
🍁🍁🍁
Sedangkan di sisi lain, Nayra langsung berlari memeluk ibunya. Dia sudah tau penyakit Ibunya yang sebenarnya. Dia sudah dikasih tau oleh dokter karena dia begitu curiga dengan obat yang dikasih oleh apotik rumah sakit tadi.
"Kenapa Ibu berbohong dengan Amanda? Kenapa tak pernah menceritakan hal ini sebelumya?"
"Maafkan Ibu. Sayang! Ibu tak mau membuatmu jadi kepikiran."
"Dengan ini membuat Amanda tambah pikiran, kapan penyakit ini ada di tubuh ibu? Kenapa tidak dari dulu memberi tahu Amanda agar bisa cepat diobati, kalau sekarang penyakit ibu sulit untuk disembuhkan, bahkan bisa menyebabkan kematian. Itu kata dokter."
"Ibu sudah tau, jadi untuk permintaan terakhir Ibu, maka Ibu minta kepada mu untuk menikah dengan pacarmu sekarang juga."
"Hah?!"
Amanda bingung dengan perkataan ibunya, bagaimana dia menuruti permintaan konyol itu sedangkan dia sendiri tak mempunyai pasangan saat ini.
"Ibu jangan bicara aneh-aneh dulu, sehatkan saja kondisi Ibu dulu. Dan tentang permintaan Ibu, Amanda tak bisa menuruti kemauan Ibu."
"Ibu mohon Sayang! Ibu rasa, Ibu akan pergi secepatnya dan ingin melihat kalian berdua menikah di hadapan ini hari ini juga."
"Kamu berdua?"
Amanda langsung melirik Nathan, pasti ibunya mengira bahwa Nathan adalah pacarnya.
"Dia bukan pacar Amanda Buk! Dia hanya bos tempat Amanda bekerja, tak mungkin Amanda menikah dengannya."
"Ibu mohon Sayang! turutin pemerintah Ibu yang terkahir kalinya," lirih Ibunya.
"Ibu jangan bicara seperti ini, Amanda tak sanggup bila Ibu meninggalkan Amanda sendirian di dunia ini, apapun akan Amanda lakukan demi keselamatan Ibu."
Amanda bersimpuh sambil menangis di depan Ibunya, dia tak akan sanggup bila perkataan ibunya benar.
"Kamu harus bisa hidup tanpa Ibu, Ibu ingin kamu menikah agar ketika Ibu tidak ada, kamu tak sendirian."
"Tidak bisa Buk! Nathan bukan pacar Amanda, dia hanya bosnya Amanda saja, tak lebih."
"Saya siap menikahi Amanda hari ini, di sini dan di tempat ini."
Sontak keduanya melirik Nathan, Amanda begitu kaget dengan pernyataan Nathan yang tiba-tiba.
"Jangan buat keputusan gegabah! Jangan karena permintaan Ibu ku hingga kamu ingin menikah dengan ku. Aku tak mau itu!!"
"Sekarang apa kamu mementingkan ego mu dibandingkan permintaan Ibumu? Aku tak terpaksa dengan ini semua, jadi hari ini aku akan menikah dengan mu di tempat sini."
"Terima kasih Nak!" lirih Ibunya dengan senyum bahagia tapi tidak dengan Amanda.
Dia tau Nathan menikahinya karena terpaksa, dan pernikahan akan hancur karena tak dilandasi dengan cinta.
Mereka pun mempersiapkan semuanya, menggundang penghulu dan dokter dan para perawat di sana yang menjadi saksi.
Sedangkan mempelai hanya menggenakan pakaian yang mereka pakai tadi tanpa menggantinya sama sekali, hanya saja Amanda menggenakan selendang untuk menutupi kepalanya.
"Apa Mas kawinya sudah siap?" tanya pak penghulu.
Nathan tak mempersiapkan itu, dia bingung harus memberikan calon istrinya ini mas kawin, sedangkan uang di dompetnya tak ada hanya ada kartu saja.
"Apa bisa mas kawinnya dengan cincin ini?"
Nathan menyerahkan sebuah cincin perak yang selalu melingkar di jari tengahnya itu.
"Bisa!"
"Kalau gitu kita mulai saja akadnya."
Nathan pun menjabat tangan penghulunya, lalu mengulangi perkataan penghulunya sebagai ijab Qabul nya.
Sedangkan Amanda mengeluarkan air matanya, karena begitu tak menyangka takdirnya seperti ini. Dia bercita-cita akan menikah dengan orang yang ia cintai, tapi demi permintaan Ibunya dia menikah dengan bosnya sendiri tanpa persiapan apapun.
"Sah!"
Suara para saksi mengatakan sah membuat Amanda mengeluarkan air matanya, dia tak menyangka sudah berganti status menjadi istri orang, bahkan jadi istri bosnya.
Amanda pun meraih tangan suaminya itu untuk menciumnya, ketika Amanda mencium tangannya Nathan reflek kembali mencium jidat Amanda yang baru saja menjadi istrinya itu.
Setelah selesai acara akad nya, pak penghulu itupun pergi dari sana. Sedangkan Amanda langsung menghampiri ibunya.
"Terima kasih ya Nak! Kamu mau menuruti kemauan Ibu, sekarang Ibu bisa tenang meninggalkan mu bersama suamimu di dunia ini."
"Ibu jangan meninggalkan aku! Ibu harus bertahan demi aku Buk!!"
"Ibu titipkan Amanda padamu Nak! Ibu percaya padamu," seru Ibunya kepada Nathan.
Sedangkan Nathan hanya mengganggu kan kepalanya. Dia juga merasa sedih melihat Amanda begitu tak rela bila ditinggalkan oleh Ibunya.
Tak lama kemudian ibunya perlahan memejamkan matanya.
"Ibu___ bangun!" Amanda begitu panik melihat ibunya memejamkan mata seperti itu.
"Ibu hanya butuh istirahat saja!"
Ibunya pun kembali memejamkan matanya setengah Amanda membangunkan nya tadi. Sudah lama mereka menunggu, tapi Ibunya tak sadar-sadar dan bahkan nafasnya terlihat sudah tak ada membuat Amanda begitu panik.
"Kenapa Ibu tak bangun-bangun juga?" tanya Amanda begitu cemas melihat keadaan ibunya.
"Biar aku yang memeriksanya!"
Nathan seorang dokter jadi dia bisa memeriksa keadaan ibu mertuanya itu. Ketika mengecek nafas dan denyut nadi ia tak menemukan ada tanda-tandanya.
"Bagaimana?"
"Ibu sudah tak bernafas, bahkan denyut nadinya tak berfungsi."
Deg!
"Kamu jangan bohong, aku tau Ibuku hanya tidur saja."
Amanda menitikkan air matanya. Ia memukul-mukuli dada Nathan sangking tak terimanya bila ibunya dikatakan sudah tak ada.
"Memang ini sulit tapi kamu harus mengikhlaskan Ibumu!" Nathan memegang kedua tangan Amanda yang sedari tadi memukuli dadanya.
"Kamu bohong! Kamu bohong! Ibuku masih sadar."
Nayra menangis sejadi-jadinya di dada bidang Nathan, dia begitu tak mampu mendengar kenyataan itu. Nathan pun memeluk istrinya untuk menenangkannya.
"Kamu harus ikhlas, beliau sudah tenang di alam sana jadi ikhlaskan dia."
"Kamu tak tau rasanya ditinggalkan orang yang kamu sayangi di dunia ini."
Nathan terdiam, dia memang tak pernah merasakan diposisi Amanda.
"Kenapa Ibu meninggal kan Amanda sendiri di sini? Sekarang tujuan Amanda hidup untuk apa?"
Amanda memeluk jenazah ibunya, dia menangis di sana. Ia harap ini hanyalah mimpi, tapi ketika membuka mata tetap tak ada perubahan.
"Aku tau kamu begitu sedih, tapi kamu harus ikhlas," seru Nathan menenangkan Amanda tapi bukannya tentang malah dia semakin sedih.
"Aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, bahkan sanak saudara pun aku tak punya. Hanya Ibulah keluarga ku tapi sekarang dia meninggal kan ku sendirian."
Amanda kembali menangis.
"Dengar aku sekarang! Kamu adalah istriku, jadi jangan beranggapan kalau kamu sendiri di dunia ini. Ada aku yang akan ada di samping mu."
Nathan memegang kedua lengan Amanda sambil menatap lekat mata Amanda dengan tulus.
"Istri? Pernikahan ini hanya sebuah tipu daya, tak mungkin akan berlanjut. Bahkan aku kira pernikahan tadi hanya bohongan saja."
Mata Amanda terlihat kosong, perkataannya tadi benar-benar kosong. Dia sudah tak bisa berpikir jernih untuk waktu ini.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^