hari belakangan ini gara-gara pekerjaan nya yang begitu sangat banyak.
"Alden, sebelum sarapan cuci muka dulu!" suruh Nayra.
Alden pun dengan sempoyongan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah mencuci muka terlihat dia lebih segar dari pada tadi.
"Ini Papa membelikan mu mainan baru," Andrian menyodorkan sebuah paper bag untuk anaknya. Alden yang terlihat masih mengantuk langsung segar kembali ketika melihat mainan baru.
"telima kacih Papa."
"Sama-sama Sayang," Andrian mencium pipi anaknya yang merasa gemas melihat Alden senang dengan mainan barunya.
Andrian begitu lahap sarapan, padahal sebelum ke sini dia sudah sarapan di rumah. Tapi dengan masakan Nayra yang begitu enak membuat Andrian lapar dan ingin tambah lagi.
"Masakan mu sangat enak, aku yakin setelah kita nikah nanti aku pasti akan gendut dan menjadi buncit setiap hari makan makanan yang enak terlebih lagi kamu yang memasaknya."
"Kalau gitu kamu tambah lagi."
Dengan senang hati Andrian kembali menambah nasi dan lauk pauk yang Nayra buat.
"Hari ini aku ingin mengajak mu mencari cincin pernikahan lagi, kata Mama pernikahan nya akan diselenggarakan satu Minggu lagi dan aku tak terlalu suka dengan cincin yang kemarin kita beli."
"Bukannya ini terlalu cepat untuk menyiapkan pesta pernikahan? Dan apakah tak pemborosan membeli cincin kembali?"
"Tentang itu kamu tidak usah khawatir, Mama sangat begitu ahli dalam membuat acara mendadak, kamu hanya duduk manis saja tanpa harus capek-capek mempersiapkan pernikahan ini."
"Sekarang kamu siap-siap gih!" ujar lagi Andrian.
"Lalu Alden sama siapa di sini?"
"Nanti kita antar ke rumah Mama, lebih baik kamu siap-siap karena kita sudah di tunggu."
Nayra pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk siap-siap, dia menggunakan mini dress selutut dengan motif bunga-bunga, tak lupa ia memoleskan wajahnya dengan sedikit make up agar tak terlihat pucat.
Setelah selesai bersiap-siap mereka pun pergi dengan mobil sport milik Andrian, terlebih dulu mereka mampir ke rumah Andrian untuk menitipkan anaknya ke nyonya Kumala, lalu kembali menuju salah satu toko perhiasan terbesar di kota itu.
Kedatangan mereka begitu di sambut oleh para pelayan toko dan pemiliknya. Karena di sana adalah toko langganan keluarga Ghratama, dan mereka tau kalau keluarga Ghratama tak akan segan-segan membeli perhiasan yang paling mahal di sini.
"Selamat pagi Tuan dan Nona, senang sekali Anda bisa berkunjung di toko kami lagi, silahkan duduk Tuan dan Nona!" sapa pemilik perhiasan itu.
Para pelayan membawakan cemilan dan minuman untuk mereka. Di sana mereka berdua dilayani dengan sangat hormat sampai Nayra takjub karena selama ini tak pernah ada yang menghormatinya seperti ini.
"Saya datang ke sini untuk mencari cincin pernikahan."
"Di sini banyak sekali tipe cincin pernikahan yang mewah dan elegan."
Mereka pun menunjukkan semua cincin yang paling mahal dan limited edition kepada Andrian dan Nayra.
"Kalau cincin yang ini baru keluar dan belum ada yang memilikinya, sedangkan yang satunya lagi hanya ada dua stok yang ada," pemilik toko itu menjelaskan satu persatu cincin yang ada di sana.
Sedangkan Nayra tertarik kepada satu cincin yang menurutnya terlihat simpel tapi elegan, ia langsung tertarik pada pandangan pertama. Andrian yang melihat Nayra tertuju pada cincin itu langsung mengambilnya.
"Kalau yang ini?" tanya Andrian mengambil cincinnya. Nayra sontak kaget melihat Andrian mengambil cincin yang ia mau.
"Ini cincin andalan toko kami, banyak sekali orang yang meminati cincinnya karena hanya ada di toko kami, cincin ini juga terlihat cocok di jari Nona."
Andrian langsung menarik jari-jari Nayra untuk memasangkan nya cincin untuk memastikan apakah muat atau tidak. Dan cincin itu begitu sangat cocok dan pas di jari manisnya Nayra.
"Apa kamu suka?" tanya Andrian.
Nayra menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
Karena Nayra suka maka Andrian langsung saja mengambil cincin itu tanpa pikir panjang.
"Baiklah aku akan mengambil cincin ini."
"Baik Tuan, kita akan mengurus surat-surat dan harga nya."
"Kalau boleh tau harga cincinnya berapa ya?" tanya Nayra.
"Harga cincinnya sekitar 250 jt."
Mendengar harga yang begitu fantastis membuat Nayra tercengang, hanya sebuah cincin seharga dengan satu mobil. Nayra pun menarik tangan Andrian untuk berbicara dengan nya.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN MASUKAN KE FAVORIT ^_^