My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 48



🍁🍁🍁


Di sisi lain terlihat seseorang duduk di taman rumah sakit itu. Baik terlihat melamun sedari tadi yang memikirkan kedekatan Nayra dengan Andrian.


"Aku sudah duga apa akhir dari sebuah cerita ini, pasti Nayra akan menemukan pendamping hidup yang tepat. Walaupun bukan aku tapi aku merasa bahagia bila Nayra dan Alden bahagia. Mereka pantas mendapatkan itu," gumam Baim.


Walaupun Baim masih berat untuk mengikhlaskan Nayra tapi Baim harus berusaha karena cinta tak bisa dipaksakan. Karena prinsip Baim adalah orang ia cintai harus bahagia walaupun tak bersamanya. Cinta tak harus dapat dimiliki melainkan cinta adalah sebuah pengorbanan.


Di tengah-tengah lamunan dari Baim tiba-tiba saja Baim dikejutkan dengan kedatangan Andrian entah dari arah mana.


"Lagi ngapain sendirian di sini?" tanya Andrian tiba-tiba sudah duduk di samping Baim.


Sontak saja Baim melirik melirik Andrian yang ada di sebelahnya. Ia sedikit kaget karena Baim baru saja memikirkan hubungan Nayra dan Andrian.


"Iseng-iseng aja duduk di sini, sekaligus mau cari udara segar," ucap Baim menjawab pertanyaan Andrian barusan.


"Oh ya tentang tadi aku minta maaf banget telah masuk tanpa mengetuk pintu tadi," ujar Baim kembali mengungkit masalah tadi.


"Santai saja, lagian kita tak melakukan apa-apa, jadi kamu tak usah khawatir seperti itu."


Baim hanya memanggut-manggutkan kepalanya mengerti.


"Aku mau bertanya kepada mu, boleh?" tanya Andrian.


"Silahkan tanya saja! Selagi aku bisa menjawab aku akan menjawabnya."


"Apa kamu suka terhadap Nayra?"


"Hah? Maksud kamu apa?" tanya Baim yang belum mau berkata jujur pada Andrian.


"Aku tau kau menyukai Nayra, dari tatapan dan perilaku mu terhadap Nayra sudah berbeda, jadi siapapun akan mengetahuinya bila kau suka terhadap Nayra."


"Kalau memang benar kenapa? Tapi kamu jangan khawatir dulu. Aku hanya sekedar menyukainya, tapi aku tak akan merebutnya darimu. Karena aku tau Nayra juga mencintai mu bukan menyukai ku."


"Maksud kamu apa?" tanya Andrian yang mengatakan Nayra menyukainya.


"Jujur selama ini aku sering mengajak Nayra menikah denganku tapi dia selalu saja menolaknya dengan begitu banyak alasan."


"Lalu hubungan kau ditolak dan Nayra menyukaiku itu apa?" tanya Andrian masib belum paham.


"Aku tau dari tatapan Nayra bahwa setiap bertemu denganmu dia seperti begitu gelisah. Di satu sisi dia memang masih membencimu karena perlakukan di masa lalumu tapi tak bisa dipungkiri Nayra ada rasa padamu dari awal kalian bertemu."


"Dari mana kau mengetahui tentang masa lalu Nayra? Apakah Nayra sendiri yang memberitahu mu?"


"Tidak! Aku mengetahuinya terlebih dahulu baru Nayra memberitahu ku kebenarannya. Kamu harus menjaga Nayra dengan sebaik-baiknya, aku serahkan semuanya padamu. Dia wanita baik dan wanita tangguh jadi jangan kau sia-siakan kesempatan itu. Kalau tidak aku yang akan mengambil nya darimu," ancam Baim pada Andrian.


"Baiklah! Aku akan berusaha untuk menjaga Nayra serta Alden dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Aku berjanji tak akan mengecewakan Nayra yang kedua kalinya."


"Baguslah kalau gitu, aku jadi bisa tenang melepaskan mereka berdua di tangan mu. Aku percaya kau bisa menepati janjimu walaupun kau pernah menghancurkan hidup Nayra."


"Sebenarnya waktu kejadian itu aku tak sadar apa yang telah aku lakukan, aku masih terpengaruh oleh minuman keras waktu itu sehingga tubuhku tak bisa mengontrol dirinya."


"Aku tau itu, tapi kau tetap bersalah apapun alasannya, sebab bila kau tak mabok waktu itu mungkin kejadian seperti ini tak akan terjadi."


"Iya aku memang mengaku salah, dan dari kesalahan ku ini aku bisa belajar untuk lebih hati-hati dalam melakukan apapun."


Satu Minggu kemudian, Akhirnya setelah lama dirawat di rumah sakit Alden sudah bisa diizinkan pulang. Sekarang ini terlihat Andrian dan Nayra sedang sibuk mengurus kepulangan Alden di rumah sakit. Sedangkan Alden yang sudah terlihat lumayan sehat begitu senang akan segera pulang.


Selama seminggu Andrian lah yang menemani Nayra untuk menjaga Alden. Andrian bahkan rela sering tak bekerja demi menjaga anak satu-satunya. Sedangkan dari kejadian satu Minggu itu Baim tak pernah memunculkan batang hidungnya ke rumah sakit. Ia juga tak pernah mengabari Nayra selama ini.


Nayra kira Baim sekarang masih marah padanya karena kedekatannya dengan Andrian. karena ia tau bahwa Baim menyukainya dan sering mengajaknya menikah tapi ia selalu menolak dengan berbagai macam alasan.


"Apakah semuanya sudah beres? tanya Nayra kepada Andrian.


"Iya, semaunya sudah beres. Tinggal kita pulang saja dari sini," jawab Andrian.


"Yeyeye.... Sekarang pulang," seru Alden begitu bahagia.


Nayra dan Andrian begitu senang melihat anaknya bergembira seperti ini, selama di rumah sakit Alden tak pernah se senang ini.


Andrian malah mengacak-ngacak rambut anaknya itu sangking gemasnya.


"Ih Om! Jangan acak-acak rambut Alden," Alden tak suka bila rambutnya di acak-acak seperti itu.


Alden masih belum mengetahui tentang Andrian adalah papanya. Andrian baik Nayra belum memberitahu Alden tentang itu semua, nanti setelah Alden sehat baru Nayra merencanakan untuk memberitahu Alden bahwa Andrian adalah papanya.


"Sudah-sudah! Lebih baik kita beres-beres kan dulu semua baju dan barang-barang yang ada di sini, biar kita cepet pulang," ujar Nayra.


Mereka pun membereskan semua barang yang akan mereka bawa pulang sekarang. ketika Nayra membereskan baju-baju nya ke dalam koper tiba-tiba saja Andrian datang dari belakang menghampiri Nayra.


"Nay!" panggil Andrian membuat Nayra terkejut.


"Astaga! Saya kira siapa," ujar Nayra sambil menoleh ke arah Andrian.


"Nay! Ada yang ingin aku katakan ke kamu," ujar Andrian.


"Apa yang ingin Bapak sampaikan?" tanya Nayra.


"Tentang masalah Minggu lalu, aku minta maaf. Aku refleks saja melakukan hal itu. Aku tak bermaksud kembali melecehkan mu dengan mencium mu tiba-tiba," ujar Andrian meminta maaf.


Sebenarnya dari kemarin Andrian ingin meminta maaf kepada Nayra atas perlakuannya, tapi ia masih mengumpulkan keberaniannya untuk meminta maaf. Tadi karena Nayra terlihat biasa saja dengan-nya iapun mencoba untuk meminta maaf kepada Nayra.


"Sudahlah Pak! Lupakan semua itu," ujar Nayra dan langsung berlalu pergi dari sana.


Sebanarnya Nayra tak terlalu memikirkan kejadian itu, ia malah malu karena ketika kejadian itu ia malah menikmatinya bukan menolaknya. Jadi tadi ketika Andrian membicarakan masalah itu kembali pipinya menjadi merah merona karena merasa malu.


"Nay tunggu!" panggil Andrian membuat Nayra kembali menoleh ke arah Andrian.


"Ada apa lagi Pak?" tanya Nayra.


"Kenapa pipimu terlihat begitu merah?" tanya Andrian membuat Nayra menjadi tambah malu.


"I-itu... Mungkin ada nyamuk yang menggigit pipiku tadi malam membuat nya terlihat memerah," ujar Nayra mencari alasan yang tak masuk akal.


See you again...


LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^