
🍁🍁🍁
"Mas bisa berbalik badan, aku sudah selesai memberikan Nayaka asi."
"Apa dia sudah tertidur?" Andrian mengintip anaknya itu dan matanya sudah benar-benar terpejam.
Sedangkan Nayra langsung menjauhkan anaknya dari suaminya itu, dia tidak mau Andrian kembali menggoda anaknya sampai terbangun.
"Mas jangan ganggu Baby Nayaka dulu, dia harus tidur."
Dengan pelan-pelan Nayra menidurkan anaknya di dalam box bayinya.
"Mas mau ke mana?" tanya Nayra yang melihat suaminya beranjak dari tempat tidur itu sambil membawa satu bantal.
"Seperti biasa, tidur di sofa."
Mendengar itu Nayra menjadi iba dan merasa egois, sudah beberapa hari ini Andrian tertidur di sofa gara-gara dia tak mau satu ranjang dengan suaminya itu.
"Mulai malam ini Mas bisa tidur di tempat tidur."
"Lalu kamu?"
"Kita tidur sama-sama seperti pasangan suami-istri pada umumnya."
"Apa kamu tidak papa tidur denganku?"
"Seharusnya aku yang meminta maaf kepada Mas karena selama ini aku begitu egois."
"Kamu jangan menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita tidur saja."
Mereka berbaring di ranjang itu dengan jarak yang sedikit berjauhan, bukan Andrian yang membuat jarak itu tapi Nayra lah yang masih begitu deg-degan bila tidur berdua dengan suaminya itu.
Andrian mematikan lampu kamar lalu menggantinya dengan lampu tidur. Nayra membelakangi Andrian. Sedangkan Andrian menatap punggung istrinya itu yang lagi membelakangi nya.
"Aku tau kamu belum bisa tidur," suara nafas Nayra membuat Andrian tau Nayra tak bisa tidur saat ini.
"Apa kamu tak nyaman tidur bersama ku? Kalau memang begitu aku akan pindah ke sofa."
Awalnya Nayra tak mau membalikan wajahnya ke hadapan Andrian tapi dia langsung membalik arah untuk mencegah Andrian tidur lagi di sofa.
"Jangan pergi!"
Nayra memegang tangan Andrian agar tak pergi.
"Kenapa? Bukannya kamu tak nyaman tidur bersama ku?"
"A-aku hanya gugup tidur bersama mu, aku merasakan hal yang berbeda dan pernah merasakan hal ini tapi aku begitu sangat lupa kapan itu terjadi."
Nayra lama kelamaan ingin mengeluarkan air matanya. Dia begitu tersiksa dengan lupa ingatan nya ini. Dia ingin sekali mengingat kembali semuanya tapi sedikit pun dari semua kejadian dia tak ingin sama sekali.
"Kamu jangan menangis! Suatu saat nanti kamu akan mengingat semuanya."
"Maafkan aku! Aku sampai saat ini tak bisa menjadi istri yang baik untuk mu."
Andrian dengan pelan-pelan menghapus buliran kristal yang terjatuh di pipi mulus istrinya itu. Dia merapikan rambut Nayra yang menghalangi wajah cantiknya itu.
"Kamu tidur saja, dan jangan memikirkan itu lagi."
Tidak tau kenapa Andrian memberanikan diri untuk memeluk istrinya setelah sekian lama. Bukan seperti biasanya Nayra menolak pelukan suaminya itu ia malah nyaman dan membiarkan saja Andrian memeluknya.
Mendapat responan baik dari Nayra membuat Andrian kembali mengencangkan pelukannya sampai tertidur, ada rasa nyaman yang dirasakan Nayra hingga bisa tertidur pulas kembali.
Hari berikutnya mereka menjalani hari seperti sebelum-sebelumnya. Tapi seiring berjalannya waktu Nayra menyesuaikan diri menjadi istri yang baik untuk Andrian, bahkan dia sekarang jatuh cinta pada suaminya padahal dia belum mengingat apapun saat ini.
"Sudah siap!" Nayra selesai memasangkan dasi pada suaminya, padahal Andrian bisa melakukannya sendiri tapi dia sengaja berpura-pura tidak bisa agar bisa selalu dekat dengan istirnya.
"Cup!" Andrian secara tiba-tiba mencium kening Nayra, bukannya marah Nayra malah balik mencium pipi suaminya itu.
"Cup!" hadiah untuk pagi ini.
"Sekarang kamu berani," goda Andrian sambil memegang pinggang Nayra.
"Apa salahnya memberikan kecupan pada suami sendiri?"
Nayra mendekati dirinya di telinga Andrian lalu membisikkannya sesuatu.
"Aku kembali jatuh cinta padamu, mungkin bila Nayra yang dulu tak kembali maka akan ku gantikan Nayra yang dulu dengan yang baru."
"Tapi aku begitu setia dengan istriku yang dulu, tak ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku," bisik Andrian kembali di telinga Nayra.
Sedangkan Nayra tersenyum mendengar itu, mungkin dia masih belum mengingat apapun tapi dia begitu senang jika Andrian sangat mencintai dirinya yang dulu.
"Aku harap bisa mengalahkan Nayra dulu untuk memenangkan hatimu."
"Coba saja bila kau bisa melakukannya," Andrian kembali mencium pipi istrinya itu lalu pergi.
Nayra memegang pipi yang sudah di cium itu, dia merasakan bahagia bisa terbiasa seperti itu dengan suaminya.
***
Terlihat seorang wanita yang menunggu di lobby sebuah perusahaan untuk menunggu seseorang. Setelah lama menunggu akhirnya orang yang dia tinggu telah datang.
"Akhirnya kau datang juga, aku sanggat lelah menunggu mu."
"Kamu sedang apa di depan perusahaan ku?" tanya Nathan yang melihat wanita malam itu datang ke perusahaannya, untung saja di sana sepi jadi tak ada orang yang melihatnya.
"Aku hanya ingin mengembalikan baju yang telah kau pinjamkan kepada ku, aku tak mau ini menjadi sebuah hutang kedepannya."
Wanita itu menyodorkan sebuah paper bag yang berisikan baju Nathan yang sudah di cuci dan setrika.
"Kenapa kau membawakan ku sampai ke sini? Dan di mana kau tau tentang perusahaan ku?"
"Aku tunggu kau di club' malam tapi kau tak pernah ke sana, dan aku meminta alamat perusahaan mu kepada menegar di sana."
"Apa kau merindukan ku dan ingin seperti malam itu?" goda Nathan.
"Cih! Aku hanya ingin memberikan baju ini saja, selebihnya tak akan lagi. Tapi kalau bisa memberikan ku uang seperti malam itu, aku juga mau bertemu dengan mu."
"Dasar wanita mata duitan."
"Orang bodoh mana yang tak suka dengan uang, bahkan jika memilih antara cinta dan uang, maka akan ku pilih uang."
Seseorang datang dari arah belakang membuat pembicaraan mereka terhenti.
"Sorry! Tadi aku terlambat karena ada urusan lama di rumah," ujar Andrian yang baru datang di perusahaan Nathan.
"It's oke! Aku juga baru sampai di perusahaan."
Mereka sedang janjian bertiga, Nathan, Andrian dan Kelvin datang ke perusahaan Nathan untuk membicarakan kerja sama tiga perusahaan besar itu.
Andrian yang baru menyadari ada wanita bersama Nathan langsung membelakan matanya karena begitu tak asing dengan wanita itu.
"Amanda!" seru Andrian menunjuk ke arah Amanda, sedangkan Amanda hanya tertunduk malu gara-gara kejadian waktu itu.
"Kamu mengenal wanita ini?"
"Dia mantan asisten ku."
"Sedang apa dia di sini?" tanya Andrian.
"Dia hanya mengantarkan bajuku saja."
"Kalau gitu kita masuk saja sambil menunggu Kelvin datang," Andrian sedikit cuek dengan Amanda karena kesalahannya yang fatal membuatnya tak suka dengannya lagi.
Sedangkan Nathan hanya diam saja dan meninggalkan Amanda sendirian di sana.
"Tuan Andrian tunggu!" seru Amanda membuat langkah kaki Andrian terhenti, Nathan pun menghentikan langkah kakinya juga.
"Ada apa?"
"Apa bisa kita berbicara sebentar? Hanya sebentar saja tak lama," seru Amanda memohon.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^