
🍁🍁🍁
Andrian hanya tersenyum-senyum ketika Nayra berbohong tadi. Padahal ia tau bahwa Nayra malu karena ia membahas masalah itu, tapi ia sengaja kembali bertanya agar melihat keimutan Nayra bila malu-malu seperti itu.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, terlihat kedua orang tuanya Andrian datang ke sana untuk melihat keadaan Alden serta ikut mengantarkan Alden pulang.
"Mah... Pah..." seru Andrian ketika melihat orang tuanya sudah ada di sana.
Andrian tau akan kedatangan orang tuanya ke sana, karena nyonya Kumala tadi menelpon untuk datang ke rumah sakit.
Sedangkan Nayra begitu terkejut melihat kedatangan orang tua Andrian di sini. Ia takut akan kejadian dulu yang di mana mamanya Andrian marah-marah menyuruh dirinya untuk jauh dengan Andrian.
"Pak, apakah orang tua Bapak datang ke sini untuk menyuruh Bapak pulang?" bisik Nayra di dekat telinga Andrian.
"Hah? Maksud kamu?" tanya Andrian yang belum mengerti.
"Maksud saya apakah saya lagi akan dimarahi oleh Mama Anda agar saya tak lagi dekat dengan Anda."
"Hahaha..." Andrian tertawa pelan ketika mendengarkan perkataan Nayra.
"Kenapa Bapak malah tertawa?" tanya Nayra bingung melihat sikap Andrian yang tiba-tiba tertawa tak jelas.
"Kamu jangan berpikir negatif mulu, Papa dan Mama tujuannya ke sini hanya untuk melihat keadaan cucunya."
"Hah! Jadi Bapak sudah_" tebak Nayra.
"Iya, mereka sudah tau tentang semuanya."
"Tapi_" Nayra takut keluarga Andrian akan mengucilkan anaknya dan dirinya. Sebab nyonya Kumala sudah mengatakan bahwa dirinya tak pantas bersanding dengan anaknya.
"Kamu jangan khawatir! Mereka sudah tau semuanya dan bagaimana sampai bisa seperti itu, dan respon mereka malah banding terbalik dengan apa yang kamu pikirkan sekarang."
"Maksud Bapak?" tanya Nayra.
"Mereka begitu senang bahwa Alden anak kandungku, mereka berdua memang dari dulu mendambakan seseorang cucu jadi ketika mendengarkan kabar ini mereka malah senang bukannya marah atau malu," ujar Andrian menjelaskan.
"Lalu bagaimana tanggapan nyonya Kumala?"
"Mama paling bahagia ketika mendengarkan kabar ini. Dia juga ingin meminta maaf ke kamu karena telah mengatakan tidak-tidak kepadamu."
Mereka begitu asik mengobrol sampai lupa menyapa kedua orang tuanya Andrian. Tapi tuan Wijaya dan nyonya Kumala datang ke sana langsung melihat keadaan cucunya. Ia masih prihatin dengan keadaan cucunya yang baru sembuh dari kecelakaan.
Mereka juga begitu menyesal karena baru tau mempunyai cucu setampan dan seimut Alden. Tapi mereka janji akan menuruti dan memanjakan cucu satu-satunya ini.
"Kakek dan Nenek ini siapa Mah?" seru Alden yang melihat orang tua Andrian mendekatinya.
"Beliau adalah orang tuanya Om Andrian," seru Nayra menanggapi pertanyaan Alden.
"Lalu mengapa mereka ke sini?" tanya ) lagi Alden.
Tapi Nayra tak bisa menjawab pertanyaan anaknya itu. Ia agak canggung untuk berbicara di depan orang tua Andrian.
"Hallo Alden sayang, perkenalkan ini Oma dan Opa," ujar nyonya Kumala memperkenal dirinya.
"Oma, Opa itu apa?" tanya Alden dengan polosnya membuat nyonya Kumala ingin mencubit cucunya yang begitu menggemaskan.
"Oma dan Opa ini adalah orang tuanya Om Andrian, jadi Alden bisa memanggil orang tua Om Andrian dengan sebutan Oma dan Opa," jelas Andrian membuat Alden manggut-manggut mengerti.
Sedangkan Nayra hanya diam saja karena merasa canggung satu ruangan dengan orang tua Andrian. Nayra saja masih canggung dengan Andrian apalagi bersama orang tua Andrian membuatnya begitu tambah canggung.
Tok... tok... tok...
"Maaf menganggu obrolan Bapak, dan Ibu. Saya cuma ingin memberitahu bahwa semua nya sudah beres, jadi pasien sekarang bisa langsung pulang," ujar suster yang tadi mengetuk pintunya.
"Baiklah! Terima kasih Suster atas infonya," ujar Nayra.
Mereka pun sudah selesai membereskan barang-barangnya lalu keluar dari sana.
"Alden sudah bisa jalan?" tanya Nayra kepada anaknya.
"Kaki Alden masih lemas," ujar Alden.
"Kalau gitu Mama gendong ya!" Nayra yang ingin mengendong anaknya yang masih belum bisa berjalan. Tapi Andrian mencegahnya karena ia sendiri yang akan mengendong Alden anaknya.
"Biar aku saja yang mengendong Alden," ujar Andrian mengalihkan posisinya ke arah posisi Nayra.
"Tapi..."
"Sudahlah Nay! Biarkan Ayahnya yang mengendong Alden," ujar nyonya Kumala membuat Nayra langsung meliriknya. Ia begitu kaget dengan pernyataan nyonya Kumala.
Berarti selama ini nyonya Kumala sudah tau bahwa Alden adalah anak Andrian juga.
Setelah mengetahui semua kebenarannya. Andrian langsung memberitahu orang tuanya tentang apa yang sudah terjadi. Bukannya mereka marah atas apa yang terjadi malah mereka begitu senang mendapatkan bahwa Andrian mempunyai anak. Apalagi nyonya Kumala yang begitu sangat senang mendengarkan kabar itu.
Mereka berharap semoga hubungan antara Andrian dan Nayra bisa berlanjut sampai pelaminan. Mereka tak mau cucunya kekurangan kasih sayang gara-gara keegoisan diantara orang tuanya.
"Alden mau digendong sama Om?" tanya Andrian terlebih dahulu.
"Mau Om, Alden ingin digendong oleh Om," ujar Alden begitu bahagia.
Dengan senang hati Andrian mengendong anaknya itu sampai ke dalam mobil.
Di perjalanan keluar rumah sakit Andrian menjadi sorotan semua orang karena mengendong anak kecil. Andrian terlihat seperti Hot Daddy. Dengan ketampanan dan penampilannya serta mengendong anak kecil membuat banyak wanita-wanita di rumah sakit itu memandangnya dengan penuh terpesona.
Sedangkan Nayra yang berada di belakang Andrian sedang membawa barang-barang berupa tas. Nayra terlihat tak suka melihat wanita-wanita itu melirik Andrian dengan perasaan suka. Apalagi banyak yang ia dengar bahwa ingin mempunyai pasangan seperti Andrian.
"Ganteng banget orang itu."
"Pasti dia orang kaya."
"Semoga saja dia jodohku."
"Type laki-laki seperti yang aku cari."
Itu semua celotehan dari orang-orang yang melihat Andrian lewat tadi dan Nayra mendengarkan semua itu membuat kupingnya terasa panas.
"Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku harus cemburu mendengarkan pujian wanita-wanita itu terhadap Pak Andrian. Apakah aku mulai menyukai Pak Andrian?" gumam Nayra.
Tapi ia tetap selalu menyangkal perasaannya itu terhadap Andrian. Ia masih belum menerima bawah hatinya sudah mulai suka terhadap sosok kebaikan Andrian selama ini.
Ketika masih diperjalanan keluar dari rumah sakit itu. Nyonya Kumala mendekati Nayra sampai berada di sampingnya. Nyonya Kumala membisikkan sesuatu terhadap Nayra.
"Maafkan Tente yang sudah bersikap kasar kepada mu waktu itu. Padahal anak Tante lah yang sudah membuatmu hancur seperti ini," ujar Tantenya di dekat Nayra.
Nayra yang mendengar ucapan nyonya Kumala langsung melarikannya.
"Tente tak usah meminta maaf karena Nayra sudah memaafkan Tante jauh sebelum Tante minta maaf. Dan bila saya ada di posisi Tante waktu itu maka saya juga akan melakukan itu untuk menjauhkan anak saya dari wanita yang apa Tante pikirkan tentang saya," ujar Nayra.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^