My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 84



🍁🍁


"Bagaimana aku bisa menolak permintaan dari wanita yang aku cintai? Aku tak bisa menolak permintaan mu," ujar Andrian mengelus-ngelus pipi Nayra yang terasa begitu dingin.


Mereka berdua duduk di kursi yang memang ada di dekat sungai itu. Sambil melihat lampu dan pemandangan malam yang begitu indah. Karena di dekat jalan membuat suara di sana terdengar ramai dan menambah keindahan malam itu.


"Apa kamu suka?" tanya Andrian.


"Iya, Nayra begitu suka dengan suasananya."


Nayra berdiri di tepi sungai melihat keindahannya, dan tepat ketika Nayra menghadap ke langit tiba-tiba ada yang menyalakan kembang api membuat malamnya begitu indah.


"Wah sangat indah sekali," seru Nayra yang tak pernah merasakan suasana seperti ini.


Andrian melihat Nayra yang menghadap ke arah sungai memfotonya dari belakang, ia sengaja memfoto istrinya secara diam-diam untuk menjadikan kenang-kenangan nantinya.



Setelah memfoto Nayra, Andrian ikut berdiri di tepi sungai tepat di samping Nayra.


"Lihat Mas! kembang apinya terlihat begitu indah," tunjuk Nayra untuk menunjukkan suaminya itu.


"Apakah hanya karena ini kamu sesenang ini?"


"Ini adalah momen yang indah, jadi Nayra tak akan melupakan momen ini. Andaikan Alden juga bisa melihatnya pasti dia akan senang."


"Kapan-kapan kita kembali ke sini bersama Alden dan adeknya nanti," ujar Andrian sambil memegang perut Nayra.


"Maksud Mas apa? Adek?"


"Aku berharap keinginan Mama akan tercapai, mempunyai cucu ke dua dari kamu."


"Semoga saja perut Nayra cepat terisi," ujar Nayra sambil mengelus-ngelus perutnya yang masih rata.


Tak terasa salju turun membuat suhunya tambah dingin, melihat Nayra menggigil kedinginan membuat Andrian melepas jas yang ia pakai untuk menutup tubuh Nayra agar tak kedinginan lagi.


"Kenapa Mas memberikan Nayra jasnya? Nanti Mas kedinginan."


"Aku sudah terbiasa, lebih baik kamu tetap memakainya agar kamu tak merasa kedinginan."


"Kalau gitu kita balik saja, aku takut Mas nanti akan sakit dengan cuaca dinginnya."


"Baiklah!"


Mereka pun masuk kembali ke dalam mobil lalu menuju ke hotel. Ketika sampai mereka langsung masuk ke kamar hotel dengan membawa oleh-oleh yang akan ia bawa pulang nantinya.


Di sepanjang malam Andrian tak henti-hentinya bersin sampai tidurnya tak nyenyak. Nayra yang mendengar suara Andrian bersin membuat ia terbangun dari tidurnya.


"Mas kenapa?" tanya Nayra.


"Aku tak papa! Lebih baik kamu tidur saja, maaf menganggu tidurmu."


Suara Andrian yang terdengar serak dan terlihat hidungnya memerah membuat Nayra cemas melihat kondisi suaminya itu. Nayra pun memegang dahi Andrian dan terasa begitu hangat.


"Astaga! Badan Mas terasa begitu hangat, Nayra akan ambilkan obat untuk Mas," ujar Nayra sambil ingin beranjak dari tempat tidurnya.


"Tidak usah! Lebih baik kamu tidur saja," cegah Andrian dengan memegang tangan Nayra.


"Tapi suhu tubuh Mas terasa hangat, ini semua gara-gara tadi itu."


"Tidak usah! Kamu cukup memeluk ku, pasti aku akan sembuh."


"Baiklah Nayra akan memeluk Mas."


Kemudian Nayra kembali membaringkan tubuhnya di samping Andrian sambil memeluk suaminya itu. Ia mengelus-elus pipi suaminya agar suaminya tak merasa kedinginan.


Begitu juga dengan Andrian yang ikut memeluk Nayra sambil memejamkan matanya untuk berusaha tertidur.


"Maafkan Nayra Mas! Ini semua gara-gara Nayra yang ingin ke sungai itu," ujar Nayra merasa bersalah sambil mengusap-usap pipi Andrian.


"Kamu jangan menyalahkan diri sendiri, ini hanya demam biasa besok pagi juga akan sembuh.


"Mas___"


"Hm..."


"Jantung Mas begitu berdetak kencang, apa Mas baik-baik saja?" Nayra ingin mengangkat tangan nya yang masih ada di dada bidang Andrian, tapi Andrian mencegah agar Nayra tak memindahkan tangannya dari dadanya.


"Biarkan tangan mu di sini, jantung ini begitu cepat berdetak ketika begitu dekat dengan mu."


Nayra merasa malu dengan ucapan Andrian, pipi Nayra berhasil memerah karena salah tingkah.


"Sekarang tidurlah! Besok pagi kita akan balik ke Indonesia, good night baby!" Andrian mengecup kening Nayra lalu ikut memejamkan matanya.


Pagi yang begitu cerah Nayra sudah terbangun dan membuat sarapan untuk ia dan suaminya. Sedangkan Andrian masih tertidur pulas di atas tempat tidur dengan dibaluti selimut yang tebal. Nayra sengaja tak membangunkan Andrian karena tau dia masih kurang sehat.


Tak lama kemudian Andrian membuka matanya dan melihat Nayra sudah tidak ada di sampingnya lagi, ia mengedarkan pandangannya ke kamar itu dan melihat Nayra sedang menaruh sarapan di nakas samping tempat tidur.


"Bagaimana keadaan Mas sekarang?" tanya Nayra sambil memegang dahi Andrian yang suhu tubuhnya sudah lumayan normal.


"Aku baik-baik saja, jadi kamu jangan terlalu khawatir."


"Baiklah! Nayra tak akan khawatir jika Mas sarapan dulu lalu meminum obat."


"Aku mau sarapan tapi kamu yang suapi," ujar Andrian mode manja.


"Sekarang buka mulutnya," Nayra menyuapi Andrian.


Andrian terlihat begitu manja ketika disuapi oleh Nayra, bahkan baru pertama kali Andrian bermanja-manja seperti ini setelah bermanja di mamanya.


"makanannya begitu enak, apa ini masakan mu?"


"Iya."


"Aku ingin nambah," Andrian begitu lahap sarapan pagi ini, dengan senang hati Nayra kembali menambahkan sarapan buat Andrian.


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Andrian.


"Sudah, sebelum Mas bangun."


Setelah habis sarapannya Nayra memberikan Andrian obat agar Andrian cepat sembuh, karena nanti sekitar jam 11 pagi menjelang siang mereka akan balik ke Indonesia.


"Apa kita undur saja kepulangan kita? Kondisi Mas saat ini masih kurang sehat."


"Aku tidak papa! Kalau kita mengundur kepulangan kita nanti aku takut bila Alden mencari kita."


Nayra juga berpikir seperti itu, tapi kondisi Andrian masih kurang sehat tetapi dia juga sudah lama meninggalkan anaknya. Ini pilihan yang sulit.


"Kamu jangan terlalu memusingkan itu, aku baik-baik saja jadi kamu tak usah khawatir."


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Mereka berdua sudah siap-siap membereskan baju-baju dan oleh-oleh ke dalam mobil menuju ke Bandara. Sedangkan keadaan Andrian masih sedikit kurang fit tapi sudah lebih baik dari sebelumnya.


Sekarang mereka sedang di antar oleh Lee Seung, karena memang itu tugas Lee Seung membawa mereka ke bandara.


Setelah beberapa lama di dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di sana dan tepat ketika mereka sampai pesawatnya akan segera berangkat.


"Terima kasih atas kunjungan Tuan Andrian dan Nona Nayra ke sini, kalau Anda datang ke sini lagi, jangan lupa hubungi saya saja," ucap Lee Seung dengan begitu ramah.


"Tidak perlu!" ucap Andrian ketus karena masih cemburu dengan Lee Seung, padahal Nayra dan Lee Seung tak ada hubungan apapun tapi Andrian saja yang terlalu sensitif dengan hal itu.


"Mas! nggak boleh seperti itu," bisik Nayra sambil mencubit lengan Andrian.


"Aw! sakit sayang," meringis Andrian.


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^