My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 117



🍁🍁🍁


Nathan merangkul Amanda untuk menrnangi nya agar tak menangis lagi, bahkan Amanda tak sadar bila Nathan sedang merangkulnya.


"Jika kau tak mau cerita, tidak papa itu privasi mu."


Nathan tak akan memaksa Amadan menceritakan masalahnya, mungkin dia tak nyaman bercerita pada dirinya.


"Tidak! Aku harus menceritakannya padamu agar tak menjadi masalah nantinya, terserah kamu mau memecat ku atau tidak aku tak peduli, asalkan kau tau yang sebenernya."


Amanda pun menceritakan semua kejadiannya, dari awal dia masuk ke perusahaan Andrian menjadi asistennya lalu jatuh cinta pada pandangan pertama hingga menjebak Andrian agar datang pada malam itu, dan hingga Amanda dipecat dari perusahaan itu.


"Mengingat itu aku merasa malu dan tak pantas dengan siapa-siapa, dulu aku seperti perebut suami orang dan bahkan tak tau malu berterus-terang di depannya."


Amanda kembali mengeritakan air matanya. Tapi di sisi lain dia begitu lega menceritakan masalahnya kepada Nathan, selama ini dia pendam sendiri masalahnya ini.


"Cinta kepada orang itu sesuatu hal yang wajar, hanya saja cara mencintai mu itu yang salah hingga mengganggu rumah tangga orang lain. Terlepas itu aku salut kamu tak lagi meneruskan niatmu untuk mendapatkan Andrian, bukan seperti Nadia."


"Siapa Nadia?" Amanda memang tidak tau siapa itu Nadia bahkan namanya saja dia baru dengar.


"Kamu tak usah mengetahuinya, asal kamu tau Andrian begitu menyayangi istrinya jadi tak ada peluang untuk wanita lain menyukainya."


"Apa kamu masih menyukai Andrian?" tanya Nathan penasaran.


"Tidak! Perlahan-lahan aku sudah melupakan dan tak lagi menyukainya, mungkin ini lebih baik dari pada menyukai suami orang."


"Syukurlah kalau gitu," Nathan begitu terlihat lega mendengar hal itu, tidak tau kenapa dia begitu senang bila Amanda tak lagi menyukai Andrian.


Beberapa menit kemudian terlihat seorang pasangan suami-istri menghampiri mereka berdua, sontak Amanda langsung menutupi wajahnya agar tak ketahuan oleh mereka.


"Sudah jangan menutup wajah mu seperti itu, dia sudah melihatnya," seru Nathan.


Dengan perlahan-lahan Amanda membuka tangannya yang menutupi wajahnya itu, melihat ada Andrian beserta Nayra langsung cengengesan dengan raut wajah cemas dan takut.


"Kenapa kamu bersembunyi melihat kami?" tanya Nayra membuka pembicaraan.


"Saya malu Nay! Saya tak pantas bertemu kalian berdua setelah apa yang ku lakukan pada kamu dan Andrian."


"Mungkin aku kesal dan marah kepada mu dulu, tapi aku tak dendam padamu. Aku malah bahagia bila memang kamu sudah menemukan kebahagiaan mu sendiri."


Nayra memang benar-benar wanita yang baik, dia sama sekali tak dendam kepada Amanda setelah apa yang dia perbuat pada rumah tangga mereka.


"Terima kasih Nay! Aku sangat menyesal dan malu padamu, aku berusaha memperbaiki diri ku setelah apa yang kamu ucapkan padaku waktu itu, aku sungguh ingin berubah menjadi lebih baik," ucap Amanda dengan begitu sungguh-sungguh.


Nayra pun memeluk Amanda sebagai bentuk damainya, Amanda begitu senang Nayra memeluknya dengan tulus.


"Aku berharap kamu menemukan orang yang tepat menjadi pendamping hidup mu, contohnya seperti Nathan."


Setelah mereka selesai berpelukan, Amanda dan Nathan saling menatap satu sama lain, mereka benar-benar tak tau jika Amanda dan Nathan hanya pacar bohongan.


"Kalau gitu kapan kalian akan menyusul? Tidak baik berpacaran terlalu lama, nanti didahului oleh orang lain," seru Andrian mencairkan suasana.


Amanda langsung menatap Nathan, dia tak tau harus menjawab pertanyaan dari Andrian.


"Secepatnya! Do'akan saja agar secepatnya menyusul kalian."


Amanda mendengar itu langsung terbatuk-batuk, ia langsung menatap Nathan dengan tajam. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu sedangkan mereka hanya pura-pura pacaran.


"Bagus kalau gitu."


Setelah acara berakhir, mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Malam ini Nathan akan tidur di apartemennya karena bila balik lagi ke rumahnya sudah larut malam.


"Apa kamu menginap di sini?" tanya Amanda melihat Nathan ikut masuk ke dalam apartemen.


"Apa kamu mau ingin dibuatkan cemilan atau minuman?"


"Tidak kedua-duanya, aku ingin langsung tidur, kamu tidur saja ini sudah larut malam."


Nathan pun pergi ke kamarnya, begitu juga dengan Amanda menuju ke kamarnya.


Mereka berdua tak bisa tertidur, padahal mata sudah merah dan terasa berat tapi tak bisa di pejamkan.


"Kenapa aku tak bisa tidur? Dan kenapa hatiku merasa cepat berdetak?" gumam Amanda sambil memegang dadanya yang merasa berdebar.


Begitu juga Nathan yang sedari tadi memikirkan Amanda, dia tak tau kenapa pikirnya di penuhi wajah Amanda hingga rasa ngantuk nya hilang seketika.


"Kenapa hati ini terasa berdebar mengingat wanita itu? Apa sepesialnya dia hingga aku merasa tertarik dengannya," gerutu Nathan yang tak tau bagaimana hatinya saat ini.


Mereka berdua bersama-sama berbalik badan satu sama lain, jika bukan tembok yang menghalangi kamar mereka mungkin sekarang dia bisa saling tatap menatap.


Tak lama kemudian mereka bisa terlelap setelah beberapa menit kemudian.


Tapi tidak dengan di kediaman Andrian, dia tak bisa tertidur dengan baby Nayaka yang begitu rewel malam ini. Bahkan Nayra sudah memberikan Asi pada anaknya tapi sama sekali tak membuat baby mereka berhenti menangis.


"Dia kenapa Sayang? Kenapa dia dari tadi tak berhenti menangis?" Andrian begitu cemas melihat kondisi anaknya yang tak henti-hentinya menangis.


"Bayi memang sering seperti ini, jadi kamu tak usah khawatir."


Nayra menenangkan suaminya agar tak cemas dengan kondisi baby Nayaka.


"Bagaimana kamu bisa tau? Atau kita bawa dia ke rumah sakit saja?"


"Kamu nggak usah lebay deh Mas! Ini hanya menangis biasa saja, dulu Alden juga sering begini waktu masih bayi."


"Maafkan aku Sayang! Kamu susah mengurus Alden sendirian waktu kecil, aku malah tidak ada di samping mu waktu dulu."


"Aku tidak papa! Yang terpenting sekarang Mas ada di samping ku ketika mengurus anak ke-dua kita, itu sudah cukup bagiku. Lebih baik Mas tidur, ini sudah larut malam."


"Mana mungkin aku meninggalkan mu sendirian untuk mengurus Baby kita, aku akan menemani mu sampai dia tertidur."


Karena Andrian tak mau tidur, Nayra biarkan saja Andrian menemaninya malam ini untuk mengurus anak mereka.


"Biar aku yang menggendong Nayaka, kamu bisa duduk dulu. Pasti kamu sudah capek."


Karena Nayra merasa capek juga, iapun memberikan baby Nayaka ke gendongan Andrian. Tapi tak lama kemudian baby Nayaka menangis ketika berada di gendongan papanya.


"Jangan nangis dong sayang! Mama kamu capek mau istirahat dulu."


Bukannya berhenti menangis bayinya tambah kencang menangis, dia tau bila papanya sedang menegurnya saat ini.


"Biar aku saja yang mengendongnya."


"Kamu istirahat saja, biar aku yang mengendongnya."


"Mas lihat kan Baby Nayaka menangis di gedong Mas, jadi biar Nayra saja yang mengendongnya."


Nayra kembali mengambil baby Nayaka dari gendongan suaminya, tak lama dia mengendong anaknya, bayinya pun bisa tertidur pulas.


Kemudian Nayra menaruh anaknya di dalam box. Ketika bersiap tidur Nayra melihat Andrian sudah tertidur pulas dengan tubuh yang belum diselimutkan.


"Dasar Bayi besar!" gumam Nayra sambil menyelimuti tubuh suaminya itu, lalu tidur di samping Andrian.


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^