My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 115



🍁🍁🍁


Nathan menunjukkan sebuah kamar yang berada tepat di samping kamarnya, Amanda pun berlalu masuk ke dalam kamar yang akan menjadi kamarnya itu.


Melihat kamar itu memang sudah tak pernah ditempatkan, debu yang begitu tebal menempel di kasur dan lemarinya tapi terlepas dari situ kamar ini begitu lebih layak dibandingkan kostnya dulu.


Dia memulai membereskan kamarnya dari debu-debu lalu memasukkan semua pakaiannya di dalam lemari.


Setelah beres di kamarnya, Amanda kemudian beralih ke ruang tengah untuk membereskan baju-baju dan menata barang-barang sesuai tempatnya. Hingga hampir berapa jam Amanda membereskan ruang tengah itu saja.


Karena Nathan belum menampakkan batang hidungnya keluar dari kamarnya, Amanda berinisiatif membuat sarapan untuk Nathan ketika bangun nanti.


Bau yang begitu menggoda membuat Nathan bangun dari tidurnya, ia keluar dari kamarnya dan melihat makanannya sudah tertata rapi di atas meja makan.


"Apa kamu yang membuatnya?" tanya Nathan sambil melirik Amanda yang sedang mencuci perabotan yang dia pakai untuk memasak tadi.


"Memangnya siapa yang memasak selain aku? Hanya kita berdua yang ada di sini, jadi akulah yang memasaknya."


"Apa ini enak? Apa kau tak meracuni ku?" tanya Nathan yang ragu dengan masakan Amanda.


"Aku tak sejahat itu sampai meracuni mu, bila kau tak mau biar ku makan sendiri masakan ku. Kamu bisa memesan makanan nanti."


Amanda ingin mengambil makanan itu di atas meja tapi Nathan mencegah nya.


"Aku sangat lapar jadi aku akan memakannya."


Amanda ingin tertawa melihat ekspresi wajah Nathan yang terlihat takut makanannya di bawa olehnya. Ujung-ujungnya dia mau memakan masakannya.


Ketika mencicipi masakan yang di buat Amanda, Nathan terlihat lahap memakannya.


"Apa terasa enak sehingga kamu menghabisinya hingga tak menyisakan untuk ku?"


"Masakannya biasa saja, aku hanya lapar saja hingga bisa habis seperti ini."


Amanda hanya mengiyakan perkataan Nathan, apapun perkataanya asalkan masakannya bisa habis.


"Ngomong-ngomong tetangga mu pada kemana sih? Kenapa terlihat sepi sekali?" tanya Amanda di sela-sela sarapan Nathan.


"Mana ku tau, aku tak peduli dengan mereka semua, bahkan aku tak tau siapa tetangga ku."


"Lalu kamu berinteraksi dengan siapa bila ada di sini?"


"Aku jarang ada di apartemen, jadi mungkin aku tak setiap hari tidur di sini."


"Lalu aku bersama siapa? Aku takut bila sendiri di apartemen sebesar ini."


"Dasar penakut! Aku tak mungkin menunggu mu dua puluh empat jam di sini, aku juga ada urusan setiap harinya."


"Ya nggak setiap saat kamu ada di sini, tapi kalau malam aku tidak berani sendiri di apartemen ini."


"Kamu harus membiasakan sendiri di sini, mungkin seminggu dua atau tiga kali aku akan menginap di sini."


"Kalau aku tau sendiri di sini setiap malamnya aku tak akan mau kerja di sini," gumam Amanda. Dia memang penakut orangnya.


"Apa itu cuma alasan mu agar aku tetap bersama mu? Jangan-jangan kau suka denganku?" Nathan sudah begitu pede bahwa dia disukai oleh wanita yang ada dihadapannya saat ini.


"Maaf ya! Tapi kayaknya kamu deh yang suka dengan ku, secara kamu saja yang selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi."


"Idih! Kapan aku mengikuti mu?"


"Di club' malam, hingga kamu rela membayar ku mahal agar aku bisa menemanimu. Dan malam kemarin kamu sengaja kan jadi penyelamat ku agar aku berhutang budi denganmu."


Nathan menjitak dahi Amanda hingga Amanda merasa kesakitan.


"Aw!" jerit Amanda kesakitan.


"Kamu bukan tipeku, aku tak suka wanita bar-bar seperti mu."


"Syukurlah kalau memang seperti itu, jadi aku nyaman kerja di sini."


"Sudah-sudah aku mau pergi kerja, jangan lupa bereskan kamarku. Tapi jangan menyentuh apapun di kamarku."


Nathan pergi dari sana setelah sarapannya habis.


"Bagaimana caranya aku bisa membereskan kamarnya bila aku tak diizinkan menyentuh barang di kamarnya, dasar pria aneh!!"


Tapi tetap saja Amanda melakukan pekerjaannya untuk membereskan kamar Nathan, dia hanya membersihkan debu serta menaruh barang ke tempat semula tanpa kepo dengan isi kamar majikannya itu.


"Bangun!!" Nathan menggoyangkan tubuh Amanda yang tidur seperti mayat.


Setelah beberapa kali digoyangkan tubuhnya, akhirnya Amanda tersadar dari tidurnya.


"Lho! bukannya kamu pergi kerja? Kenapa cepat sekali pulangnya?"


"Cepat kamu bilang? Lihat jam!!"


Amanda begitu linglung hingga mengira masih pagi, ternyata ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 6 sore.


"Astaga! Maaf, aku tertidur dari pagi."


"Aku tak membayar mu untuk tidur sepanjang hari, kamu harus kerja membersihkan apartemen ku."


"Tapi semuanya sudah beres jadi aku tak tau harus membereskan apa lagi."


"Apa kamu sudah membereskan kamar ku?"


"Sudah!" jawab Amanda.


"Apa kamu sudah membereskan dapur?"


"Sudah!"


"Apa kamu sudah mencuci baju-baju ku?"


"Sudah!"


Nathan tak tau harus menyuruh Amanda membersihkan apa lagi, karena semua pekerjaan dia sudah bereskan semua dengan cepat.


"Ini bajumu untuk dipakai malam nanti, awas bila kamu gagal dalam menjadi pacar pura-pura ku."


Nathan melemparkan sebuah paper bag yang berisikan gaun untuk Amanda.


Malam pun tiba dan mereka sudah terlihat bersiap-siap untuk pergi ke acara peresmian cabang perusahaan papanya Nayra.


Amanda keluar dari kamarnya dengan mengenakan gaun yang sudah dibelikan oleh Nathan, melihat Amanda mengenakan baju tersebut membuat Nathan pangling karena Amanda terlihat begitu cantik.


"Ayok kita pergi!" ajak Amanda yang sudah siap.


Tapi bukannya menggubris perkataan Amanda, Nathan malam memerhatikan Amanda dari ujung kaki hingga kepala.


"Apa aku terlihat begitu cantik hingga kamu memerhatikan ku sedari tadi?"


Mendengar itu Nathan langsung tersadar.


"Ayok kita pergi!!" ajak Nathan untuk mengalihkan pertanyaan dari Amanda.


"Bagaimana penampilan ku saat ini? Apa terlihat cantik?"


Mereka sekarang berada dalam mobil menuju ke acara pestanya.


"Biasa saja, kamu tidak menarik."


"Apa benar?" Amanda terlihat kecewa karena dia sudah berusaha berdandan cantik agar orang tua Nathan percaya bahwa dia pacarnya Nathan.


"Kenapa raut wajah mu murung seperti itu?"


"Aku takut bila akan mempermalukan mu di depan orang banyak dan orang tuamu nanti, kamu saja mengatakan bahwa diriku tak cantik jadi pasti semua orang akan mengunjing mu karena mempunyai pasangan tak cantik."


"Hanya karena itu?" tanya Nathan.


"Bukan itu saja, berpenampilan cantik begitu penting bila dikalangan kelas atas seperti mu."


"Tadi itu aku hanya bercanda, kamu terlihat cantik malam ini, bahkan kamu terlihat cantik sebelum-sebelumnya," ucap Nathan tulus dari hati paling dalam.


"Aku tau itu hanya bohong, karena kamu tak mau bila aku berubah pikiran untuk tak jadi hadir di acara itu."


"Astaga! Semua wanita sama saja, di bidang cantik dikira bohong, dibilang jelek nanti marah-marah. Dasar kaum hawa!!" gumam Nathan.


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^