My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 93



🍁🍁🍁


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, Nona!" pamit Tiara pergi meninggalkan ruangan itu.


Nayra memandang lekat punggung Tiara yang sudah keluar dari. Dia tersenyum lalu menghela nafasnya dengan kasar.


"Akhirnya," gumam Nayra.


"Kamu kenapa?"


"Tidak papa! Hanya saja Nayra begitu senang dengan kabar pernikahan Mbak Tiara dengan Baim.


"Baim? Tiara menikah dengan Baim?" tanya Andrian yang dianggukan oleh Nayra.


"Bagus dong kalau gitu. Apakah kamu masih ada rasa dengan Baim itu?"


"Mas!!! Mana mungkin aku ada rasa padanya sedangkan di hatiku hanya ada kamu," ucap Nayra.


"Iya-iya! Aku hanya mengetes kamu saja. Siapa tau kan kamu masih ada rasa denganya, secara kamu dulu begitu dekat dengannya."


"Nayra mengganggap Baim sebagai sahabat sekaligus keluarga."


***


Delapan Bulan Kemudian.


"Mas Andrian___" suara menggema di penjuru rumah memanggil nama suaminya itu yang masih sedang asik bermain game bersama anaknya.


"Terus-terus!! Tembak dia Alden!" ucap Andrian, sangking asiknya bermain game dia tak mendengar panggilan istrinya.


"Bantu Alden Pah! Alden mau mati nih," ucap Alden.


"Tunggu sebentar!"


Mereka terlihat begitu sibuk bermain. Mentang-mentang hari Minggu mereka bermalas-malasan dan hanya bermain game online saja sepanjang hari membuat Nayra darah tinggi dengan kelakukan dua bocah itu.


Semakin lama Andrian begitu manja seperti anak kecil kepada Nayra. Bahkan Andrian yang Nayra kenal waktu pertama kali bertemu, hilang sudah ditubuh Andrian saat ini.


"Ada apa Nona teriak-teriak, apakah ada sesuatu yang Nona butuhkan?" tanya bik Lastri yang sigap untuk membantu apapun keperluan majikannya itu.


Dari delapan bulan yang lalu mereka sudah memisahkan diri dari mertuanya itu. Mereka mempunyai rumah sendiri dan mengurus apapun sediri tanpa ikut campur tangan mertuanya dan orang tuanya. Dan mereka mendukung kemauan Andrian dan Nayra yang ingin berpisah rumah.


"Apakah Bibik melihat Mas Andrian?" tanya Nayra.


"Tuan Andrian ada di lantai bawah, Tuan sedang bermain game dengan Tuan muda."


"Benar-benar Mas Andrian! dari semalam dia tak henti-hentinya bermain game," gerutu Nayra dengan nada kecil tapi bisa di dengar oleh Nayra.


Nayra pun turun ke bawah untuk menghampiri suami dan anaknya.


"Bagus ya main terus dari tadi malam, padahal janji main hanya sebentar," tiba-tiba suara Nayra menggema dalam ruangan itu sambil melipat kedua tangannya di atas perutnya yang sudah membesar.


"Alden! Berhenti main sekarang, dari tadi kamu sudah banyak bermain game online," seru Nayra.


"Tapi Mah! Alden mau main lagi, Pah bujuk Mama buat kasih Alden main lagi," rengek Alden kepada papanya. Karena Alden takut dengan mamanya yang agak sedikit galak.


"Sayang! Biarkan Alden bermain sebentar, lagian ini hari libur," rayu Andrian agar Nayra mau memberikan anaknya bermain game online.


"Tidak! Dan Mas juga tidak boleh main lagi, dari tadi malam Mas tak berhenti bermain game," bukannya berhasil dengan rayuannya malah dia kena omel untuk tak bermain game lagi.


"Sayang/Mama___" rengek mereka berdua bergelantungan memegang tangan Nayra agar mereka dizinkan bermain lagi.


"Tidak-tidak! Mama tak akan memberikan mu bermain lagi, sebentar lagi kamu mau masuk SD jadi jangan terlalu bermain game, lebih baik Alden belajar untuk besok daftar sekolah. Dan Mas juga jangan terlalu sering bermain game nanti Alden ingin bermain game lagi," nasehat Nayra.


"Gampang Alden masuk SD, ada Papa yang banyak uang baut masukin Alden jadi Alden nggak usah belajar lagi."


Alden begitu bangganya mengatakan hal seperti itu, karena dia tau papanya adalah orang kaya jadi dia bisa memasukkannya sekolah dengan mudah.


"Tidak ada sogok-menyogok dengan uang, Mama tak suka dengan hal seperti itu."


"Memang benar kata pepatah buah tidak jauh jatuh dari pohonnya," gumam Andrian dalam hati.


"Lebih baik kita ke ruang makan untuk sarapan sama-sama."


Mereka pun bertiga menuju ruang makan untuk sarapan pagi ini. Di meja makan sudah tersedia makanan yang disajikan oleh Bibik karena selama masa kehamilan Nayra, Andrian tak mengizinkan Nayra terlalu melakukan pekerjaan berat bahkan memasak pun Andrian tak mengizinkannya.


Ketika mereka melahap makanannya dengan begitu nikmat, malah Nayra ingin muntah ketika makanan masuk ke dalam perutnya.


"Huek___" Nayra menuju wastafel untuk memuntahkan semua isi perutnya.


Andrian pun dengan sigap membantu Nayra untuk mengeluarkan cairan itu dari dalam perutnya dengan memijat-mijat tengkuk Nayra.


"Are you oke baby?"


"Nayra rasanya ingin muntah ketika memakan makanannya."


"Maafkan saya Nona, gara-gara masakan saya Nona jadi seperti ini," ucap bik Lastri yang memang membuat sarapan pagi ini.


"Tidak Bik! Ini mungkin pembawaan bayi membuat Nayra seperti ini."


Nayra sering seperti ini akhir-akhir ini. Padahal dia sudah hamil tua tapi tetap saja merasakan hal seperti ini dari awal kehamilan.


"Apakah aku harus menelpon dokter untuk memeriksa keadaan mu?"


"Tidak perlu, Nayra hanya butuh istirahat saja."


Andrian pun mengantarkan Nayra ke dalam kamar untuk beristirahat, sedangkan Alden tetap melanjutkan sarapannya dengan ditemani bibik.


"Kamu belum sarapan pagi ini, Apakah kamu mau ku buatkan sesuatu?"


"Nayra ingin makan rujak tapi rujak yang dipinggir jalan itu."


"Rujak sepagi ini? Tidak-tidak aku tak akan menuruti permintaan mu. Bagaimana kalau kamu sakit perut nanti? Sedangkan kamu selesai muntah yang isi di dalam perutmu pasti kosong."


"Tapi Nayra maunya itu, kalau Mas nggak turutin Nayra, Nayra nggak akan makan."


"Ayolah sayang! Kasihan bayi mu nanti," Andrian membujuk Nayra agar menghentikan kemauan konyolnya itu.


"Lebih kasihan bayi ini tak dituruti, Mas mau anaknya nanti ileran kalau udah gede gara-gara Papa nya tak menuruti kemauan mamanya?" gretak Nayra membuat Andrian menelan ludahnya, ia tak mau anaknya nanti ileran.


"Oke-oke! Aku akan menyuruh bik Lastri membelikan mu rujak."


"Tidak! Mas sendiri yang pergi membelikan Nayra rujak."


Terpaksa Andrian menuruti kemauan Nayra lalu membelikannya rujak. Setelah menyusuri jalan akhirnya Andrian menemukan penjual rujak. Setelah mendapatkannya Andrian langsung pulang dan membawakan kemauan istrinya itu.


"Ini rujaknya!" Andrian memberi Nayra rujak itu.


"Wah terlihat enak sekali," rujaknya terlihat menggoda di mata Nayra sampai tak sabar untuk melahapnya.


"Jangan banyak-banyak makannya nanti kamu sakit perut," peringat Andrian.


Tapi Nayra malah menghiraukan peringatan Andrian lalu memakan semuanya dengan begitu lahap. Tak lama kemudian semua rujaknya habis hingga bumbu-bumbunya tak tersisa sama sekali.


"Ini ngidam apa doyan?" tanya Andrian yang melihat Nayra menghabiskan semuanya tanpa tersisa.


"Dua-duanya hehehe___" ucap Nayra dengan cengengesan.


Setelah drama ngidam itu. Mereka pun menghabiskan waktu libur mereka dengan bermain dan berkumpul di rumah. Selama kehamilan Nayra, Andrian tak pernah mengizinkan Nayra terlalu berpergian.


Andrian begitu terlalu takut bila Nayra kenapa-napa, karena dulu dia tak pernah merasakan seperti ini ketika masa kehamilan anak pertamanya.


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^