
🍁🍁🍁
"Aw! sakit sayang," meringis Andrian.
"Maafkan perkataan suami saya, kalau kita ke sini lagi saya akan menghubungi mu," ucap Nayra yang tak enak.
"Ah tidak papa! Saya tau Tuan Andrian sedang cemburu."
"Siapa bilang saya sedang cemburu?" elak Andrian.
"Terlihat dari wajah Tuan yang memerah."
Andrian memegang pipinya yang memerah, dia tidak tau kalau pipinya akan memerah cemburu seperti ini.
"Sudah-sudah! Pesawatnya akan berangkat jadi kita pamit dulu," pamit Nayra kepada Lee Seung.
"Hati-hati di perjalanan Tuan-Nona, semoga selamat sampai tujuan," Lee Seung melambaikan tangan pertanda perpisahan mereka.
Lee Seung mengehela nafasnya dengan kasar, dia merasa dekat dengan Nayra yang memang begitu akrab. Sekarang terasa sepi karena mereka berdua sudah kembali ke negaranya. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, itu yang sering Lee Seung alami selama ini.
Sedangkan mereka berdua sudah berada dalam pesawat. Andrian dari masuk pesawat langsung tertidur karena memang ia masih kurang sehat, dengan setia Nayra menunggu Andrian tertidur di sampingnya.
Karena perjalanan memakan waktu yang cukup lama, Nayra memutuskan ikut tertidur di samping Andrian. Mereka berdua tertidur pulas satu sama lain dengan berdampingan. Setelah satu jam an Andrian tertidur, diapun bangun dan melihat Nayra tertidur pulas di sampingnya.
"Cantik!" gumam Andrian yang melihat Nayra tertidur.
Andrian menyelimuti tubuh Nayra menggunakan selimut yang sempat Nayra selimuti untuk dirinya. Andrian tak henti-hentinya bersyukur tentang apa yang sudah ia miliki sekarang.
Mungkin dia adalah pria berengsek yang Nayra pernah kenal, tapi dia akan berusaha menjadi satu-satunya pria yang akan membahagiakan Nayra sampai akhir hayatnya.
Sambil menunggu Nayra tertidur Andrian membaca buku untuk mengurangi rasa bosannya di dalam pesawat.
Sangking asiknya membaca buku, Andrian sampai tak sadar bahwa Nayra sudah terbangun dari tidurnya.
"Mas sedang apa?" tanya Nayra dengan suara khas bangun tidur.
"Kapan kamu terbangun?"
"Baru tadi."
"Mas suku membaca buku? Dari tadi Mas terlihat serius membacanya," ujar lagi Nayra.
"Hm..." jawab Andrian singkat sambil tetap membaca bukunya.
Karena Nayra dicuekin seperti itu oleh Andrian, iapun memalingkan wajahnya agar tak mengganggu suaminya dengan bukunya itu.
"Apa kamu marah dengan jawaban ku yang singkat?" tanya Andrian yang sudah menutup bukunya.
"Tidak!"
"Lalu kenapa kamu memalingkan wajah cantik mu itu ke arah lain?"
"Nayra tak mau mengganggu Mas membaca."
"Kamu bukan sebuah gangguan untuk ku, kamu sama seperti buku dan waktu, sama-sama berharga bagiku," gombal Andrian membuat Nayra berhasil tersenyum olehnya.
"Apa Nayra berharga seperti waktu?" tanya lagi Nayra kembali memandang Andrian.
"Percuma ada waktu bila tidak ada kamu," ucap Andrian dengan tulus.
Tak terasa sebentar lagi mereka akan sampai di Indonesia setelah beberapa hari meninggalkan negara tercintanya itu.
Setelah sampai mereka turun dari pesawat dan menunggu untuk menggambil koper mereka. Di sisi lain ada sesosok anak kecil yang sudah tak sabar menunggu kedatangan orang tuanya di bandara tersebut.
"Oma! Kapan Mama dan Papa puyang? lama cekali," ujar Alden yang sudah tak sabar menunggu orang tuanya itu.
Tak lama kemudian terlihat Andrian dan Nayra muncul dihadapan Alden dan nyonya Kumala. Mereka berdua lah yang menjemput Andrian dan Nayra dengan diantar sopir.
"Mama___" panggil Alden lalu berlari memeluk mamanya. Ia begitu rindu dengan mamanya saat ini.
"Kenapa Mama tinggal kan Alden cendirian?"
"Maafkan Mama sayang! Mama janji nggak akan tinggakan Alden sendirian lagi," ujar Nayra sambil mencium kedua tangan anaknya yang mungil itu.
"Apakah Papa tidak dipeluk juga nih?" tanya Andrian yang melihat anaknya hanya rindu pada mamanya saja.
"Tidak! Kata Opa, Papa yang bawa Mama pelgi dan nggak mau bawa Alden, Alden nggak cuka Papa," ujar Alden memalingkan wajahnya dari papanya.
"Nggak boleh bilang gitu dong Sayang! Papa kan juga rindu sama Alden," ujar Nayra membujuk Alden yang sedang ngambek dengan Papa nya.
"Sudah biarkan saja, mungkin Alden mood nya kurang baik hari ini," ujar Andrian.
"Kalau gitu kita pulang dulu, sopirnya sudah lama menunggu," ujar nyonya Kumala menghentikan drama itu.
Di sepanjang perjalanan Alden tak henti-hentinya bergelantungan di leher mamanya sampai dia tak mau lepas dengan mamanya itu, bahkan Andrian tak diizinkan terlalu dekat dengan mamanya.
Sesampainya di kediaman keluarga Ghratama, mereka sudah disambut oleh tuan Wijaya dan para pelayan di sana.
"Bagaimana liburan kalian di sana?" tanya tuan Wijaya kepada mereka berdua.
"Sangat berkesan Pah," jawab Andrian.
"Ohya apakah kalian membawakan yang Mama minta?" tanya nyonya Kumala dengan wajah sumringahnya.
"Nayra membelikan Mama peralatan kosmetik dari sana, ini keluarga terbaru dan limited edition," ujar Nayra sambil mengeluarkan oleh-oleh mama mertuanya itu.
"Wah terima kasih Sayang, tapi Mama juga memesan sesuatu ke kalian juga, apa kalian membawanya?" tanya lagi nyonya Kumala.
Nayra lama berpikir apa yang sudah mama mertuanya itu pesan darinya, ia memutar otaknya agar mengingat kembali.
"Memangnya apa yang Mama sudah pesan? Maafkan Nayra yang lupa dengan hal itu," ujar Nayra yang merasa bersalah.
"Apa kamu belum berbadan dua? Itu yang Mama inginkan, setiba di sini kalian membawakan kami Cucu," ujar nyonya Kumala membuat Nayra langsung malu.
"Maaf Mah, Nayra belum ada tanda-tanda untuk itu," ujar Nayra merasa bersalah.
"Tidak papa Sayang, Mama mengerti kok," ucap nyonya Kumala sambil memegang pipi menantunya itu.
Kemudian Nayra membagikan oleh-oleh kepada papa mertuanya itu dan para pembantu di sana yang Nayra tak lupa, dia juga membelikan orang tuanya oleh-oleh juga tapi dia akan ke rumah orang tuanya besok karena sudah malam.
Sedangkan Alden begitu senang mendapatkan begitu banyak mainan tetapi dia tetap belum memaafkan papanya karena telah membawa mamanya pergi begitu lama.
Sedangkan Andrian sudah lebih dulu ke atas untuk membersihkan badannya yang terasa begitu lengket.
"Sekarang kamu mandi lalu setelah itu kalian istirahat saja, pasti perjalanan jauh membuat kalian merasa capek," ucap nyonya Kumala yang mengerti dengan kondisi anak dan menantunya itu.
"Baiklah Mah, Nayra ke atas dulu."
"Alden ikutttt!" teriak Alden yang tak mau ditinggalkan oleh mamanya, ia sudah trauma bila mamanya akan pergi seperti kemarin.
"Baiklah, ayok sayangnya Mama!"
Ketika sampai di kamarnya, Nayra mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Dia tak melihat ada tanda Andrian ada di sana.
"Apa mungkin Mas Andrian di ruang kerjanya? Kayaknya seperti itu," gumam Nayra.
Memang bila Andrian tidak ada di kamar, pasti dia akan ke ruang kerjanya. Bahkan dengan kondisi baru pulang seperti ini dia tetap memikirkan pekerjaannya.
"Mama mau mandi dulu, Alden main sendiri saja di sini," ujar Nayra yang menaruh anaknya di atas tempat tidur lalu dia meninggalkannya ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Nayra selesai dengan ritual mandinya, bahkan sampai dia mengganti baju tidur Andrian tak kunjung balik ke kamar.
"Astaga! Apakah Mas Andrian tidak capek apa pulang langsung kerja," gumam Nayra sembari ingin menuju ruang kerja suaminya.
Ketika ingin ke luar dari kamar, Andrian terlebih dulu sampai ke kamar.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^