My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
Part 55



"Papa janji kalau Alden nggak ikut Papa belikan mobil-mobilan dan robot-robot untuk Alden sepulang dari sini, dan setelah Alden sembuh nanti Papa janji akan mengajak Alden jalan-jalan sepuasnya," ujar Andrian membujuk anaknya itu.


"Tapi Papa janjikan dengan ucapan Papa tadi?" tanya Alden memastikan.


"Iya, Papa janji."


Akhirnya mereka berdua pun bisa mengakali Alden agar tak ikut dengan mereka. Sedangkan Alden di apartemen bersama Bik Lastri.


Mereka berdua sudah ada di mobil, tinggal Andrian menjalankan mobilnya ke butik yang mamanya sudah booking dari tadi malam.


"Siapa yang sudah memberitahu Alden tentang aku adalah Papanya?" tanya Andrian sembari membuka obrolan di dalam mobil.


"S-saya Mas, maaf kalau Mas tak suka bila saya memberitahukan Alden sebenarnya," ujar Nayra.


"Kamu jangan merasa bersalah seperti itu, aku malah begitu senang bahwa kamu sudah mengetahui Alden tentang kebenarannya, berarti kamu sudah tak lagi membenciku," ujar Andrian sambil fokus menyetir mobilnya.


"Kapan saya membenci Mas?" tanya Nayra.


"Lalu apa maksud mu selama ini sering tak suka dengan ku dan bertingkat seolah-olah aku adalah pria keji," ujar Andrian sambil melirik sedikit ke arah Nayra lalu kembali fokus menyetir.


"Sudahlah! Lupakan itu, lebih baik Mas fokus saja menyetir," Nayra malas berargumen dengan Andrian. Bila meladeni setiap perkataan Andrian pasti akan panjang nantinya.


Nayra pun hanya mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela sedangkan Andrian kembali diam dan menyetir mobilnya dengan fokus. Sesekali ia melirik ke arah Nayra.


Tak lama kemudian sampailah mereka di butik pesanan mamanya itu. Ketika mereka berdua keluar dari dalam mobil, terlihat banyak pelayan serta manager nya yang sudah menunggu di depan sana.


"Selamat datang Tuan Andrian dan Nyonya," ujar manager itu sambil membungkukkan tubuhnya, begitu juga dengan para pelayan yang ikut membukakan badannya.


Nayra yang diperlakukan itu agak sedikit risih, karena ini pertama kalinya mendapatkan perlakuan seperti ini oleh orang-orang.


"Ayok Tuan dan Nyonya saya antarkan Anda memilih gaun pernikahan," ucap manager itu sambil mempersilahkan mereka berdua masuk untuk memilih-milih pakaian.


Terlihat di dalam butik itu begitu banyak pakaian yang berjejer rapi, terlihat begitu mewah dan elegan. Di tambah lagi dengan disain butiknya yang ala-ala American cllasik membuat padunya terkesan begitu mewah dan elegan.


"Pelayanan!" panggil manager itu memanggil para pelayan yang sedang berkumpul itu. Mereka yang dipanggil langsung menghadap bosnya.


"Iya Tuan, ada apa?" tanya mereka dengan serempak.


"Kalian bawa Nyonya ini untuk memilih gaun-gaun yang terbaik di butik ini."


"Baik Tuan!" ujar mereka sambil tunduk hormat.


"Ayok Nyonya kami perlihatkan gaun yang paling tebriak di butik ini," ajak pelayan itu.


Nayra pun mengikuti langkah arah pelayanan itu mengajaknya. Sesampai di tempat gaun-gaun yang berjejer Nayra memilih-milih gaun yang ia sukai, tapi ketika menemukan gaun yang cocok menurutnya ia malah terkejut dengan harganya yang begitu mahal.


"Astaga! Kenapa baju modelan seperti ini harganya begitu mahal, apa tidak salah harganya 67 juta dengan modelan biasa seperti ini," gerutu Nayra dalam hatinya.


"Ada apa Nyonya? Apakah ini yang ada mau?" tanya salah satu pelayan itu.


"Tidak! Tidak! saya tak suka dengan gaun ini," ujar Nayra sambil menaruh kembali gaun itu.


Padahal Nayra suka dengan gaun itu tapi harganya yang membuatnya tak menyukainya.


Sedangkan Nayra hanya ikut saja ke mana ia diajak oleh para pelayan itu.


"Ini Nyonya, gaun keluaran terbaru," sambil menunjukkan salah satu gaun yang begitu mewat tapi terlihat begitu seksi seperti kekurangan bahan di mata Nayra.


"Apakah tidak ada gaun yang lebih baik dari itu? Gaunya terlihat terbuka seperti tak ada kain lagi untuk menambahkanya di gaun itu," seru Nayra.


Para pelayan itupun menahan tawanya mendegar ucapan Nayra. Baru kali ini ia mendengar ucapan calon istri CEO kata yang tak suka pakaian yang seksi.


"Tapi ini gaun limited edition, dan banyak orang yang mengincar gaun ini, apalagi bila Nyonya yang memakainya pasti Tuan muda Andrian akan terpesona dengan tubuhw Anda yang terlihat begitu seksi," ujar pelayanan itu.


Sedangkan Nayra sudah membayangkan bagaimana ia memakai gaun kekuarangan bahan itu, pasti ia terlihat seperti wanita murahan yang menggoda laki-laki hidubg belang. Bahkan membayangkannya saja Nayra sudah merasa jijik sampai menggeleng-gelengakan kepalanya untuk tak lagi mengingatnya.


"Tidak! Tidak! Apakah ada gaun yang lebih tertutup dan tak terlalu mencolok seperti gaul itu," sambil menujuk gaun yang dipegang oleh pelayan itu.


"Apakah ini gaun yang Anda maksud?" ujar slaha satu pelayan itu yang kembali mengambilkan gaun yang sesuai selera Nayra.


Melihat gaun itu Nayra langsung jatuh cinta melihatnya. Ia langsung tertarik dengan gaun yang sedikit tertutup dan terlihat elegan walaupun model gaunyaw simpel.


"Apa boleh saya lihat gaun itu?" tanya Nayra menujuk gaun yang baru diperlihatkan oleh pelayan itu.


"Silahkan Nyonya! Bahkan Anda bisa mencobanya juga," ujar pelayan itu sambil memberikan Nayra gaun yang ia pegang itu.


Ketika melihat-lihat gaun itu Nayra tak sengaja melihat harganya yang begitu sangat fantastis, bahkan lebih mahal dari gaun yang tadi ia lihat. Harganya 81 juta membuat Nayra langsung melototkan harganya.


"Saya tak suka gaun ini juga," ujar Nayra yang tak menyukai harga gaunya.


Ketika ingin menaruhnya terlibat dahulu Andrian datang untuk melihat gaun yang dipegang oleh Nayra tadi.


"Gaun ini terlihat sangat cocok denganmu, jadi kamu ambil saja gaun ini," ujar Andrian yang juga suka dengan bentuk gaun itu.


"Tapi..." ucapan Nayra dipotong oleh Andrian.


"Saya ambil gaun yang ini, tolong bungkus gaun ini, dan ini kartu kredit saya," Andrian menyodorkan black care yang ia punya, semua pelayan itu langsung membulatkan matanya melihat kartu yang didambakan oelh semua orang.


Siapa yang tak kaget melihat black care, karena sedikit orang yang mempunyai kartu seperti itum hanya orang-orang kaya raya yang bisa menggunakan kartu itu.


"Baik Tuan!" salah satu pelayan itu mengambil kartunya sambil bergemetar, ini baru pertama kalinya ia memegang kartu seperti itu.


Setelah semuanya selesai mereka pun pergi dari butik itu dan menuju perjalanan ke toko perhiasan.


"Mas! Kenapa kamu membeli gaun semahal itu?" tanya Nayra yang memulai pembicaraan di dalam mobil.


"Memangnya kenapa?" tanya Andrian dengan begitu santainya.


"Kamu tau nggak harganya 81 juga, dan tanpa ragu-ragu kamu membelinya. Apa tidak sayang membuang uang hanya karena gaun itu."


See you again...


LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^