
See you again...
Mengingatkan masa lalunya membuat Andrian merasa malu dengan perbuatannya dulu, tapi perkataan mamanya ada benar nya juga. Tidak mungkin ini hanya sebuah kebetulan, tapi setahunya ia tak pernah berpacaran dengan Nayra dulu atau membayar Nayra hanya untuk melayaninya di atas ranjang.
"Andrian mau istirahat dulu Mah, lebih baik Mama keluar dulu dari kamar Andrian. Tentang masalah ini biar Andrian pikirkan." ujar Andrian.
"Baiklah Mama keluar dulu, kamu istirahat dulu jangan pikirkan hal lain sebelum kamu pulih," ujar nyonya Kumala.
Nyonya Kumala pun keluar dari kamar Andrian, ia tak lupa menutup pintu kamarnya, sebelum menutup pintu ia melihat Andrian sudah tertidur pulas dengan dibaluti selimut tebalnya.
Mendegar suara pintu yang sudah ditutup. Andrian kembali membuka matanya, ia tadi hanya berpura-pura tidur agar mamanya cepat keluar dari kamarnya.
Sebenarnya Andrian memikirkan tadi perkataan mamanya, apakah benar dia sudah menggauli Nayra sampai ia mempunyai anak dari Nayra. Itulah pikiran Andrian dari tadi.
Ia pun mengingat masa lalunya yang sering mengonta-ganti wanita, tapi dia tak pernah berpacaran atau membayar Nayra untuk kepuasannya di ranjang.
Tapi satu kejadian yang Andrian ingat, tentang malam itu. Apakah wanita malam itu adalah Nayra, kalau benar malam itu ia sudah merenggut kesucian Nayra dengan paksa.
Andrian pun menyambungkan kejadian malam itu dengan sikap Nayra kepadanya. Ia seperti ketakutan ketika melihatnya pertama kali, ia juga pernah mengaku bahwa kalung yang ia temukan malam itu adalah kalungnya. Serta waktu dia tak sadarkan diri dia pernah bilang kalau dia begitu sangat membencinya. Kejadian itu sebagai bukti kuat bahwa kemungkinan besar ada hubungannya Nayra dengan malam itu serta Alden adalah anaknya.
Tak terasa Andrian menitikkan air matanya membayangkan semua itu. Bila memang dugaannya benar, maka dia laki-laki beregsek yang pernah ada di muka bumi ini. Tapi kenapa Nayra menyembunyikan ini padanya? Apakah dia tak mau ia mengetahui kebenarannya.
"Tinggal satu langkah lagi, aku bisa membuktikan bahwa Alden anakku. Satu-satunya yang bisa membuktikan kuat adalah aku harus tes DNA dengan Alden," gumam Andrian.
Andrian pun mengambil ponselnya di nakas dekat tempat tidurnya itu. Ia terlihat menelpon seseorang untuk mengurusi semua proses tes DNA itu.
Telpon.
Andrian :
Hallo! Apakah kamu bisa membantuku sesuatu?
Orang :
Apa yang bisa aku bantu kawan?
Andrian :
Bisakah kamu melakukan tes DNA?
Orang :
Kamu mau melakukan tes DNA dengan siapa? Apakah kamu bukan anak kandung keluarga Grahatama sehingga membuktikannya dengan tes DNA? Hahaha (terdengar suara orang di sebentar telpon tersebut meledak Andrian)
Andrian :
Kamu lakukan saja tes DNA nya, nanti aku akan ceritakan semuanya.
Orang :
Kamu berikan dulu rambut mu dan yang ingin kamu tes DNA itu, baru aku bisa melakukan tes DNA nya.
Andrian :
Tenang saja aku akan segera membawakan apa yang kamu butuhkan.
Orang :
Oke-oke! Aku tunggu kedatangan mu di sini.
Tut.. tut... tut...
Mereka pun mengakhiri sambungan telponnya.
Setelah menelpon barusan. Andrian kembali beralih menelpon anak buahnya untuk mengurusi semua yang ia betuhui.
Telpon.
Anak Buah :
Ada apa Tuan Andrian menelpon saya?
Andrian :
Kamu ambil sempel rambut pasien yang bernama Alden. Besok pagi kamu harus bawakan aku ke ke kantor.
Anak Buah :
Tapi bagaimana saya melakukannya Tuan? Sedangkan rumah sakit begitu ketat dalam penjagaan.
Andrian :
Anak Buan :
Tapi Tuan...
Andrian :
Atau gini saja, kamu pura-pura saja menjadi perawat atau apapun saja yang memungkinkan kamu bisa masuk ke dalam sana. Jika sudah kamu ambil beberapa helai rambut anak itu dan bawakan ke ruangan ku besok.
Anak Buah :
Baiklah Tuan! (terdengar suara di balik telpon tersebut begitu pasrah)
Andrian :
Bila kamu berhasil membawakan apa yang aku inginkan, maka kamu aku berikan bonus yang besar.
Anak Buah :
Baik Tuan! Saya akan berusaha mendapatkan apa yang Anda inginkan.
Anak buahnya itu pun langsung begitu bersemangat mendengarkan bonus yang ia akan dapatkan bila berhasil.
Setelah beres menelpon semuanya. Tinggal Andrian menunggu besok untuk melakukan tindakannya. Dengan hanya menelpon serta menyertakan uang, semuanya akan beres dengan cepat.
Di sisi lain rumah sakit tepatnya di ruangan Alden. Terlihat Alden baru bangun dari komannya.
"Mama..." panggil Alden dengan suara serak khas bangun tidur.
Nayra yang masih tertidur di samping anaknya langsung terbangun mendengarkan suara Alden memanggilnya.
"Astaga! Kamu sudah bangun Sayang?" Nayra langsung mengusap-usap pipi cabi anaknya itu.
"Mah..." panggil Alden kembali.
"Iya ini Mama, apakah ada yang Alden rasakan? Seperti pusing atau tubuh merasa sakit?" tanya Nayra sambil melihat kondisi anaknya.
Alden hanya menggelengkan kepalanya menjawab semua pertanyaan Nayra.
"Mah! Alden lapar," ujar Alden dengan suara yang masih agak kecil.
Nayra yang mengira anaknya kesakitan langsung tersenyum ketika mendengar anaknya meminta makanan. Ia yang sempat menitikkan air mata langsung bahagia bercampur sedih karena anaknya tak mengeluh kesakitan.
Memang seperti itu perempuan cepat yang namanya menangis. Terutama seseorang ibu yang begitu cepat menangis melihat kondisi anaknya berbaring lemas seperti ini. Nayra termaksud wanita yang begitu kuat menahan semua cobaan selama ini, jadi wajar bila sesekali dia menitikan air matanya.
"Kalau gitu Mama ambilkan Alden bubur dulu ya?" ujar mamanya.
"Tidak! Alden tidak suka bubur," tolak Alden mentah-mentah.
"Tapi Alden lagi sakit, jadi Alden harus makan bubur dulu biar cepat sembuh."
"Tapi Alden nggak suka makan bubur," Alden tetap menolak memakan buburnya.
"Satu suap aja, Alden harus makan bubur," Nayra menyodorkan satu suap bubur itu ke mulut Alden, tapu Alden malam membungkam mulutnya agar Nayra tak bisa memasukan buburnya ke dalam mulutnya.
Suara pintu ruangan itu terbuka. Ternyata Baim yang masuk ke dalam.
"Kapan Alden sadar Nay? tanya Baim yang melihat Alden membuka matanya.
Baim baru saja datang kembali ke rumah sakit setelah pulang tadi subuh untuk mengganti pakaian serta membawakan Nayra baju ganti.
"Baru saja, tapi dia tidak mau memakan buburnya, padahal ketika bangun tadi ia mengatakan kalau lapar."
"Sudah-sudah! Kamu serahkan saja semuanya padaku. Lebih baik kamu bersihkan tubuhmu serta ganti pakaian mu, ini aku bawakan ganti pakaian untuk mu," Baim menyodorkan paper bag ke arah Nayra.
"Tapi Alden bagaimana?"
"tenang saja kalau masalah Alden, aku yang akan mengurus nya dan membujuknya biar mau makan bubur. Lebih baik kamu ganti baju gih! Pasti dari kemarin kamu belum membersihkan tubuhmu," ujar Baim.
Nayra pun melihat bajunya yang masih bercak darah serta kusut seperti ini. Ia tersadar bahwa seharian kemarin ia tak pernah mengganti pakaiannya.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^