My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 50



🍁🍁🍁


"Kamu bukan wanita seperti itu, kamu wanita yang paling baik dan paling kuat yang Tante temukan. Kamu bisa menanggung semua beban dan cacian selama ini," puji Nyonya Kumala.


"Kalau bukan karena anak saya, mungkin saya tak akan bertahan sampai detik ini. Karena anak saya yang membuat saya bertahan sampai saat ini."


"Kalau begitu apakah kamu mau melihat anak mu bahagia?" tanya nyonya Kumala.


"Tentu saja saya ingin melihat anak saya bahagia."


"Tolong! Menikahlah dengan Andrian. Tante tau kamu masih benci dengan anak Tante, tapi kamu juga pikiran perasaan anakmu yang tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ayah dan merasakan keluarga yang utuh," ujar nyonya Kumala.


Nayra hanya diam saja tanpa ingin mengatakan sesuatu. Ia masih berat untuk memutuskan semua ini. Tapi semua perkataan nyonya Kumala ada benarnya, ia tak boleh egois dengan anaknya sendiri.


Bahkan sampai diparkiran Nayra tak memberi jawaban dari permintaan nyonya Kumala.


"Saya dan Alden bisa pulang mengunakan taksi saja, Pak Andrian, Tante, dan Om bisa pulang terlebih dahulu," ujar Nayra.


Bukannya Nayra ingin mengusir mereka semua. Tapi ia tak enak karena selama ini Andrian begitu banyak membantunya selama Alden sakit. Jadi sekarang ia merasa sungkan bila dapat bantuan dari mereka.


"Biar aku saja yang mengantar kalian berdua," ujar Andrian yang tak mau pulang sebelum mengantarkan Nayra dan anaknya pulang.


"Tapi..."


"Aku tak suka mendegar penolakan!" titah Andrian membuat Nayra tak bisa melakukan apa-apa.


"Kalau gitu kami pamit lebih dulu, Papa dan Mama ada urusan di rumah jadi tak bisa mengantar Alden," ujar tuan Wijaya.


"Tidak pa-pa Om. Saya berterima kasih karena Om mau datang menjenguk anak saya dengan kondisi Om dan Tante yang begitu sibuk."


"Sama-sama. Om dan Tante malah begitu senang bisa melihat cucu kesayangan kami sudah sembuh," ujar nyonya Kumala.


Nayra pun bersalaman kepada kedua orang tuanya Andrian. Ketika bersaliman dengan nyonya Kumala. Nyonya Kumala kembali membisik sesuatu padanya.


"Kamu pikirkan perkataan ku tadi itu. Tante harap kamu mau menikah dengan Andrian," bisik nyonya Kumala tepat ditelinga Nayra.


Sedangkan Nayra hanya diam saja sambil terpaku dengan bisikan nyonya Kumala. Setelah itu mereka pun pergi dari sana.


"Ayok sekarang kamu masuk!" seru Andrian membukakan pintu mobilnya untuk Nayra sambil masih mengendong Alden di tangannya.


"Tapi_" Nayra masih ragu-ragu untuk masuk ke dalam. Rasanya begitu berdebar masuk ke dalam mobil Andrian dengan keadaan seperti ini.


"Ayok masuk! Kasihan Alden kepanasan di luar," ujar Andrian membuat Nayra langsung masuk ke dalam.


"Biar saya saja yang mengendong Alden, Bapak kan akan menyetir mobilnya," seru Nayra.


Andrian pun memberikan Alden pada Nayra. Nayra memangku Alden di pahanya untuk duduk. Sedangkan Andrian masuk ke dalam mobil tepat di bagian kemudi karena ialah yang akan menyetir.


"Kamu sudah siap?" tanya Andrian kepada Nayra. Nayra hanya menganggukkan kepalanya saja.


Andrian pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang karena tak mungkin ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena ada Alden dan Nayra di dalam.


Diperjalanan seperti biasa mereka hanya diam saja. Sedangkan Alden dari tadi sudah tertidur pulas di dalam pangkuan mamanya.


"Jawaban apa Pak?" tanya Nayra.


"Tenang lamaranku itu? Bukannya kamu akan memikirkannya tapi kenapa sampai sekarang belum ada jawabannya."


"Maaf Pak tapi untuk saat ini saya belum memikirkan masalah itu, saya fokus dulu dengan kondisi Alden. Jadi saat ini belum ada jawaban dari saya," jelas Nayra.


Andrian hanya bisa pasrah saja dengan perlakukan Nayra padanya. Ia akan sabar menunggu jawaban dari Nayra. Apapun keputusannya nanti ia akan ikhlas.


"Aku tunggu keputusan mu, apapun keputusan mu nanti aku akan terima tapi bila jawabanmu sama dengan kemarin-kemarin aku juga akan ikhlas tapi aku sepertinya tak bisa mencintai wanita lagi setelah itu. Cukup kamu wanita yang aku kenal terakhir kalinya," ucap Andrian dengan mulut buayanya.


Ucapan ini sering ia lontarkan kepada wanita yang ia incar dulu, tapi untuk sekarang ia memang benar-benar akan melakukan itu demi wanita yang ia cintai.


Nayra langsung melirik Andrian.


"Maksud Bapak apa? Bila saya menolak ajakan Bapak untuk menikah, kenapa Bapak harus menutup hati dengan wanita lain. Bapak juga berhak mendapatkan wanita yang tulus mencintai Bapak," ujar Nayra yang tak suka dengan jawaban Andrian.


"Bagaimana aku bisa kembali mencintai wanita lain sedangkan aku masih mencintaimu sampai kapanpun. Biarkan aku mencintaimu sampai kapanpun dan aku akan fokus membahagiakan Alden anakku," jawab Andrian dengan begitu entengnya.


Nayra menjadi tambah yakin dengan akan ia pilih nantinya. Ia sudah melihat ketulusan dan penyesalan dari Andrian. Mungkin sedikit demi sedikit ia akan menerima Andrian kedepannya.


Ketika lama mengobrol dalam mobil, mereka jadi tak sadar bahwa mereka sampai di depan kontrakan Nayra saat ini.


Ketika mereka keluar dari mobil, ia melihat semua barang-barang Nayra ada di luar kontrakan.


"Astaga! Kenapa semua barang-barangnya ada di luar?" Nayra begitu terkejut melihat kondisi barang-barang nya ada di luar.


Nayra membuka pintu kontraknya tapi tak bisa dibuka sama sekali.


"Ada apa semua ini? Apakah ada maling di kontrakan mu?" tanya Andrian yang juga bingung dengan kondisi barang-barang Nayra yang berserakan di teras kontrakan.


Seseorang ibu-ibu lewat dari sana memberitahu Nayra tentang apa yang sudah terjadi.


"Nayra kamu sudah pulang?" tanya ibu yang lewat tadi.


"Iya Buk, apakah Ibu tau kenapa barang-barang saya ada di sini semua?"


"Saya lihat tadi pagi pemilik kontrakan ini mengeluarkan semua barang ibu ke luar. Katanya kamu sudah nunggak dua bulan serta kontrakan ini akan dijual," cerita ibu itu.


"Baiklah Buk! Terima kasih infonya."


"Kalau gitu saya permisi dulu ya Nay," ibu itupun pergi dari sana melanjutkan perjalanannya.


"Astaga kenapa pemilik kontrakan ini jahat sekali, padahal dia kemarin mengizinkan untuk terlambat membayar kontrakan ini, hiks..." gumam Nayra yang ingin mengeluarkan air matanya. Ia tak tau lagi harus pergi dari mana sekarang. Sedangkan kondisi anaknya sedang masih sakit. Uang pun Nayra tak ada saat ini.


Andrian yang mendengarkan semuanya menjadi prihatin dengan kondisi Nayra saat ini. Ia tak akan tinggal diam melihat kondisi Nayra seperti ini, apalagi dampaknya akan kepada anaknya.


"Kamu jangan khawatir! Aku mempunyai apartemen yang jarang aku tempati, kalau kamu mau kamu bisa pindah ke sana untuk sementara waktu," tawar Andrian.


See you again...


LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^